Petugas Haji Indonesia, Tolong Baca Ini

Bahwa Pemerintah Indonesia menempatkan para petugas haji di sekitar Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekah, telah kubaca beritanya sejak aku masih berada di Tanah Air, sebelum keberangkatan kami (aku dan suami) ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.

Seperti apa atribut yang mereka gunakan (rompi hitam bertuliskan ‘petugas haji Indonesia’ di punggung), juga telah kudapatkan informasinya.

Di hari kedua kami berada di Madinah, saat itulah aku pertama kali melihat keberadaan mereka. Di tempat yang sebelumnya aku tak tahu bahwa mereka ada.

Kupikir tadinya mereka ditempatkan di bagian luar Masjid Nabawi, tapi kutemukan mereka di sekitar Raudhah, area yang terletak di antara rumah Rasulullah, Nabi Muhammad saw, dengan mimbarnya, di bagian Masjid Nabawi yang asli yang dibangun oleh Rasulullah. baca: Ukuran Rumah Nabi

roudhoh
menunggu antrian di roudhoh


Area Raudhah yang kini ditandai dengan karpet berwarna hijau itu tak pernah sepi pengunjung. Banyak jamaah yang berkunjung ke masjid Nabawi juga ingin berkunjung ke sini, menyampaikan salam bagi Rasulullah dan para sahabatnya, serta shalat dan berdoa di situ.

Sebab Raudhah adalah tempat di mana doa-doa yg dilantunkan di sana dijanjikan akan terkabul.

Kulihat untuk pertama kalinya petugas haji tersebut saat kami mengantri menjelang masuk ke Raudhah.

Jadwal masuk ke Raudhah biasanya dibuat berdasarkan pengelompokan per negara. Kami sedang mengantri dengan banyak jamaah haji Indonesia lain ketika itu saat kulihat seseorang berompi hitam dengan tulisan ‘petugas haji Indonesia’ memberikan keterangan pada sekelompok orang yang duduk tak jauh dari tempatnya duduk.

Inti pesan yang diberikan adalah agar para jamaah menjaga barang bawaannya masing-masing. Sering terjadi, katanya, jamaah menaruh tasnya di lantai, di samping atau depannya, dan tas itu raib diambil orang saat pemiliknya sedang bersujud shalat dan berdoa.

Keterangan itu sejalan dengan apa yang pernah kubaca di sebuah artikel. Maka aku sendiri membawa tas bertali panjang yang kuselempangkan menyilang di badan dan posisi tas itu tetap begitu saat shalat, tak kuletakkan di lantai.

Lalu, giliran kami untuk masuk tiba. Alhamdulillah, rejeki kami bagus dan kemudahan menghampiri kami. Kami tak mengantri lama dan..mendapat tempat lapang persis di depan mimbar di Raudhah.

Kuperhatikan teman serombonganku rata-rata mendapat tempat cukup lapang untuk bisa bersujud, artinya, bisa melaksanakan shalat. Sebab adakalanya tempat itu begitu sempit sehingga orang hanya bisa berdiri berdoa, tak bisa shalat sebab tak ada ruang cukup untuk bersujud.

Kusyukuri keadaan itu.

Sebab sejak awal, kuniatkan untuk tak memaksakan diri. Jika kondisi tak memungkinkan, aku bahkan sudah ikhlas jika tak bisa masuk Raudhah sama sekali.

Sebab saat melaksanakan umrah saja, kulihat kondisi kepadatan Raudhah. Apalagi musim haji begini ketika jutaan orang bersamaan tumplek-blek berada di Masjid Nabawi, pikirku.

Tapi begitulah. Rejeki memang tidak kemana. Ketika hati justru sudah dipersiapkan untuk gagal memasuki Raudhah atau bisa masuk tapi mengantri lamaaaaaaa sekali atau juga hanya bisa melintas cepat membaca doa singkat di sana tanpa sempat shalat, ternyata bukan itu yang terjadi.

Aku bahkan baru membaca sedikit buku doa dan dzikir yang kubawa dan kubaca saat mengantri, saat kami diijinkan masuk. Tampak di dalam Raudhah penuh padat, di belakang kami di luar tampak rombongan dari negara lain yang terkenal dengan fisik yang tinggi besar dan kekar serta konon tidak sabaran, sedang mengantri.

Konon, tidak sabar itu. Sebab walau sering kudengar ceritanya, tapi aku sendiri belum pernah menemui hal serupa itu. Sejak di airport, maupun di masjid, sikap mereka yang terlihat olehku malah baik- baik saja.

Dan apa yang menjadi kehandakNya terjadilah.

Tak perduli kami saksikan begitu padatnya area Raudhah, mayoritas dari rombongan kami segera bisa mendapat tempat lapang, walau kulihat juga satu dua orang harus wira-wiri mencari tempat.

Kumulai shalatku dengan shalat sunat mutlak dua rakaat. Aku shalat tanpa terganggu atau tersenggol sama sekali.

Kuingat apa yang dipesankan oleh mutawif setempat yang mengantar kami: jika kondisi masih memungkinkan silahkan ditambah shalatnya atau teruskan dengan berdoa.

Kusambung shalat mutlak itu dengan doa-doa. Lalu sebab kondisi masih lapang, belum ada aba-aba untuk bergerak keluar, kulanjutkan dengan shalat taubat dua rakaat. Lalu shalat hajat dua rakaat. Disambung dengan shalat hajat lagi dua rakaat.

Membanjir air mataku ketika itu. Mensyukuri begitu banyak karunia dan kemudahan serta rejeki yang dilimpahkan Yang Kuasa. Juga kupanjatkan doa, permohonan dan harapan bagi para sahabat, kerabat dan keluarga kami.

