Terpikat Dengan Keteladanan Umar Bin Khattab, Wanita Ini Pun Menyatakan Keislamannya




Umur yang telah lanjut bukan menjadi penentu kedewasaan seseorang untuk mengenal kebenaran islam. Begitu juga yang dialami sosok Luzie Megawati yang sejak kecil mulai mendapatkan hidayah, meski hanya berupa sebuah tanda tanya.

Terpikat Dengan Keteladanan Umar Bin Khattab, Wanita Ini Pun Menyatakan Keislamannya

Saat kecil, Mualaf asal Bandar Lampung ini mengaku pertama kali merasa kaget melihat sebuah tulisan yang terpampang di sebuah toko buku dan alat-alat sekolah. Tulisan “Tiada Tuhan Selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala” itu ia anggap cukup aneh mengingat dirinya sudah diajarkan untuk mempercayai bahwa Tuhan Maha Esa dan mempertanyakan mengapa ada tulisan yang menjelaskan ketuhanan seperti itu.

Ketika itu Luzie masih duduk di bangku kelas 5 SD dan merupakan keturunan campuran dari orangtua Tionghoa Jawa. Tak heran jika dalam beragama, Luzie pun kerap ikut dalam berbagai kepercayaan, meski agama aslinya adalah katolik.

“Tapi katoliknya tidak fanatik karena bercampur dengan tradisi keluarga. Saya ke gereja, ke kelenteng, ke vihara dan juga terbiasa melihat tradisi Jawa kejawen seperti bakar kemenyan dari pihak nenek,” ucapnya sebagaimana dikutip dari Republika.

Setiap kali melewati toko tersebut kembali, Luzie pun semakin penasaran dan mencoba masuk ke dalamnya. Di sana ia menemukan berbagai buku-buku islami dan yang pertama kali ia baca adalah 30 Kisah Teladan.

Yang paling disukai oleh Luzie adalah kisah tentang Khalifah Umar bin Khattab karena mau memanggul sekarung gandum setelah melihat ada salah seorang rakyatnya yang kelaparan. Kisah itu pun hingga kini tetap menyentuh hatinya dan menjadi inspirasi untuk berbagi dengan sesama.

Selain buku tersebut, Luzie juga memmbaca buku karya Michael H Hart yang berjudul Seratus Tokoh dimana yang menempati urutan pertama adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Yang ada dalam kepala saya saat itu sederhana, kalau sahabatnya saja begitu, bagaimana nabinya? Hingga semua itulah yang menggenapkan ketertarikan saya pada Islam.” tuturnya.

Meski demikian, mualaf yang disapa Anis ini mengaku tidak langsung serius dalam mempelajari islam. Ia pun tetap bertingkah layaknya anak seusianya yang tidak terlalu mementingkan agama.

Setelah menginjak usia SMA, Anis pun memilih bersekolah di Bandung bersama dengan sepupunya. Keinginan tersebut didasari karena ingin bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang cukup bergengsi di Kota Kembang tersebut.

Saat menginjak bangku kelas 3 SMA, Anis kemudian mengalami sebuah mimpi yang cukup aneh yakni seakan-akan tengah membaca sebuah ayat Al Qur’an.

“Seperti bunyi orang mengaji, yang saya tidak tahu persis apakah itu. Tiba-tiba sekeliling saya menjadi terang sekali. Tidak ada kesan istimewa dari mimpi itu karena rasanya seperti orang yang ketindihan biasa,” lanjutnya.

Setelah terbangun dan berangkat sekolah, Anis lantas mengutarakan kepada salah seorang temannya yang muslim. Namun yang pertama kali diucapkannya justru keinginan untuk masuk islam. Meski mendapatkan respon tidak percaya dan disangka gila, namun temannya tetap memberikan jalan masuk islam yakni memilih antara masuk islam melalui pengajian seorang ustad atau di masjid Salman ITB.

Anis kemudian memilih untuk menyatakan keislamannya di Masjid Salman ITB tepat pada tanggal 16 April 1990 atau 20 Ramadhan 1410 H. Dengan disaksikan oleh pengurus masjid, teman sekolah dan salah seorang teman dari kampung halamannya, Anis pun mantap mengucapkan kalimat syahadat.

“Semua terjadi begitu saja diluar kendali saya. Setelah pengucapan ikrar, dibacakan doa untuk keselamatan dan kemampuan saya menjalani hidup sebagai warga baru dari sebuah agama,” kenangnya.

Ia kemudian tersadar bahwa akan ada rintangan yang cukup besar dengan hijrahnya menuju islam. Dan benar saja orangtuanya di Bandar Lampung marah besar setelah mendapat info dari orang lain. Anis pun dicap sebagai anak durhaka dan tidak menjadi bagian dari keluarga itu lagi.

Tak hanya itu saja, Anis juga tidak mendapatkan kucuran dana kost di Bandung selama 5 tahun. Namun ia tetap berusaha tegar dan menunjukkan bahwa pilihannya sudah benar, meski harus kehilangan semua fasilitas yang ia dahulu nikmati.

Memang dalam pemikiran orangtuanya, islam merupakan agama yang gemar dengan kekerasan dan senang menikah. Namun setelah Anis jalani, ternyata islam mengajarkan banyak kebaikan dan mengajak manusia untuk berakhlak mulia.

Kisahnya dalam menjalani ajaran islam pun tak kalah unik karena ia harus banyak belajar dan seringkali mengalami kesalahan.

“Awalnya canggung juga karena banyak yang salah dalam bacaan shalat. Bahkan pernah tertidur dan mengantuk saat shalat. Juga basah kuyup saat wudhu,” ungkapnya.

Yang lebih berkesan adalah ketika memutuskan untuk berhijab yang saat itu menuai kecaman dari orangtuanya yang awalnya sudah merelakan anaknya menjadi muslim.

“Karena tanpa jilbab pun sejak kecil kamu diajarkan sopan santun dalam berpakaian,” ucapnya menirukan sang ibu.

Kini Anis telah menikah dan dikaruniai anak-anak yang akan menjadi penerus generasinya untuk menebarkan kebaikan islam kepada anggota keluarganya yang lain.

Baca Juga: