Mengintip Sejarah Ibadah Thowaf Dan Haji

Jauh sebelum manusia diciptakan, di sebuah alam yang tak terjangkau oleh manusia, Allah SWT berfirman kepada malaikat "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi." Lalu Malaikat menjawab, "Ya Allah, kholifah selain kami (para malaikat) hanya akan berbuat kerusakan di bumi, membuat pertumpahan darah, saling berperang, saling dengki, dan saling membenci; sedangkan kami para malaikatmu senantiasa bertasbih memuji-Mu, menyucikan-Mu, menaati, dan tidak mengingkari-Mu." kemudian Allah berfirman, "Wahai malaikat, sesungguhnya Aku lebih mengetahui yang tidak kamu ketahui."

Mendengar firman Allah tersebut, Malaikat langsung bersujud. Mereka takut akan murka Allah. Para Malaikat bersujud sambil menangis dan memohon ampun dari murka Allah. Kemudian mereka thawaf, mengelilingi Arsy dalam rentan waktu yang cukup lama. Allah, Yang Maha Pengasih Dan Penyayang, melihat hal tersebut, lalu menurunkan rahmat. Diciptakan-Nya sebuah tempat yang disebut Baitul Makmur, tepat berada di bawah Arsy. “Wahai para malaikat-Ku, berthawaflah kalian di rumah ini dan tinggalkan Arsy.” Malaikat-malaikat-pun berthawaf mengelilingi Baitul Makmur. Dalam satu hari satu malam, ada tujuh puluh ribu malaikat yang berthawaf. Kemudian Allah mengutus malaikat-malaikat ke bumi seraya berfirman kepada mereka, “Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah di bumi seperti ini (Baitul Ma'mur).”

Foto Ka'bah
Ka'bah Allah Di Bumi

Setelah itu, Allah SWT memerintahkan malaikat yang ada di bumi dan juga makhluk yang lainnya untuk thawaf di rumah tersebut sebagaimana penghuni langit thawaf di Baitul Makmur. Demikianlah, Allah menciptakan Baitul Makmur tempat bertobat para penghuni langit, dan Ka’bah di bumi sebagai tempat bertobat para penghuni bumi. Setelah sekian lama tinggal di bumi dengan senantiasa berharap turunnya rahmat dan ampunan Allah, pada suatu hari Nabi Adam mendapat perintah dari Allah untuk menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci, Makkah.

Nabi Adam berangkat dari tempat tinggalnya berjalan ke arah barat melalui Syam, hingga sampailah di Bakkah dan melaksanakan thawaf bersama para malaikat yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Para malaikat ini sudah sejak lama melaksanakan perintah thawaf mengelilingi Ka’bah sebelum kedatangan Nabi Adam sebagai manusia pertama yang menunaikan manasik ibadah haji.

Ketika Nabi Adam berthawaf di Baitullah dan sampai ke Multazam, Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Wahai Nabi Allah, akuilah semua dosamu di tempat ini kepada Tuhanmu!”

Nabi Adam berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya setiap makhluk yang beramal shalih mendapat ganjaran. Sungguh aku telah beramal, apakah ganjaranku?”

Allah mewahyukan kepadanya, “Aku ampuni engkau atas dosa-dosamu.”

Nabi Adam berkata, “Wahai Tuhanku, juga untuk anak-cucu keturunanku?”

Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Adam, siapa saja di antara keturunanmu yang datang ke tempat ini mengakui dosa-dosanya, bertobat sebagaimana engkau bertobat, dan memohon ampun, niscaya Aku ampuni.” Ketika Nabi Adam bertolak dari Mina, para malaikat menemuinya dan berkata, “Wahai Adam, hajimu telah mabrur. Sesungguhnya kami telah menunaikan haji di Baitullah sebelum engkau selama dua ratus tahun.”

Setelah melaksanakan thawaf, beliau mengikuti perintah untuk pergi ke suatu tempat di padang pasir. Di sana Nabi Adam bertemu dengan Siti Hawa setelah berpisah selama kurang lebih 300 tahun, Tempat pertemuan mereka di Padang Arafah ini kemudian dinamakan Jabal Rahmah, yang berarti “Bukit Kasih Sayang”, sedangkan kata Arafah mempunyai arti “tahu atau kenal”, sehingga seluruhnya berarti “Pertemuan atau perkenalan kembali (di sebuah bukit di padang pasir) setelah sekian lama berpisah” sebagai rahmat Allah terhadap Adam dan Hawa. baca Arofah, Padang Gersang Yang Kini Ditumbuhi Pohon Soekarno dan Sejarah Jabal Rahmah

Jabal Rahmah
Monumen Jabal Rahmah


Selesai mengerjakan ibadah haji, Nabi Adam bertaubat meminta ampun kepada Allah, dan taubatnya diterima, sehingga dia telah bersih dari dosa dan kesalahan atas perbuatan yang pernah dilakukannya karena terbujuk oleh bisikan iblis pada masa yang lalu.