Kemudian kudengar suara mutawif yang mengantar kami: ibu-ibu, sudah cukup, mari keluar.

Maka kusudahi shalat dan doaku. Aku lalu berdiri dan berjalan ke arah luar, bersamaan dengan beberapa teman serombongan yang melakukan hal serupa.

Dan saat itulah hal yang tak perlu terjadi dan tak diharapkan ternyata terjadi.

Seorang Petugas Haji Indonesia berompi hitam masuk menghampiri dan tiba-tiba membentak- bentak dengan suara keras.

Dia tak menujukan itu pada satu orang tertentu tapi secara umum.

Kebetulan petugas haji indonesia itu berdiri tak jauh dari aku yang sedang bergerak berjalan keluar.

Petugas Haji Indonesia


Teriakan dalam nada tinggi itu begitu keras dan kasar tertangkap telingaku. Membuatku yang sedang berjalan menghentikan langkahku. Sedetik, dua detik, memperhatikan.petugas haji itu.

” Keluar.. keluar !!!!! ” bentakan itu begitu keras terdengar.

Bagiku terdengar seperti seseorang yang sedang mengusir orang lain yang tak berhak berada di sana.

Aku agak heran sebab petugas itu masuk dari arah pintu keluar dan bicara seperti itu di tengah-tengah deretan orang yang justru sedang bergerak keluar.

“Keluarrrr !” lagi-lagi dia berteriak.

Disambung dengan “Keluar! Ngapain sih pada lama-lama di situ!”

Hah?! Aku makin tercengang. Raudhah itu tempat yang diutamakan..tempat di mana orang rela antri untuk bisa masuk ke dalamnya. Maka kalimat ‘ngapain pada lama-lama disitu menjadi absurd terdengar.

Sudah jelas orang datang ke Raudhah itu untuk shalat dan berdoa bukan? Koq ditanya ‘ngapain’ ?

Dan..berlama-lama?

Sepengetahuan aku, orang dimasukkan ke Raudah secara bergiliran per kelompok. Kelompok yang masuk itu secara rata-rata akan mendapat waktu sekitar 10 menit sebelum diminta untuk bergeser keluar.

Dan aku yakin, di kisaran waktu itulah kami berada.

Petugas tersebut tiba-tiba berteriak lagi dalam nada tinggi, ” Sudah dibilang juga, shalat dua rakaat saja lalu keluar ! “

Ealaaahhhhhhh…

Memangnya kapan dia katakan pada kami hal tersebut? Orang-orang yang sedang bergerak keluar itu kebanyakan berada di dekatku sejak kami mengantri di luar Raudhah. Dan tak ada seorang petugas haji Indonesiapun yang datang bicara pada kami bahwa kami hanya boleh shalat dua rakaat lalu harus keluar.

Satu-satunya petugas haji Indonesia yang kulihat sejak di luar tadi hanya petugas yang mengingatkan agar berhati -hati dengan barang bawaan, tidak ada yang lain.

“Keluar ! ” petugas haji itu membentak lagi.

Cukup sudah.

Kudekati dia, kutatap mukanya. Kukatakan padanya, ” Bisa bicara baik-baik? Tidak usah pakai marah-marah begitu dong ! “

Dia rupanya tak mengira akan dihampiri dan ditanggapi seperti itu. Reaksinya spontan, ” Saya tidak marah !!!”

Lho, bahkan menjawabpun nadanya membentak.

Benar sih..mungkin dia ‘tidak marah’. Sebab menurut ukuranku, kata-kata yang dia gunakan, nada tinggi yang jelas terdengar, itu bukan marah lagi namanya tapi “marah besar” alias marah sekali.

“Nanti kalau keinjak- injak orang ****** gimana..makanya keluar ! ” (dia menyebutkan nama negara-negara yang sedang antri diluar, menanti masuk setelah giliran kami)

Duh, sudahlah, pikirku. Petugas ini sudah bicara keluar konteks. Sebab bahkan hingga kami menuju keluar saat itu sekalipun, kelihatannya rombongan orang dari negara-negara yang disebutkannya itu belum mendapat giliran masuk Raudhah. Artinya kami justru sudah akan keluar lebih dulu daripada orang-orang yang disebutkannya itu masuk.

Kutinggalkan saja petugas itu.

Sampai saat ini, tak bisa kupahami sikap petugas haji yang kemarin mengusir-usir jamaah untuk keluar dari Raudhah dengan bentakan-bentakan bernada tinggi itu.

Apa sebenarnya yang ada di benaknya ya?

Setahu aku, petugas haji disediakan oleh Pemerintah Indonesia untuk membantu jamaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci. Dan jelas menurut pendapatku, membantu itu tidak bisa diwujudkan dalam bentuk bentakan-bentakan kasar bernada tinggi atau kalimat tudingan semacam “sudah dikasih tahu juga…dst dsb” seperti yang diucapkan — juga dengan suara tinggi dan nada keras — oleh petugas haji Indonesia itu.

Tidak bisakah dia bersikap lebih lemah lembut? Bicara baik-baik dengan nada yang terjaga?

Lupakah dia bahwa Islam mengajarkan kelembutan?

Dan sikap arogan serta defensif itu…ketika diingatkan untuk bicara baik-baik tanpa marah-marah malah mengatakan dia tidak marah lalu mengancam dan menakut-nakuti akan terinjak-injak jamaah negara lain.

