Begini Jadinya Jika Aqidah Akhlak Tak Ditanamkan Sejak Dini

Diposting pada

KabarMakkah.Com – Belajar sesudah besar laksana mengukir di atas air. Begitu pula jika kita mengajarkan akhlak pada anak yang sudah beranjak remaja. Pengajaran itu cepat hilang tak berbekas. Malah anak tersebut sudah susah diatur dan malah cenderung melawan. Itulah akibat akidah ahklak tak ditanamkan sejak dini. Hal ini pula yang di alami oleh Bu Ara, berikut kisahnya….

Aqidah Akhlak Tak Ditanamkan Sejak Dini

Pernikahan Bu Ara dengan sang suami berjalan mulus dari tahun ke tahun, tanpa pernah terjadi percekcokan yang berarti. Karir sang suami di dunia kerja terus menanjak menaiki tangga demi tangga kepegawaian di kantornya. Hanya ada satu hal yang mengganjal dalam rumah tangganya, yakni belum adanya tawa riang seorang anak yang menyemarakkan suasana.

Sudah lama Bu Ara menginginkan untuk bisa hamil. Segala obat telah diminumnya dan segala terapi telah dilaluinya. Akan tetapi tanda-tanda kehamilan belum juga muncul. Ia dan suaminya pun telah pernah memeriksakan diri mengecek tingkat kesuburan masing-masing. Dokter yang memeriksa kondisi mereka mengatakan bahwa semuanya tidak ada yang salah, mungkin memang Allah belum berkehendak menitipkan seorang anak.

Banyak yang menyarankan agar Bu Ara dan suaminya mengadopsi anak saja. Namun Bu Ara tetap bersikukuh ingin memiliki anak sendiri. Setelah lama berikhtiar akhirnya keinginan Bu Ara terkabul. Pagi itu ia merasa tidak enak badan dan begitu mual. Menyangka bahwa dirinya masuk angin, Bu Ara memeriksakan diri ke klinik terdekat. Namun dokter yang sedang praktek kala itu menyampaikan berita bahwa dirinya tengah mengandung, dengan usia kandungan 1 minggu.

Alangkah bahagia Bu Ara mendengar berita tersebut. Segera Ia kabarkan kembali berita itu pada sang suami, yang tentu saja disambut dengan bahagia pula. Dengan penuh kasih sayang Bu Ara menjaga kondisi kandungannya agar selalu fit. Berbagai macam vitamin ditenggaknya demi sang buah hati. Tak lupa selalu diperdengarkannya musik klasik pada jabang bayi dalam kandungan, karena ia pernah membaca bahwa musik klasik bisa membuat janin tumbuh cerdas.

Sebelum bayinya lahir, segala pernak-pernik dan kebutuhan si kecil telah dipersiapkan. Ia telah mengetahui jenis kelamin sang jabang bayi dari hasil USG, sehingga tidak takut salah saat memilih perlengkapan bayi. Ia tidak mau anak yang selama ini diidam-idamkannya kekurangan sesuatu apa pun.

Ketika sang bayi lahir, tak dapat dilukiskan bagaimana bahagianya Ia. Bu Ara berjanji dalam hati untuk selalu menjaga dan memenuhi segala keinginan putri kecilnya. Maka putri kecil yang diberinya nama Mentari itu tumbuh dengan luapan kasih sayang yang tumpah ruah. Segala keinginan Mentari tidak pernah dikekangnya. Mentari tidak pernah dilibatkannya dalam urusan memasak atau pun bersih-bersih rumah. Anak yang sekarang sudah menginjak usia SD itu tahunya hanya sekolah, makan, dan jajan. Bahkan untuk menyiapkan buku-buku pelajaran, mengenakan pakaian dan sepatu pun dengan senang hati Bu Ara yang melakukan.

Dalam urusan ibadah, Bu Ara malah suka memarahi sang suami ketika hendak membangunkan putrinya yang sedang terlelap untuk Sholat Subuh. Menurutnya, kasihan jika putrinya itu dibangunkan. Biarkan saja Ia tidur toh Ia masih kecil dan belum baligh. Bu Ara memang menitipkan pendidikan agama putrinya pada guru ngaji di mesjid dekat rumah. Sehingga setiap sore, Mentari pergi untuk mengaji. Namun hasil mengaji tersebut tidak pernah ditekankan olehnya, untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari putrinya.

Tahun berganti tahun, tak terasa kini Mentari telah masuk SMP. Mentari mendapatkan haidh pertamanya pada pertengahan semester awal di kelas 1 SMP. Awalnya bu Ara tidak begitu mementingkan perkara haidh ini. Hingga Mentari menanyakan bagaimana caranya mandi untuk bersuci dari haidh.

Bu Ara takut jika cara bersuci yang selama ini dilakukannya adalah salah. Maka dia tidak langsung menjawab pertanyaan Mentari. Bu Ara berkata :”Nanti ibu tanyakan dulu pada ustadzah yang sering mengisi acara pengajian ibu-ibu”.