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (surah Al-Baqarah ayat 37).

Dalam konteks haji, ada istilah haji mabrur. Haji mabrur tidak bercampur dengan satu perbuatan maksiat pun. Mabrur adalah peningkatan, perluasan dalam kebaikan. Ada pula yang berpendapat, haji mabrur adalah haji yang diterima. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menunaikan haji bersama putranya. Nabi Ismail. Berangkatlah mereka berdua dengan menunggang unta. Tidak ada yang menyertai kecuali Malaikat Jibril. baca juga Makna Dan Hakikat Haji

Ketika mereka sampai di Tanah Haram, Jibril berkata kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, turunlah dan mandilah sebelum kalian memasuki Tanah Haram.” Mereka pun turun dan mandi. Kemudian, Jibril memperlihatkan kepada mereka bagaimana cara mempersiapkan ihram. Mereka melakukan apa yang dicontohkan. Jibril lalu memerintahkan mereka untuk bertalbiyah dengan mengucapkan kalimat talbiyah sebagaimana yang diucapkan oleh para rasul sebelumnya.

Kemudian Jibril membawa mereka ke Bukit Shofa. Mereka turun, sementara Jibril berdiri di antara mereka berdua, seraya menghadap Baitullah. Jibril bertakbir, mereka pun bertakbir. Jibirl bertahlil, mereka pun bertahlil, Jibril bertahmid, lalu memuji Allah, dan mereka berdua pun melakukan apa yang dilakukan Jibril.
Setelah selesai, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk kembali ke negeri Syam, dan menempatkan Nabi Ismail di Tanah Haram sendirian. Tiada ada orang lain kecuali ibunya, Siti Hajar. Setelah Ibrahim kembali, Allah memerintahkannya untuk menyeru manusia agar berhaji dan memerintahkannya membangun Ka’bah. Bangsa Arab pun berangkat menunaikan haji, dan waktu itu bangunan Ka’bah masih berupa bongkahan-bongkahan batu di atas fondasi.

Ketika manusia mulai berdatangan, Nabi Ismail mengumpulkan batu dan menaruhnya di tengah-tengah Ka’bah. Ketika Allah mengizinkannya membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim datang dan berkata, “Wahai anakku, Allah memerintahkan kita untuk membangun Ka’bah.” Mereka lalu membongkar batu-batu itu. Ternyata ada satu batu yang berwarna merah. Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan bangunan Ka’bah di atas batu itu. Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim, “Letakkan bangunan Ka’bah di atas batu itu!”

Allah SWT kemudian menurunkan empat malaikat untuk membantu Nabi Ibrahim mengumpulkan batu-batu itu, sementara Nabi Ibrahim dan putranya menata batu-batu tersebut hingga selesai. Para nabi yang lain juga melaksanakan haji. Nabi Nuh, misalnya, melakukan ibadah haji saat berada di perahunya. Beliau diperintahkan untuk thawaf di Baitullah ketika bumi ditenggelamkan, kemudian mendatangi Mina dalam hari-hari perjalanannya, lalu kembali dan berthawaf di Baitullah. baca juga Ratusan Tahun Terpendam, Masjid Ini Ditemukan Di Mina

Rasulullah SAW berangkat haji pada empat hari terakhir bulan Dzulqo'dah hingga ketika sampai di sebuah pohon beliau shalat. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan sampai di Baida’. Dari sana Rasulullah berniat ihram dan mengucapkan talbiyah serta membawa seratus ekor unta. Para sahabat pun juga berniat ihram. Saat itu mereka belum mengetahui bahwa itu adalah haji tamattu’.

Ketika sampai di Makkah, beliau melakukan thawaf di Baitullah dan orang-orang pun ikut berthawaf bersamanya. Kemudian, beliau shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim serta mengusap dan mencium Hajar Aswad. Nabi lalu berjalan menuju Shafa, dan memulai sa’i dari sana. Beliau berbolak-balik antara Shafa dan Marwah tujuh kali.