Selayaknya dia kan bisa memilih kata-kata yang lebih enak didengar. Katakan saja waktu sudah habis, sudah waktunya keluar sebab sebentar lagi rombongan dari negara lain akan masuk.

Kecuali jika ada yang luar biasa membandel atau dalam keadaan darurat yang sangat mendesak, bolehlah suara dikeraskan. Tapi bukan seperti kemarin, yang nggak ujan nggak angin tiba-tiba muncul marah-marah tanpa juntrungan tanpa pula jelas sebab musababnya.

Barangkali tahun depan, saat menyeleksi petugas haji, perlu dilakukan simulasi beberapa kondisi tertentu dan dilihat reaksi para calon petugas itu. Lalu pilihlah orang-orang yang tegas tapi tenang. Bukan yang suka marah-marah dan merusak suasana yang sebetulnya justru bisa dan sedang tenang…


sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/09/19/masukan-untuk-petugas-haji-indonesia-laporan-langsung-dari-madinah-679812.html

Selanjutnya silahkan baca artikel tentang Kelakuan Petugas Haji Indonesia



Menyingkap Makna Dan Hakikat Haji

Adalah Ali Syari'ati, salah seorang pemikir kontemporer Islam, dalam bukunya "Haji", telah mengulas secara mendalam mengenai makna ritualitas ibadah haji. Tulisan berikut ini ingin mengemukakan percikan pemikirannya mengenai makna ritualitas haji.

Menurut Ali Syari'ati, pakaian adalah lambang status yang dapat memicu sikap diskriminasi, keakuan, dan keegoisan. Pakaian telah memecah belah anak-anak keturunan Adam, karena itu, kata Ali Syari'ati, pakaian model ibadah ihram bukanlah penghinaan tetapi penggambaran kualitas manusia di hadapan Tuhan. Pakaian ihrom telah menuntun manusia untuk mengubur pandangan yang mengukur keunggulan karena kelas, status, kedudukan, dan ras.

Thowaf merupakan kegiatan ibadah mengelilingi Kabah. Di hadapan Ka'bah yang berbentuk kubus ini, kata Ali Syari'ati, para pelaku thowaf akan merenungkan keunikan Ka'bah yang menghadap ke segala arah, yang melambangkan universalitas dan kemutlakan Tuhan; suatu sifat Tuhan yang tidak berpihak tetapi merahmati seluruh alam (Q. S. 106: 21). Dengan thowaf, umat manusia dididik aktif bergaul menjaring komunikasi dengan Tuhan dan antar manusia (Q. S. 112: 2).

Haji
Jamaah Haji Sedang Berthowaf


Berbicara mengenai sa'i, Ali Syari'ati melambangkan sa'i dengan kegigihan dan keperkasaan manusia dalam menempuh perjuangan hidup. Sai yang merupakan rekonstruksi peristiwa Siti Hajar mencari air Zamzam dari Bukit Shafa menuju Marwa, merupakan lambang figur manusia yang berjuang dari niat yang tulus (shafa), tanpa patah semangat mencapai tujuan (marwa).

Selanjutnya, setiap calon haji diharuskan untuk  berwuquf di Arofah. Arofah merupakan sebuah padang yang luas. Di tempat ini manusia singgah sebentar (wukuf). Lalu bermalam (mabit) di Muzdalifah dan tinggal di Mina. Arafah berarti pengetahuan dan Mina artinya cinta. Setelah wukuf di Arafah, para jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabit.

Wuquf dilakukan pada siang hari, sementara mabit pada malam hari. Siang, demikian Syari'ati, melambangkan sebuah hubungan objektif ide-ide dengan fakta yang ada, sedangkan malam melambangkan tahap kesadaran diri dengan lebih banyak melakukan konsentrasi di keheningan malam. Kemudian di Mina, jamaah melempar Jumrah. Ini merupakan lambang perlawanan manusia melawan penindasan dan kebiadaban. Demikianlah makna ritualitas haji yang penuh dengan simbol kejuangan hidup manusia.

Dalam suatu hadits Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang pergi haji dan dia tidak mengeluarkan kata-kata keji serta tidak melakukan perbuatan dosa, maka akan diampunkan dosa-dosanya seperti dia baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmizi daripada Abu Hurairah).

Selain daripada hadits diatas, doa orang yang melaksanakan ibadah haji dapat mengampunkan dosa orang yang didoakannya. Artinya, haji itu menjadi alat untuk mengampunkan dosa dan mengampunkan dosa orang lain. Hal ini dinyatakan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Dosa orang yang menunaikan ibadah haji diampunkan Allah, dan Allah juga mengampunkan orang yang didoakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji.” (HR. Tabrani dan Hakim).

Pada hakikatnya, haji adalah proses evolusi manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dan falsafah penciptaan Adam. Gambaran selanjutnya, pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak. Ibadah haji adalah sebuah pertunjukan tentang ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideologi Islam’, dan ‘ummah’.

Haji  merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Kepulangan kepada Allah merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Dengan melakukan perjalanan menuju keabadian ini, tujuan manusia bukanlah untuk binasa, tetapi untuk hidup dan berkembang. Tujuan ini bukan untuk Allah, tetapi untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Makna-makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik.

Semua ini, pada akhirnya akan mengantarkan seorang haji hidup dengan pengamalan dan nilai kemanusiaan universal.  Dalam konteks niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram, haji memiliki makna yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Haji juga perhimpunan agung sesama Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melaksanakan ibadah yang sama menghadap ke arah kiblat yang sama. Keadaan seperti ini akan menimbulkan sikap perpaduan serta persaudaraan.

