Terkena Serangan Jantung, Jamaah Haji Indonesia Ini Innalillahi di Makkah



Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun, Salah satu jamaah haji Indonesia meninggal dunia setelah terkena serangan jantung di Makkah.

Terkena Serangan Jantung, Jamaah Haji Indonesia Ini Innalillahi di Makkah
Petugas kesehatan membawa jamaah haji risti ke Ambulance menuju Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI


Jamaah ini diketahui berasal dari Kecamatan Parung, Kab Bandung, Jawa Barat. Almarhum meninggal dunia di Makkah, Rabu (9/8) pukul 23.45 waktu Arab Saudi (QAS).

Koordinator Humas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) daerah kerja (Daker) Makkah, dr Ayesha Devina, mengatakan jamaah bernama Engkos Kostiman bin Darya yang berasal dari Embarkasi Jakarta (JKS) 6 dengan nomor paspor B7220180.

“Riwayat penyakitnya hipertensi dan jantung,” kata dia di Makkah, Kamis (10/8).

Dia menambahkan, hingga hari ini, Kamis (10/8) pasien yang dirawat di ICU sebanyak dua orang, rawat inap 24, rawat psikiatri satu orang, dan Obs IGD dua orang. Sementara ada pula jamaah yang di rawat di Rumah Sakit Arab Saudi (SAS) sebanyak 22 orang.    

Menurut Asyesha, keluhan didominasi lelah fisik setelah berada di Madinah dan letih perjalanan menunju Makkah. Di antara penyebab kelelahan itu, begitu para jamaah datang di Makkah langsung dipaksakan berumrah wajib sementara daya tahan tubuh sangat berkurang terutama mereka yang berusia lanjut. Ini menyebabkan gejala yang awalnya tidak muncul hanya silent menjadi bermanifestasi serta menimbulkan komplikasi lebih jauh.    

“Rata-rata punya sakit jantung dan penyakit paru-paru,” kata dia.

Ayesha mengimbau jamaah haji setelah sampai di Makkah, untuk tidak langsung melaksanakan umrah qudum, berikan kesempatan istirahat secukupnya kepada jamaah setelah kelelahan melakukan perjalanan Madinah Makkah. Dia  juga mengimbau jamaah tidak melakukan umrah pada siang hari karena akan sangat berisiko.  

Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr Yanuar Fajar meinta jamaah haji Indonesia beristirahat yang cukup dan tidak terlalu memforsir beribadah sunat apalagi melakukan aktivitas luar ruangan selain beribadah. “Jika aktivitas  di luar dikhawatirkan akan menguras energy karena puncak musim haji masih panjang kurang lebih sebulan lagi,” papar dia.          

Dia mengingatkan jika jamaah tetap beraktivitas di siang hari jangan sampai lupa memakai alat pelindung panas dan pelindung kaki karena cuaca ekstrem, hati-hati bisa melepuh terutama penderita diabetes bisa terasa kaki melepuh. Biasanya mereka ke masjid pada malam hari dan keluar saat matahari mulai panas.

Akibatnya kakinya melepuh. Ini rawan apalagi buat jamaah yang mempunya penyakit gula. Biasanya tidak terasa tersengat panas, namun akan berasa setelah sampai di pemondokan.  “Ini penting karena ada jamaah yang biasa suka tidak pakai sandal,” kata dia


loading...