Sumber: Media.Ikhram.Com



Sejarah Ka'bah Dan Mekkah

Umat Muslim di seluruh penjuru dunia mengarahkan kiblat shalatnya pada Ka’bah. Ka’bah atau yang juga disebut, “Baitul Atiq”, merupakan bangunan berbentuk kubus yang terletak ditengah-tengah Masjidil Haram. Banyak nama lain yang disebut dalam qur'an selain Ka’bah, seperti al-Bait, Baitullah, Baitul Haram, dan Qiblah. Pengertian dari Baitul Atiq yaitu rumah yang pertama kali dibangun di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat untuk manusia sebagai tempat beribadah itulah rumah yang di Bakkah (Mekkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi alam semesta." (QS. Ali Imran : 96).

Pada masa pra-Islam, Ka’bah dijadikan tempat beribadah para penganut paganisme (penyembah berhala). Mereka meletakkan patung-patung berhala disekeliling Ka’bah. Diantaranya patung berhala yang terbesar adalah Latta, Uzza, dan Hubal. Penganut paham ini berkeyakinan patung tersebut mampu menghubungkan antara manusia dengan tuhannya.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW membersihkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Rasulullah SAW meneruskan ajaran moyangnya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam ajaran Tauhid. Tauhid mengajarkan bahwa tuhan tidak boleh disekutukan dengan benda atau makhluk apa-pun. Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT dalam QS.Al-Ikhlas.

Pemeliharaan Ka’bah pada masa nabi Muhammad SAW diserahkan kepada keturunan Bani Hasyim. Kemudian Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama sahabatnya. Sementara itu, pemeliharaan Ka’bah dan pelayanan haji di Mekkah dilakukan oleh Bani Syaibah, Khulafa Ar-Rasidin (Abu Bakar as-Shiddiq. Umar bin Khattab, 'Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib), Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyyah, lalu Dinasti Utsmaniyah Turki.

Saat ini, keluarga kerajaan Arab Saudi memelihara dan melayani dua kota suci, yaitu Mekkah dan Madinah, sekaligus bertanggung jawab atas pemeliharaan Ka’bah. Pada hakikatnya, Ka’bah merupakan warisan nabi Ibrahim as. Ali al-Hasani dalam kitab "Tarikh Makkah" menegaskan dengan pendapat yang rasional dan faktual, bahwa Ka’bah adalah warisan Nabi Ibrahim As. Karena Ka’bah yang sekarang identik dengan bangunan yang didirikan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Adapun pendapat lain yang mengatakan bahwa Ka’bah telah ada sebelum meniupkan ruh Nabi Adam as, atau pendapat yang mengatakan Ka’bah didirikan oleh Nabi Adam as adalah pendapat yang patut dihargai.

Dari data di buku-buku sejarah disebutkan bahwa saat itu usia Nabi Ismail As. menginjak 30 tahun. Nabi Ibrahim As. Dan Nabi Ismail As. Datang membawa misi suci, yaitu mendirikan Ka’bah. Kemudian Nabi Ibrahim As menceritakan niat sucinya yaitu membangun rumah Tuhan kepada putranya.

Dalam kitab "Muruj al-Dzahab" oleh Al-Mas’udi menerangkan bahwa Ka’bah memiliki panjang tiga puluh hasta, lebarnya dua puluh dua hasta, dan ketebalannya tujuh hasta. Bangunan ini memiliki daun pintu, tetapi tidak beratap. Dalam Firman Allah QS. Al-Baqarah : 127, "Tatkala Ibrahim dan Ismail menyempurnakan bangunan Ka’bah, Ya Tuhan kami terimalah doa-doa kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui"

Ka’bah dibangun di tempat yang tandus dan sepi. Sehingga bangunan ini sangat luar biasa dan tidak bisa dibayangkan bagaimana Nabi Ibrahim as. Bersama Nabi Ismail As. mendirikannya. Menurut Qatadah, bahan-bahan yang digunakan untuk mendirikan Ka’bah didatangkan dari Harra, Lebanon, Sinai, dan Turnzeta. Sementara itu, Suhail menerangkan, bahan-bahan bangunan Ka’bah disediakan oleh malaikat.