Jamaah haji pergi menuju Mekkah dengan hanya berbekal barang-barang terbatas. Di tanah air masing-masing mereka memiliki keluarga, rumah, kendaraan, kebun, ladang dan sebagainya. Tetapi, ketika pergi haji, semua itu mereka tinggalkan. Mereka pergi dengan hanya berbekal beberapa helai pakaian dan keperluan tertentu.

Ini adalah gambaran kecil bahwa ketika meninggalkan alam ini, manusia tidak akan membawa apa-apa. Meninggalkan sanak saudara. Harta benda menjadi hak ahli waris yang ditinggalkan. Hanya iman dan amal yang menjadi bekal dalam menghadapi perjalanan panjang di akhirat.

Pada waktu memakai kain ihram, jemaah haji hanya memakai dua helai kain putih sebagai penutup badan dan pelindung pada waktu panas dan dingin. Mereka dilarang memakai pakaian berjahit. Tidak melihat yang kaya atau miskin, jenderal maupun presiden, mereka tetap memakai pakaian yang sama.


Menyingkap Makna Dan Hakikat Haji
Mantan Presiden Suharto Ketika Berhaji


Antara hikmah yang tersimpan daripada pakaian ihram adalah persamaan. Pada mata Allah tidak ada perbedaan antara seorang hamba dengan hamba yang lain. Tidak ada perbedaan antara seorang Raja dengan rakyat jelata, tidak beda antara Jenderal dengan Kopral dll. Hanya takwa yang menjadi pemisah dan pembeda, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujuraat : 13).

Di samping itu, ihram menjadi gambaran bahwa pada saat meninggalkan alam fana ini, meskipun memiliki pakaian, bahkan harta yang banyak, yang dipakai hanya beberapa lapis kain kafan sebagai penutup badan ketika berada dalam kubur.

Di tempat Miqot, tempat ritual ibadah haji dimulai dngan niat, perbedaan-perbedaan status sosial dlsb  tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan. Semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

Di Miqot ini, apapun ras dan suku harus dilepaskan. Semua pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan) harus ditinggalkan.

Dengan hanya mengenakan dua helai pakaian berwarna putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini.  Seorang yang berihram akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selepas ihrom, melaksanakan thawaf. Di Baitullah ini kita menjadi tamu Allah SWT. Thawaf merupakan sarana pertemuan kita sebagai tamu dengan Sang Kholiq, dengan mengelilingi ka’bah disertai dengan dzikir dan berdoa dengan khusuk.

Ka’bah menjadi pusaran dan pusat peribadatan kita kehadirat Allah SWT, karena thawaf identik dengan sholat dimana kita berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT.

Makna Dan Hakikat Haji
Makna Dan Hakikat Haji


Putaran thawaf sebanyak 7 kali merefleksikan rotasi bumi terhadap matahari yang menandai putaran terjadinya kisaran waktu, siang dan malam, yang menunjukkan waktu, hari, bulan dan tahun.

Thawaf (mengelilingi Ka'bah), menurut Ali Syari'ati adalah subsistem ritual haji yang menggambarkan penjabaran tauhid dengan simbol Ka'bah sebagai pusat konsistensi dan kekokohan. Ka'bah adalah simbol Tuhan dan lautan manusia di sekelilingnya adalah simbol aktivisme umat manusia. Keduanya (Ka'bah dan manusia) berjarak tetapi tidak dapat berpisah. Dalam gemuruh thawaf, komunitas umat manusia disatukan dalam pola yang sama dan sederajat.

Warna pakaian dan polanya sama. Di dalamnya tidak ada identifikasi individual; tidak dapat membedakan yang perempuan dan laki-laki, berkulit hitam dan berkulit putih, berbadan besar dan berbadan kecil. Inilah transformasi seoarang manusia menjadi totalitas umat manusia. Semua "aku" bersatu menjadi "kita" yang merupakan "ummah" dengan tujuan sama; menghampiri Allah. Di luar Ka'bah seoarang manusia dikenal dengan nama, bangsa, atau rasnya. Tetapi ketika berada di Ka'bah ciri-ciri tersebut digantikan dengan konsep totalitas dan universalitas. Jadi yang melakukan thawaf adalah "orang-orang" yang mewakili "keseluruhan umat manusia".

Aktivitas thawaf dengan demikian, mewartakan bahwa dimata Allah, perbedaan duniawi tidaklah berarti. Pluralitas baru akan dirasakan hikmahnya justru ketika berada dalam kebersamaan yang padu dan tunduk dalam sebuah kekuatan, yaitu kekuatan Tuhan yang memancarkan energi kebenaran universal

Dalam thawaf, jamaah Haji berlari-lari kecil atau berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Berlari mengelilingi Ka’bah antara ratusan ribu manusia bukanlah hal yang mudah. Pada saat itu, jemaah akan didorong, terhimpit dan terinjak, bahkan ada yang meninggal dunia karena tidak mampu menahan gelombang manusia.

Hanya sikap hati-hati dan sabar serta mengharap pertolongan daripada Allah yang dapat menyelamatkan jemaah daripada kejadian tidak diinginkan.

Apa yang berlaku pada saat tawaf adalah gambaran kecil daripada keadaan yang akan ditempuh ketika berada di akhirat nanti. Pada saat itu, manusia tidak dapat bergantung kepada orang lain. Hanya amal dan pertolongan daripada Allah dan syafaat Rasulullah yang dapat membantu.

