Sunnah Yang Terlupakan: Tambahan Lafadz Adzan Ketika Turun Hujan Lebat




Sunnah Yang Terlupakan: Tambahan Lafadz Adzan Ketika Turun Hujan Lebat


Sunnah Yang Terlupakan: Tambahan Lafadz Adzan Ketika Turun Hujan Lebat

Tahukah bahwa diantara sunat Rasulullah, ada beberapa sunah yang sudah jarang dijumpai di masyarakat sekarang ini. Sunah tersebut adalah adanya tambahan dalam lafadz adzan ketika hujan lebat. Meski banyak ulama yang mengetahuinya, namun sunah ini jarang dikenal oleh masyarakat awam sehingga bisa dianggap sebagai ajaran sesat. Muadzin pun enggan melaksanakannya karena takut dinilai sebagai aliran sesat.

Dalil atau keterangan yang menyatakan adanya perbedaan lafadz adzan ketika waktu biasa dan di waktu hujan adalah dalam riwayat dari Nafi, dari Ibnu Umar.

“Ibnu Umar pernah adzan untuk shalat di malam yang dingin, anginnya kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan,

Alaa Shollu fi rihaalikum, Alaa shollu fir rihaal (Shalatlah di rumah kalian, shalatlah di rumah kalian)
Kemudian beliau mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah biasa menyuruh muadzin apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau safar untuk mengucapkan, ‘Alaa shollu fi rihaalikum.” (HR Muslim)

Keterangan yang lain terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu yang berpesan kepada muadzin ketika hujan lebat.

“Apabila engkau selesai mengucapkan Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna muhammadar Rasulullah, maka janganlah engkau ucapkan , Hayya ‘alash sholaah, tetapi ucapkanlah, Sholluu fi buyyutikum (Shalatlah di rumah kalian)

Masyarakat pun mengingkari perkataan Ibnu Abbas dan ia berkata, “Apakah kalian merasa heran dengan hal ini, padahal hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam).” (HR Muslim, Abu Dawud)

Jadi ada beberapa tambahan lafadz ketika mengumandangkan adzan di waktu hujan lebat.

1. Alaa shollu fir rihaal (shalatlah kalian di rumah)

2. Alaa shollu fi rihaalikum (shalat kalian di rumah kalian)

3. Shollu fi buyutikum (sholatlah di rumah kalian)

Ketiganya tidak harus dilafadzkan secara bersama-sama, melainkan dipilih salah satunya. Adapun pengucapannya dilakukan pada bagian akhir adzan atau bisa mengganti lafadz “Hayya ‘alash sholaah”.

Sementara itu imam Nawawi ketika menjelaskan hadist dari Ibnu Abbas menyatakan,

“Dalam hadist Ibnu Abbas, muadzin mengucapkan, ‘Alaa Shollu fii rihaalikum di tengah adzan. Sedangkan dalam hadist Ibnu Umar, ia mengucapkan lafadz tersebut di akhir adzan. Sehingga kedua cara ini diperbolehkan, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafii rahimahullah dalam kitab Al Umm Bab Adzan dan diikuti pula oleh masyoritas ulama syafiiyah.”

Meski demikian, dalam lanjutan pernyataannya Imam Nawawi menyatakan bahwa melafadzkan sesudah adzan adalah lebih baik. Ini supaya lafadz adzan yang biasa didengar tetap ada dan tidak berubah.

Baca Juga:


Jadi itulah sunah Rasulullah yang terlupakan ketika mengumandangkan adzan saat hujan lebat. Meski pun sulit karena belum terbiasa, alangkah baiknya memahamkan masyarakat dahulu sehingga tidak menjadi sebuah hal yang asing atau menjadi bahan perdebatan.

Wallahu A’lam





loading...

close ini