Sulitnya Menyapih Diri



Tahukah Anda apa itu menyapih? Ya, menyapih adalah sebuah usaha untuk memberhentikan anak bayi dari menyusu ASI pada ibunya. Kalau tidak disapih, bayi yang sudah merasakan nyamannya air susu ibu tidak akan berhenti menyusu sampai dia besar. Bukan kisah karangan jika ada anak yang tetap menyusu sampai usia 4 tahun. Berhentinya anak ini menyusu adalah karena adanya peristiwa "mengerikan."

Sulitnya Menyapih Diri


Menyapih anak tentu perkara yang sulit. Namun hal ini harus dilakukan untuk mempersiapkan anak meneruskan perkembangan jiwanya menjadi remaja dan dewasa. Tak akan pernah dewasa jika anak dibiarkan tetap menyusu.

Lebih sulit lagi adalah menyapih diri kita dari menyusu pada dunia. Jiwa kita tak akan pernah menjadi dewasa jika tak disapih. Menyapih adalah menghapuskan ketergantungan. Menyenangi masih boleh namun menggantungkan diri pada dunia adalah terlarang.

Imam Al Bushairi dalam Qashidah burdahnya mengatakan, "Nafsu itu seperti bayi yang menyusu. Jika engkau tidak tegas menyapihnya, maka ia akan tumbuh besar dan sulit dilepaskan dari susuan."

Karakter nafsu memang tidak bersifat netral. Ia sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiarkan akan terus mengarah kepada apa yang disenangi. Dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Inilah yang disebut dengan “nafsu ammaaratun bis suu’.” Seperti ucapan Nabi Yusuf alaihis salam yang dikisahkan oleh Allah,

“…karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.” (QS Yusuf 53)

seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu tak puas hanya sebatas itu. Ia terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan dengan cara yang haram, mengelola untuk tujuan yang haram, atau menyibukkan manusia dengan semua perhiasan itu, hingga mereka lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. Begitulah peranan nafsu dalam menyeret manusia menuju daerah larangan Allah.

Nafsu juga cenderung untuk berleha-leha, hanya menerima enaknya saja dan cenderung malas untuk berjuang dan berkorban, sementara ibadah kepada Allah menuntut total ketundukan dan pengorbanan. Karenanya, kemudian manusia enggan melakukan kewajiban dan keutamaan. Nafsu membuat kewajiban menjadi terabaikan.

Jika Nafsu Dituruti, Tak Pernah Terpuasi

Sisi lain dari bahaya nafsu, ia tidak akan pernah terpuasi. Makin dituruti, makin liar pula mencari-cari. Nabi saw memberikan gambaran tentang nafsu manusia,

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Andaikan anak Adam memiliki dua ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.” (HR Bukhari)

Orang yang melampiaskan nafsunya di tempat yang haram, baik berkenaan dengan wanita, minuman keras atau mencari harta dengan jalan dosa, sulit baginya untuk berhenti. Bukan karena mereka merasa nikmat dengan apa yang telah mereka cicipi, tapi karena sulitnya mereka keluar dari kubangan syahwat dan kuatnya cengkeraman nafsu membelenggu. Dan nafsu tak akan puas hanya dengan satu jenis maksiat saja.

Ibnul Qayyim al-Juaziyah mengatakan, “Hendaknya orang yang berakal mengetahui bahwa orang yang menuruti kemauan syahwat, akan tergiur untuk berpindah dari satu jenis syahwat menuju syahwat yang lain. Pun ia tidak akan pernah puas karenanya, tetapi tidak pula kuasa untuk meninggalkan kebiasaannya. Karena seakan itu telah menjadi bagian hidup yang mesti di jalaninya. Untuk itu, Anda juga melihat bahwa orang yang terus mabuk khamr dan zina tidak pernah merasakan sepersepuluh kepuasan yang didapat orang lain dalam hidupnya.

Syeikh Ath-Thanthawi bahkan memberikan pengandaian yang lebih berani, “Seandainya diberikan kepada Anda seluruh harta Qarun, postur tubuh seperti Herkules dan disediakan untukmu sepuluh ribu wanita yang paling cantik dari berbagai warna kulit, bentuk dan berbagai sisi kecantikan, apakah Anda mengira telah cukup puas? Tidak, aku katakan dengan tegas, ‘tidak.., aku menulisnya dengan pena yang tajam. Akan tetapi, satu saja wanita yang halal untukmu niscaya cukup bagi Anda. Janganlah Anda menuntut bukti kepada saya, karena setiap kali Anda menoleh kepada kehidupan sekitar Anda niscaya Anda akan mendapatkan bukti yang valid, jelas dan kasat mata.”

Kendati demikian, jika nafsu itu disapih, maka tak akan membuat manusia celaka. Dengan dipandu oleh wahyu, dibimbing oleh syariat, nafsu yang liar bisa ditundukkan menjadi tenang. Ia akan ridha dalam ketaatan dan benci terhadap kemaksiatan. Inilah yang disebut dengan nafsul muthma’innah.

Sebagaimana firman Allah,

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya…” (QS al-Fajr 27-28)

Para pembaca kabarmakkah.com yang dirahmati Allah, Lihatlah perbuatan kita yang belum bisa menyapih diri dari dunia. Mereka bertengkar berebut susu dunia, mereka menangis jika tak kebagian dan bahkan mereka berteriak histeris demi mendapatkannya. Kemudian lihatlah mereka yang sudah berhasil menyapih diri. Tak ada susu mereka tetap tersenyum karena Allah telah menyiapkan gizi yang lain yang lebih beragam nama, rasa dan jenisnya. Subhanallah.



loading...