Dalam thawaf, kita akan didorong dan terhimpit hingga susah bagi kita untuk selalu mendekat ke Ka’bah. Terkadang kita mendekat ke Ka’bah, terkadang kita menjauh dari Ka’bah. Ka’bah Ibarat Tuhan, begitulah diri kita, dalam menjalani kehidupan terkadang kita dekat dengan Tuhan, terkadang kita menjauh dari-Nya.

Puncak daripada pelaksanaan haji adalah wukuf di Arafah. Ulama bersepakat mengatakan bahwa wukuf di Arafah adalah rukun haji yang terpenting. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Haji itu adalah Arafah.” (HR. Ahmad).

Di Arafah, manusia berhimpun di bawah terik panas matahari yang membakar kulit. Mereka masih memakai pakaian ihram yang sekadar menutup badan. Pada waktu itu, setiap orang akan merasakan bagaimana penderitaan yang pernah dialami oleh sahabat ketika berperang atau berdakwah diatas terik panas matahari.

Keadaan di Arafah ini juga sebenarnya gambaran kecil daripada suasana di Padang Mahsyar. Di mana manusia tidak dapat berlindung dan bernaung. Tidak ada tempat untuk meminta pertolongan. Hanya amal dan takwa serta naungan daripada Allah dan syafaat rasul-Nya yang akan menjadi pelindung.

Jika semua rahasia dan hikmah ini disadari, maka apa pun yang dihadapi ketika berada di Tanah Suci akan dilalui dengan sabar, seraya memohon ampunan dan perlindungan dari Allah. Kita juga mengharapkan ihsan-Nya agar haji yang dilaksanakan menjadi haji mabrur.

Sebagai tamu Allah, jemaah haji sewajarnya menyerahkan dirinya kepada Allah dengan ikhlas dan meninggalkan segala beban pemikiran yang mungkin merusak kekhusyuan dalam beribadah. Mereka berangkat menuju Tanah Suci seolah-olah sedang berjalan memenuhi panggilan Ilahi ketika meninggalkan alam fana ini. Datang dengan niat dan hati yang suci semata-mata mencari keridhaan Ilahi.

Perjalanan Haji bukanlah suatu perjalanan piknik untuk sebuah kepuasan duniawi, justru kepuasan duniawi terkorbankan dalam rangka mendapatkan kepuasan yang lebih tinggi.

Haji dalam Islam memiliki nilai plus, yaitu dengan terbitnya kepuasan jiwa dan perasaan semakin dekat dengan sang Pencipta. Perasaan dekat ini melebihi cintanya pada harta, tahta, keluarga dan saudara. Bahkan ketika seorang hamba menginjakkan kaki dari tempat tinggalnya menuju rumah Allah (Baitullah), ia sudah berniat untuk bebas dari belenggu yang mengikatnya, hatinya tunduk kepada Yang Maha Kuasa, sehingga ia merasa bahwa dunia dan isinya, luluh dan rapuh di hadapanNya. Dengan ungkapan “Labbaika Allahumma Labbaika (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah)”, seorang hamba telah menancapkan bendera syukur atas karunia yang melimpah-ruah. Dan Maha Besar Allah atas seluruh karunia-Nya.

Jika umat Islam menghadap kiblat (ka'bah) lima kali sehari dari jarak jauh, namun pada musim haji mereka dapat melihat Ka'bah dengan mata kepala secara langsung ketika sedang memasuki Al-Baitullah al-Haram dan bertawaf di sekelilingnya, tanpa terasa air mata telah bercucuran. Cucuran air mata saat itu, bukan tanda kesedihan atau kemurungan, seperti yang terjadi dalam hidup sehari-hari, ketika ditimpa musibah misalnya. Banyak orang tidak tahu, apa sebab dan rahasia di balik peristiwa ini. Peristiwa ini merupakan sebuah ungkapan wajar, saat seseorang meninggalkan keangkuhan dan kesombongan, yang selama ini menyelimuti kehidupannya. Keadaan semacam ini kian menumbuhkan perasaan tunduk seseorang kepada Sang Pencipta, dan kehadirannya di depan Ka'bah hanya untuk menyampai kan penyesalan atas perbuatan-perbuatan yang telah dikerjakan, dengan harapan kiranya Allah mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.
Perasaan dekat dengan Allah setiap saat, niscaya akan menjadikan tangis sebuah dinamo untuk melahirkan kebahagiaan dan kemerdekaan dari lumuran dosa. Dengan taubat yang tulus, seorang hamba enggan untuk kembali pada kejahatan. Lebih dari itu, tangis seorang hamba di depan Ka'bah merupakan barometer kuatnya iman yang mendorongnya untuk meninggalkan hal- hal yang dapat meracuni akidah dan akhlaknya.

Sesungguhnya menanggalkan rasa keangkuhan adalah kekuatan, seperti halnya memohon rahmat dan ampunan adalah kekuatan pula. Apabila dua kekuatan tersebut menyatu, keyakinan untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan menjadi semakin kokoh.

Wuquf di Arafah, Refleksi Padang Mahsyar. Di bukit yang membentang luas ini, seorang hamba diantarkan untuk membayangkan dan merenungi peristiwa yang bakal terjadi pada hari kiamat , yaitu hari dikumpulkannya kembali semua makhluk Allah di "Padang Mahsyar", yang merupakan terminal terakhir untuk menghitung amal baik dan buruk yang telah dikerjakan, selama di dunia. Di hadapan Allah seluruh manusia adalah sama, baik konglemerat maupun fakir miskin, semuanya akan menghadap kepada Yang Maha Esa, Allah Swt.