Gambar Ka'bah
Ka'bah Dahulu Kala


Kemudian Ka’bah berdiri dan Nabi Ibrahim As. Kembali ke Syam. Sedangkan, Nabi Ismail As. Menetap di Mekkah sembari melanjutkan misi dakwahnya yaitu ajaran Tauhid. Nabi Ismail As. Didukung oleh kabilah Jurhum sebagai penanggung jawab Ka’bah. Kemudian, diwarisi pada kebijakan kabilah Khuza’ah, Quraisy, dan Bani Hasyim.

Sebelumnya, tidak ada halaman di sekitar Ka’bah, sehingga jama’ah yang melakukan Thawaf sering mengganggu jama’ah yang hendak shalat. Namun seiring waktu, jumlah pemeluk agama Islam semakin bertambah. Kemudian khalifah Umar bin Khattab memiliki insiatif yang inovatif yaitu membuat halaman yang luas untuk kenyamanan jama’ah ibadah haji dan Umrah dalam melakukan Thawaf.

Setiap sudut dinding Ka’bah memiliki nama, yaitu Rukun Iraqi (sudut yang menghadap Irak), Rukun Syami (sudut yang menghadap ke Syam), Rukun Yamani (sudut yang menghadap ke Yaman), dan Rukun Aswad (sudut yang di dalamnya terdapat Hajar Aswad). Selain itu, Ka’bah memiliki bagian utama yaitu, Pintu Ka’bah dan Multazam (tempat yang diyakini mustajab dalam berdoa, antara pintu ka'bah dengan hajar aswad), Hijir Ismail (diyakini sebagai makam Nabi Ismail As.), dan Hajar Aswad (batu hitam yang diyakini sebagai batu dari Surga).

Di dalam Ka’bah memiliki tiga tiang utama penyangga atap yang terbuat dari kayu. Besarnya berdiameter 44 cm dengan jarak antar tiang 2,35 m. Dari arah lurus pintu masuk Ka’bah terdapat mihrab, tempat Rasulullah SAW pernah shalat.

Di sebelah kanan dalam Ka’bah terdapat tangga menuju atap. Tangga ini memiliki pintu yang bernama pintu Taubat. Atap Ka’bah serta dinding bagian atas Ka’bah ditutupi Kiswah (kelambu) yang terbuat dari kain sutera berwarna hijau serta dihiasi oleh pintalan emas tertulis, “La illahaillallahu Muhammadur Rasulullahi.”, kemudian surah Ali Imran : 96, al-Baqarah : 144, dan disambung dengan kalimat Ya Hannan, Ya Mannan, dan Ya Dza al-Jalal wa al-Ikram.

Jama’ah Haji dan Umrah setibanya di Mekkah akan menemui istilah Tanah Haram dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Tanah Haram yaitu tanah yang diberi tanda / batas pada beberapa penjuru di sekeliling Masjidil Haram. Di Tanah Haram diberlakukan hukum haram memburu binatang dan memotong atau mencabut tumbuhan, bagi yang memakai pakaian ihram atau tidak.

"Dan, apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia sekitarnya rampok-merampok." (QS. Al-Ankabut : 61).
Namun jika ada tumbuhan yang menyakiti misalnya berduri, maka boleh dicabut atau dipotong, boleh juga mengambilnya untuk obat. Membunuh binatang berbahaya juga tidak dilarang, seperti kala jengking atau anjing yang suka menggigit (anjing gila).

"Sesungguhnya negeri ini (Mekkah) terpelihara oleh penjagaan Allah sampai hari kiamat. Pohon-pohonnya tidak boleh dipotong, binatangnya tidak boleh diburu, dan tidak boleh dipungut, barang yang didapat padanya, kecuali orang yang bermaksud mengumumkannya, juga tidak boleh dicabut rumputnya. Mendengar sabda beliau tersebut, Ibnu Abbas berkata, "Ya Rasulullah, kecuali izkhir (nama rumput yang terkenal di Mekkah berguna untuk loteng rumah di sana). Sesungguhnya izkhir berguna bagitu kang besi dan untuk rumah-rumah mereka" Jawab beliau, "ya, kecuali izkhir". (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu A'lam.


Referensi:(Segala Hal tentang Haji Dan Umrah, Penerbit Erlangga, Antara Mekkah & Madinah, Penerbit Erlangga, M. Yudhie Haryono, dkk, 2002, Haji Mistik, Bekasi: Penerbit Nalar. Mediaikhram.com)



Inilah Modus KBIH "Nakal" Di Tanah Suci

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan haji tahun 2014 / 1435 Hijriyah. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah aktivitas Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang dinilai bermasalah.