Tiba saat bertemu sang ustadzah, tanpa ragu Bu Ara menanyakan hal serupa yang ditanyakan putrinya. Sang ustadzah menjelaskan dengan detail cara-cara bersuci dari haidh. Namun disamping itu sang ustadzah memberikan penjelasan berikut:

Jika benar putri ibu telah mengalami haidh, maka itu berarti putri ibu telah menjadi mukallaf. Mukallaf artinya orang yang sudah terkenai kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama. Jika perintah agama tidak dikerjakannya dan jika larangan agama malah dilakukannya, maka putri ibu sudah dikategorikan berbuat dosa. Dosa yang kelak harus dipertanggung-jawabkannya di hadapan Allah SWT.


Tentunya ibu sebagai orang yang sangat mencintainya, tidak mau jika sampai putri ibu berenang-renang dalam lautan api neraka. Rasulullah menggambarkan bahwa panasnya api neraka begitu dahsyat. Jangankan berenang di dalamnya, baru ujung jempol kaki yang menyentuh api tersebut maka yang bergejolak adalah ubun-ubun.


Coba kita bayangkan jika ubun-ubun sampai bergejolak,maka tentunya panas api neraka itu menjalar dari ujung kaki…lalu mendidihkan usus, lambung, paru-paru, jantung dan sampai ke otak. Semuanya bergejolak terkena panasnya.


Siapakah yang sanggup menanggung siksaan seperti itu?…. Naudzubillahi min dzalika
Maka Maha Benarlah Allah yang menyeru… Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian, jagalah keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu-batuan….


Oleh karena itu ajarkan pada putri Ibu bahwa sekarang harus sudah berubah. Tekankan pada putri Ibu untuk menjaga sholat dalam keadaan apa pun kecuali ketika berhalangan. Tanamkan padanya bahwa sekarang dia berkewajiban mengenakan jilbab ketika keluar rumah karena selembar rambutnya pun yang terlihat oleh non muhrim sudah menjadi aurat.


Namun bersabarlah dalam proses mengajarkan dan menanamkan akidah akhlak ini. Jangan cepat menyerah dan jangan melibatkan amarah. Sedikit demi sedikit kawal putri ibu untuk menjadi muslimah yang bertanggung jawab pada Robbnya..

Berbekal tausyiah dari sang ustadzah, Bu Ara bertekad untuk merubah pola didiknya pada sang putri. Sebenarnya ketika mendengar tausyiah tersebut, Bu Ara merasa begitu malu. Ia malu karena dirinya sendiri sering melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Namun masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. “Akan kujaga diri dan keluargaku dari api neraka, Insya Allah”. Sahutnya.

Ketika sepertiga malam tiba, Bu Ara yang biasanya masih berselimut hangat kini memaksakan diri untuk bangun mengambil air wudhlu dan mendirikan tahajud. Ditepisnya rasa kantuk yang menyerang. Dia pula yang membangunkan suaminya agar segera siap-siap untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.

Tiba giliran putrinya untuk dibangunkan. Dengan penuh kasih sayang, dibelainya kepala Mentari sambil disuruhnya untuk bangun. Namun bukannya bangun, Mentari malah menarik selimut semakin rapat ke tubuhnya. Bu Ara kembali berusaha membangunkan Mentari dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya sedikit lebih keras. Namun Mentari tetap tidak mau bangun.

Dibiarkannya putrinya itu untuk tidur sedikit lebih lama. Kemudian diguncang-guncangkannya kembali tubuh putrinya. Dengan kesal akhirnya Mentari bangun juga. Sambil uring-uringan karena merasa tidurnya terganggu, Mentari mengambil air wudhu dan mendirikan sholat dengan cepat tanpa memaknai apa yang dibacanya dalam sholat.

Bu Ara pun sekarang mewajibkan putrinya untuk berpakaian serba panjang lengkap dengan kerudung ketika ke sekolah dan ketika main di luar rumah. Namun dengan nada sedikit tinggi putrinya tersebut malah menjawab :” Gerah ah bu!”.

Dengan sabar bu Ara menjawab :”Nak, lebih baik sekarang di dunia sedikit gerah daripada nanti di akhirat memasuki api yang kekal panasnya.

Mentari menjawab :” Gak mau bu ah, kaya emak-emak. Gak gaul. Lagian ibu ni sekarang cerewet sekali, banyak nyuruh aku ini,. aku itu.. Ustadzah juga bukan!”.

Mendengar perkataan Mentari, Ia sadar bahwa dirinya sudah salah pola asuhan. Seharusnya yang diperdengarkannya pada janin dalam kandungan bukanlah musik klasik, namun lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Seharusnya bukan hanya kebutuhan raga yang selalu dipenuhinya bagi Mentari. Namun kebutuhan jiwa anak itu harus Ia utamakan.

Ia tidak mengajarkan amalan-amalan sholeh pada putrinya semenjak dini, sehingga sekarang Ia kesusahan sendiri dalam memperbaiki akhlak sang putri. Bukannya Ia tidak berbalik kesal pada ucapan Mentari, namun ia selalu ingat ucapan sang ustadzah bahwa Ia harus bersabar dan harus mampu menahan amarah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar terhadap putrinya.

Semoga kita semua juga bisa bersabar dan diberi kemudahan untuk terus mengajarkan putra putri kita untuk berakhlak dan berakidah sedari kecil hingga dewasa dan tak mengikuti kesalahan mendidik seperti yang dilakukan oleh Bu Ara saat putrinya masih kecil.

Loading...