Jumroh Aqabah, Melawan Bisikan Setan. Haji merupakan salah satu proses pembentukan insan kamil, yang mampu melawan bisikan setan. Sebab dalam setiap gerak kehidupan, orang tak lepas dari godaan setan. Banyak contoh yang menjelaskan tentang betapa gigihnya godaan makhluk ini. Diantaranya adalah godaan terhadap manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, dan juga terhadap Nabi Ibrahim saat menjalani perintah Allah, yang kemudian beliau berusaha menghardiknya dengan cara melempari makhluk jahat tersebut. Untuk itu, melempar jumrah yang dikenal dengan Jumrah Aqabah, juga merupakan salah satu protret perlawanan terhadap setan.

Selanjutnya, sambil melempar batu kecil di Aqabah, hendaknya disertai niat untuk selalu melawan bisikan setan yang sangat membahayakan. Karenanya, dengan Jumrah Aqabah, kita berharap agar umat Islam senantiasa mampu membaca rahasia-rahasia dibalik setiap peristiwa dalam kehidupan ini. Apakah tiap muslim sudah memiliki missi dalam aktivitas kesehariannya? missinya baik atau tidak ? dan missinya bermanfaat atau tidak ? Ini sebuah pelajaran yang harus diingat.

Antar sesama manusia, ketika melaksanakan haji banyak pelajaran yang mengarah pada pembentukan persamaan derajat. Apabila seseorang di tempat tinggal nya menjadi tokoh masyarakat, pedagang kaki lima dan lain-lain, namun di musim haji mereka sama. Persamaan yang semacam ini akan lebih menciptakan suasana harmonis dan dinamis.

Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada wajah seorang hamba, namun melihat kepada hatinya. Hati merupakan standar derajat manusia antara satu dan yang lain. Suasana haji menciptakan keakraban yang lebih dekat dan lebih membahana di relung hati yang paling dalam. Semoga para jamaah haji dapat menangkap makna simbol-simbol itu dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.



Jamaah Haji "Masih Gadis" Dari Semarang Ditahan Di Bandara Jeddah

Imigrasi Arab Saudi sempat 'menahan' sejumlah jamaah haji wanita berwajah rupawan‎. Rupanya para petugas imigrasi mempertanyakan mahrom para calon haji asal Semarang yang kebetulan masih gadis dan berwajah manis.

Haji Masih Gadis
Masih Gadis Sudah Haji


"Mahrom itu dari kata harom menjadi Mahrom. Jadi petugas menanyakan siapa yang punya hak untuk melindungi. Dalam haji itu yang boleh melindungi bapak, saudara kandung, atau suami,"‎ kata Abdul Kholiq, Pembimbing Ibadah di PPIH Daker Madinah, kepada wartawan di Madinah, Minggu (14/9/2014).

Jamaah yang tertahan selama empat jam di imigrasi itu berasal dari kelompok terbang 31, embarkasi Solo. Pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut mereka mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, pukul 22.10 Waktu Arab Saudi, Sabtu (14/9).

Awalnya yang ditahan hanya lima jamaah perempuan, karena saling terkait, jumlah jamaah yang tersangkut urusan imigrasi menjadi 12 orang. Para jamaah baru dibebaskan pukul 02.00 dini hari tadi.

Saat Pemeriksaan Imigrasi

Proses di imigrasi Bandara King Bandul Aziz Jeddah awalnya lancar sampai giliran jamaah Ernawati yang berwajah manis, mempertanyakan Mahrom Erna yang berangkat haji sendiri sedangkan suaminya berada di Surabaya.

Setelah itu empat jemaah perempuan lainnya mendapat perlakuan yang sama, ditanya macam-macam soal mahrom dan bukti ada mahromnya oleh petugas

Lain lagi dengan Suyatmi, berulang kali sang suami, Fachrudin Rois, menjelaskan Suyatmi adalah istrinya. Namun petugas tidak serta merta percaya mengingat di belakang nama Suyatmi tidak ada nama Rois. Suyatmi menggunakan nama orangtuanya sebagai nama belakang.

Sementara Nurul Ismawati Suratmin yang masih lajang berangkat bersama kedua orangtua dan kakak lelakinya. Orangtua dan kakaknya lolos, tapi dia ditahan petugas. Proses Nurul tidak terlalu berbelit-belit karena ayahnya, Suratmin Suparman Mentosetu, langsung maju menjelaskan bahwa Nurul anak perempuannya, yang berarti mahromnya.

Sekretaris Daerah Kerja Jeddah Arfi Hatim heran melihat perlakuan imigrasi Arab Saudi. Kejadian ini baru pertama kali terjadi terkait pelaksanaan ibadah haji Indonesia.

"Nggak pernah ada kasus seperti ini. Kita semua bingung, tiga jam lebih tertahan. Harusnya kalau visa lolos, selesai. Mahrom harusnya masuk dalam rombongannya," katanya.

Berikut 12 jamaah haji yang sempat berurusan dengan imigrasi Arab Saudi:


1. Sukarmi Yanta Wiratna, nomor paspor A8200747
2. Ernawati Muryanto Setrodiwiryo, nomor paspor A8400107
3. Fithrotun Nisa Abdul Hadi, nomor paspor A8059673
4. Hani Ammaria Abdul Hadi, nomor paspor A8059572
5. Nurul Ismawati Suratmin, nomor paspor A8200728
6. Bahroni Zaenuri Buchori, nomor paspor A8671739
7. Rohmad Supoyo Marwan, nomor paspor A8200708
8. Fachrudin Rois Zuhri, nomor pasporA8200746
9. Muhammad Saiq Abdul Hadi, nomor paspor A8059571
10. M Nasim Bahara, nomor pasporA8059570
11. Suratmin Suparman Mentosetu, nomor paspor A8200726
12. Jutiah

(detik)



Kebiasaan Buruk Yang Sering Dilakukan Jamaah Haji Indonesia

Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan buruk jamaah haji Indonesia yang sempat saya lihat dan saksikan dengan mata kepala sendiri. Melalui tulisan ini saya mengusulkan kepada pihak Kemenag agar memasukkan materi ini ke dalam program manasik haji, karena perilaku dan kebiasaan ini dilihat dan dinilai oleh mata dunia.