Kepala PPIH Daerah Kerja Makkah, Endang Jumali, Minggu (19/10/2014), mengatakan pada pertemuan PPIH dengan Inspektorat Jenderal Kemenag di Jeddah, Sabtu (18/10/2014) malam, disepakati ketika ada KBIH yang melanggar aturan dan diketahui identitasnya akan diberikan sanksi.

Foto Masjidil Haram Terbaru
Gambar Masjidil Haram


"Semestinya ada proses edukasi tentang fungsi, peran, dan pendisiplinan mereka. Irjen mengusulkan KBIH tunduk pada SOP yang ditetapkan dan patuh pada ketua kloter. Karena selama ini ada kesan petugas kloter dan pembimbing ibadah takut pada KBIH," katanya.

Endang pun merinci beberapa hal teknis yang menjadi modus "nakal" KBIH. Pertama, KBIH melakukan ziarah ke luar Makkah tanpa koordinasi dengan maktab, sehingga banyak maktab yang komplain. "Kalau terjadi sesuatu, misal ada pencurian. yang bertanggungjawab kan maktab. Kalau maktab tidak tahu, nanti bisa saling lempar," katanya.

Kedua, adanya pungutan tambahan dari KBIH diluar pungutan yang sudah dibayar di tanah air. "Secara pedoman, biaya di KBIH maksimal Rp 3,5 juta sejak dari tanah air. Namun ada yang bisa sampai Rp 7 juta di sini dengan berbagai tambahan," katanya. Termasuk pungutan tentang dam atau denda.

Ketiga, adanya dominasi KBIH dalam pembagian kamar jamaah. Misalnya, dari konfigurasi awal 5 orang per kamar, bisa mejadi 6 atau 7 orang. Dalam hal ini ada indikasi pemadatan yang dikondisikan oleh KBIH. Padahal itu bukanlah wewenangnya.

"Ada juga oknum KBIH yang gunakan visa non kuota, lalu masuk menyelinap di kuota reguler. Yang sudah ketahuan akan ditindak. Kalau dibiarkan, akan ada pembenaran bahwa kalau tidak dapat kuota, ikut saja, gampang dan pasti dimaklumi oleh petugas. Sehingga ada pelegalan sistem," katanya.

Pada sisi lain, KBIH mendapat catatan khusus dari Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, terutama ulah oknum-oknum KBIH yang tidak tunduk pada aturan manajemen Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

"Bagi yang nakal akan kita kasih sanksi sampai pencabutan izin," kata Inspektur Jenderal Kementerian Agama M Jasin usai rapat evaluasi penyelenggaraan ibadah haji Tahun 1435 Hijriyah / 2014 di Kantor Urusan Haji Indonesia, Jeddah, Minggu, 19 Oktober 2014.

Untuk perbaikan penyelenggaraan ibadah haji ke depan, Kementerian Agama akan menyeleksi KBIH-KBIH yang bagus. KBIH ini akan dikumpulkan dan diedukasi agar tidak berorientasi uang yang bisa menambah pengeluaran jemaah.

"Kan kasihan. Misalnya dam. Harus dam yang sah digunakan untuk penyembelihan korban sebagai denda. Tidak boleh pungut biaya yang tidak seharusnya. Juga tidak menempatkan jemaah sesuai kehendaknya," kata Jasin.

Padahal, dalam penempatan jemaah haji di pemondokan, sudah ada tim konfigurasi yang mengatur jumlah orang dalam satu kamar, antara 4-6 orang.

Jasin juga menyoroti KBIH-KBIH yang memaksakan jemaah beribadah sunah melebihi kemampuannya. "Nanti akan dikumpulkan Dirjen PHU untuk dijelaskan bahwa beda orang itu beda kesehatannya, beda umur beda kemampuannya. Jadi yang umur tua jangan dipaksa berkali-kali umrah, 4-10 kali, kan kasihan," kata Jasin. (TribunNews)



Ini Lho Hukum Syukuran Pulang Haji

Syukuran Menyambut Jamaah Haji

Di beberapa tempat, sebagian orang yang baru pulang haji, mereka mengadakan syukuran dan acara makan-makan. Apakah hal semacam ini diperbolehkan?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat menyambut kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari safar atau ketika masuk ke sebuah kota. Diantaranya,

Hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَحَمَلَ وَاحِداً بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang di Mekah, anak-anak kecil dari bani Abdul Muthalib menyambut kedatangan beliau. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong salah satu dari mereka dan yang lain mengikuti dari belakang. (HR. Bukhari)

Kedatangan Jamaah Haji
Jamaah Haji Sedang Bersujud Syukur Ketika Tiba Di Tanah Air


Dalam kitab shohihnya, Imam Bukhari membuat judul bab,

باب استقبال الحاج القادمين
Bab, menyambut kedatangan jamaah haji yang baru pulang.