Kebiasaan antri masih sangat buruk, jamaah haji Indonesia masih suka menyerobot antrian orang. Ini hanya berlaku ketika antri sesama jamaah Indonesia. Tapi ketika berhadapan dengan jamaah haji dari negara lain, jamaah kita tak punya nyali sama sekali, mendadak berubah menjadi anak kecil yang manis. Banyak kegiatan yang memerlukan antri: ke tolilet, masuk lift, masuk masjid, naik / turun pesawat, naik / turun kendaraan, ambil jatah makan, antri pemeriksaan dokumen atau antri-antri yang lain. saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri, Ada 2 orang ibu saling adu mulut, tangan mereka ikut-ikutan saling tunjuk muka, semua mata memandang mereka. Model berantem mereka persis ibu rumah tangga di kompleks perumahan BTN. Anda akan makin terkejut, kalau saya kasih tahu siapa mereka berdua ini. Dua-duanya wanita terpelajar, sarjana pula! Lebih tragis lagi, wanita yang satu merupakan ketua kelompok bimbingan haji. saya hanya bisa mengelus dada. Belum juga sampai ke tanah air, ibadah haji yang dilakukan dengan banyak tenaga, pikiran dan biaya tersebut keburu “mabur” / terbang alih-alih mabrur.

Jamaah Haji Indonesia
Kebiasaan Buruk Yang Sering Dilakukan Jamaah Haji Indonesia


Kebiasaan Buruk jamaah haji Indonesia adalah membuang ludah / ingus / dahak di sembarang tempat. Mengerikan! Material-material menjijikkan itu ada di sepanjang jalan, lantai bahkan di dalam maktab. padahal kalau mau usaha sedikit bisa saja mereka bisa menggunakan tisu kemudian dibuang ke tempat sampah yang sudah tersedia. Oh ya, selain itu mayoritas jamaah Haji Indonesia juga suka membuang sampah sembarangan.

Kebiasaan Buruk
Kebiasaan Buruk 


Kemudian perilaku buruk jamaah haji kita adalah tidak mau mengantri ketika di toilet. Terutama bapak-bapak, dia keluar antrian kemudian mojok di sudut pagar dan menuntaskan hajatnya. Cuuurrrrrrrrrrr…… legaaaaa……  Kebiasaan di tanah air kebawa-bawa ke tanah suci.

Ketika naik kendaraan bus antar jemput, mayoritas jamaah haji indonesia maunya menang sendiri, tanpa memperdulikan wanita dan lansia yang sedang berjuang untuk bisa naik ke dalam bus.

Ketika naik lift, biasanya suka berdesak-desakan, kapasitas lift yang hanya muat 10 orang bisa dimasukin sampai 20 jamaah haji indonesia. alasannya, mereka tidak mau menunggu lama-lama di depan lift. semuanya ingin cepat dan mau menang sendiri.

Merokok seenaknya di bus yang penuh sesak, di lift, atau di ruang ber-AC.

Entah tidak ada tempat menyimpan atau tidak tahu bagaimana cara menyimpan uang, banyak jamaah haji Indonesia ke mana-mana membawa semua uangnya, akibatnya kalau hilang ya..amblaslah semua uangnya. 



Inilah Kelakuan Petugas Haji Indonesia

Haji Tahun 2013 - waktu itu saya ingin mengunjungi pakdhe saya yang sedang berhaji dan menginap di maktab daerah bakhutmah, kebetulan di depan maktab pakdhe saya yang sedang berhaji ada sebuah toko, sembari menunggu pakdhe turun dari maktab saya membeli sebuah air minum dan duduk di depan toko tersebut. tiba-tiba datang seorang petugas haji indonesia memakai rompi hitam menanyai saya asalnya darimana dan ada perlu apa datang di kawasan ini? saya jawab saya muqim disini dan berasal dari salah satu daerah di indonesia, saat ini saya mau menemui pakdhe yang sedang berhaji dan maktabnya ada di depan. sejurus kemudian petugas haji tersebut berkata kepada saya: saya tidak percaya kalau kamu mau menemui saudara kamu !!! jangan coba-coba menipu saya dan jamaah haji !!! kemarin saya lihat orang berwajah seperti anda pura-pura datang ke maktab kemudian menipu jamaah haji dengan cara menawarkan kursi roda seharga 300 Riyal !!!

Tak sampai berhenti disitu, petugas haji tersebut terus-terusan nyerocos dan berkata kepada saya, Kamu dibayar berapa sama jamaah haji?

Rasa-rasanya petugas haji yang satu ini memang sudah menuduh saya sebagai penipu, saya yang sudah tidak tahan langsung membalas pertanyaan petugas tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang serupa, Lha anda dibayar berapa sama kemenag untuk menuduh saya sebagai penipu?

Mendengar pertanyaan saya tadi, wajah petugas haji tersebut langsung memerah. saya mempersilahkan petugas tersebut untuk melaporkan saya ke atasannya jika tidak terima dengan ucapan saya tadi, beberapa detik kemudian datanglah pakdhe saya. pakdhe saya pun juga diberondong pertanyaan mengenai saya.

Setelah pakdhe saya menjelaskan siapa saya dan ada perlu apa saya berkunjung kemudian petugas haji tersebut langsung meninggalkan kami berdua. tanpa salam tanpa rasa berdosa dan tanpa meminta maaf atas tuduhan yang telah dialamatkan kepada saya.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Haji Tahun 2014 - Kemarin saya sedang membaca surat kabar online, ketika membaca berita tersebut terpampang foto petugas haji yang tahun kemarin menuduh saya sebagai penipu. dan orang ini ternyata bernama Ahmad Riad S. Dibawah ini adalah foto petugas haji tersebut.


Kol Riad S


Saya kutip perkataan Ahmad Riad S dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/538019-calon-haji-diperas-rp1-5-juta-untuk-kursi-roda-di-masjidil-haram seperti dibawah ini

Kepala Bidang Perlindungan Jemaah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia di Arab Saudi, Ahmad Riad S, mewanti-wanti para warga Indonesia yang bermukim di Mekah (mukimin), untuk tidak memeras calon haji dari tanah air. Tidak tanggung-tanggung, untuk jasa yang diberikan, mereka meminta bayaran SR 500 sekitar Rp1,5 juta.

"Mereka tidak hanya beraksi di Masjidil Haram, tapi juga di pemondokan-pemondokan calon haji yang kini mulai memenuhi tanah haram. Modus para mukimin biasanya berpura-pura mencari saudara di pemondokan, mengajak bicara calon haji dengan bahasa daerah di tanah air, menawarkan jadi pembimbing umrah atau menawarkan jasa kursi roda bagi jamaah renta. Padahal kursi roda itu merupakan fasilitas di Masjidil Haram bagi jemaah yang secara fisik kurang mampu melakukan thawaf atau sa'i saat umrah.

"Harga yang mereka tawarkan tidak wajar. Satu sisi kalau membantu dan meminta SR100, mungkin kita bisa maklumi," kata Riad di Kantor Urusan Haji Jeddah, Arab Saudi, Sabtu 13 September 2014"

Sangat disayangkan, sebelum kol Riad memberikan pernyataan di media nasional dia tidak dulu cek dan ricek mengenai berapa harga yang sebenarnya untuk jasa kursi roda bagi jamaah haji. untuk jamaah umroh saja normalnya sudah 250 Riyal, bagaimana bisa jasa dorong pakai kursi roda untuk jamaah haji kurang dari 250 Riyal?

Ucapan petugas haji yang satu ini sering tidak teratur, lihatlah kata-kata yang saya tulis tebal diatas, kemudian di paragraf yang lain masih dalam satu postingan di media nasional tersebut dia menuturkan seperti dibawah ini.

"Mereka meminta SR 500 kepada jemaah untuk jadi pembimbing. Sewa kursi roda juga segitu, padahal normalnya SR200," kata Riad.

Pak Riad yang terhormat, kita sama-sama punya kewajiban, kita sama-sama punya hak, tolong hargai kerjasama para muqimin, saya yakin pak riad sendiri maupun petugas haji yang lain tidak akan mau jika disuruh mendorong dan dibayar 100 riyal sama jamaah haji. perlu pak Riad ketahui, untuk transportasi di musim haji bisa naik 400%, yang biasanya 20 Riyal bisa berubah menjadi 80 Riyal, utnuk menuju ke maktab jamaah haji dengan membawa kursi roda PP dari rumah ke maktab sudah habis 100 Riyal lebih. bagaimana bisa jasa kursi roda untuk jamaah hanya bertarif 100 atau 200 riyal. tidak semua muqimin Mekkah seburuk yang anda sangka. jadi jangan di pukul rata bahwa semua mukimin adalah penipu.  saya rasa ini hanya pencitraan anda sebagai petugas haji biar lebih terkenal mampu menangani kejahatan dan diangkat menjadi petugas haji lagi. bertaubatlah pak kolonel, sebelum adzab Allah menimpa kepada anda di tanah suci. anda yang seorang kolonel bahkan Direktur Pembinaan Persenjataan Pusat Kavaleri seharusnya mampu untuk bertenggang rasa terhadap sesama dan tidak menuduh orang lain sembarangan. saya yakin anda punya banyak cara yang lebih elegan untuk berkomunikasi dengan mukimin mekkah, tentunya dengan cara tidak sembarang tuduh terhadap semua tamu jamaah haji di maktab dan waspada tidak harus berburuk sangka kan?

Untuk pihak Kemenag, Mohon para petugas haji dari Indonesia dibekali dengan ilmu sopan santun yang cukup, khususnya yang dari Militer. karena saya yakin, tanpa bantuan muqimin Mekkah, Jamaah haji indonesia akan kesulitan dalam beribadah di Mekkah. bahkan saya berani bilang kalau petugas Haji indonesia itu "Wujuudihi Ka'adamihi" (ada dan tidak adanya petugas haji dari indonesia adalah sama saja bagi kelancaran ibadah jamaah haji indonesia)

Masih banyak yang perlu dibenahi dalam penyelenggaraan haji indonesia, saya berharap menteri agama yang baru mampu dan berani menyikat semua oknum di kemenag haji yang terlibat praktek KKN, jangan puas dengan pekerjaan yang telah anda lakukan sekarang. karena sampai saat ini belum tampak perubahan yang signifikan dalam pelaksanaan ibadah haji indonesia. silahkan baca Kritik Untuk Penyelenggaraan Haji Indonesia.