Kemudian Imam Bukhari menyebutkan hadits di atas.

Abdullah bin Ja’far mengatakan,


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا .فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ . قَالَ : فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pulang dari safar, kami menyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain, lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau, hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim).


An-Naqi’ah

Acara makan-makan dalam rangka menyambut orang yang baru pulang haji disebut an-Naqi’ah. Ini tidak hanya berlaku untuk haji saja, tapi juga dalam semua kegiatan safar (bepergian). Jumhur ulama menganjurkan untuk mengadakan acara makan-makan dalam rangka tasyakuran pulangnya seorang musafir.

An-Nawawi mengatakan,

يستحب النقيعة ، وهي طعام يُعمل لقدوم المسافر ، ويطلق على ما يَعمله المسافر القادم ، وعلى ما يعمله غيرُه له ، … ومما يستدل به لها : حديث جابر رضي الله عنه ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة من سفره نحر جزوراً أو بقرةً ” رواه البخاري

Disunnahkan untuk mengadakan naqi’ah, yaitu hidangan makanan yang digelar sepulang safar. Baik yang menyediakan makanan itu orang yang baru pulang safar atau disediakan orang lain… diantara yang menjadi dalil dalam hal ini adalah hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba dari Madinah sepulang bepergian, beliau menyembelih unta atau sapi. (HR. Bukhari). (Al-Majmu' Syarhil Muhaddzab)

Wallahu A'lam.


Untuk mengetahui jadwal kedatangan atau pemulangan jamaah haji indonesia silahkan buka di link berikut ini.

Jadwal Kedatangan Jamaah Haji Asal Jawa Timur Embarkasi Surabaya (SUB)





Wah, Penyedia Akomodasi Haji Rugi 9.7 Triliun

Rencana peningkatan fasilitas haji oleh pemerintah Arab Saudi memberikan dampak negatif bagi pengusaha di sana. Pasalnya, pemerintah belum menambah kuota jamaah haji.

Dampaknya banyak sekali Pengusaha katering dan hotel di Mekkah dan Madinah mengalami kerugian hingga SR 3 miliar atau sekitar Rp 9,7 triliun pada musim haji tahun ini.

Jamaah Haji Sedang Thowaf Di Masjidil Haram
Jamaah Haji Sedang Thowaf Di Masjidil Haram


Mereka mengklaim kerugian itu terjadi, karena kelebihan pasokan di kedua kota itu, serta banyaknya pembangunan hotel pemerintah.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Riyadh, Mekah, dan Madinah Al Shareef Abu Rayash menyatakan, akan membawa masalah tersebut dalam pembahasan di sebuah forum di Mekah pada 15 November mendatang. Dia menambahkan ada sekitar 30 tim ahli hukum yang akan berbicara pada forum tersebut.

Seperti dikutip dari laman Arab News, Jumat, 17 Oktober 2014, Abu Rayash mengatakan sebanyak 4 komite akan mengajukan petisi terhadap intervensi pemerintah itu. Situasi ini dianggap penting karena dapat menyebabkan kerugian bagi para pengusaha penyedia akomodasi jamaah haji.

"Sewa di Aziziyah turun dari SR 7.000 menjadi SR 2.000. Ini karena adanya tambahan pembangunan proyek 24 hotel di wilayah Kudai," jelasnya. baca juga: Pemondokan Haji Di Aziziyah Mekkah

Abu Rayash memperkirakan banyak individu dan operator properti akan gulung tgikar jika situasi ini terus berlanjut.

Dia menyatakan, pemerintah tidak melakukan perencanaan dengan benar sehingga proyeknya bisa merugikan pengusaha. Situasi akan memburuk ketika pemerintah rencana penambahan kamar dari 500 ribu menjadi 2,2 juta kamar, tidak disertai dengan rencana penambahan jumlah jamaah.