Meski Menjadi Polisi, Muslim Inggris Ini Tetap Pelihara Jenggot Dan Shalat Tepat Waktu




Meski Menjadi Polisi, Muslim Inggris Ini Tetap Pelihara Jenggot Dan Shalat Tepat Waktu

Meski Menjadi Polisi, Muslim Inggris Ini Tetap Pelihara Jenggot Dan Shalat Tepat Waktu

Menjadi seorang pengayom masyarakat tidak menjadi halangan bagi seorang muslim untuk memenuhi kewajibannya kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Seperti itulah yang dilakukan oleh seorang polisi muslim di Inggris yang menjadi mualaf sekitar 8 tahun yang lalu.

Meski terbilang sebentar, namun polisi bernama Daniel ini mampu memahami bahasa arab sekitar 80% dan mendapatkan ijazah atas pembelajaran qiraah Al Qur’an.

Awalnya Daniel memeluk agama islam sebelum menjadi seorang polisi. Kala itu ia tengah berada di masjid tempat ia biasa melaksanakan shalat. Kemudian salah seorang pihak kepolisian menawarkan pekerjaan padanya bahwa ada lowongan sebagai polisi bagi warga muslim. Atas pertimbangan itu, Daniel pun memutuskan untuk mendaftar sebagai seorang polisi.

Daniel termasuk orang yang berusaha teguh dalam memeluk agamanya dan hal itu pun ia ajukan sebagai syarat ketika diseleksi oleh pihak kepolisian. Ia mengajukan 3 hal yakni bisa melaksanakan sholat jumat di masjid, bisa shalat lima waktu dan diijinkan untuk memelihara jenggot sebagai identitas seorang muslim.

Setelah mempertimbangkan 3 persyaratan yang diajukan Daniel, pihak kepolisian pun mengabulkannya dan menjadikan dirinya sebagai seorang polisi Inggris.


Sebuah hal yang terbalik dengan kondisi di negeri ini dimana warga muslim yang sudah sejak lahir memeluk agama islam, rela mengorbankan syiar islam hanya demi mendapatkan pekerjaan. Sementara Daniel dengan berani memberikan syarat identitasnya sebagai muslim meski saat itu ia membutuhkan pekerjaan.

Maka terkadang jika melihat amal dan keteguhan seorang mualaf, justru kitalah yang seakan menjadi mualaf dalam mengaplikasikan agama karena kita belum berani dan seteguh mereka dalam menerapkan ajaran islam.

Baca Juga:


Semoga hal tersebut menjadi intropeksi bagi kita semua untuk benar-benar mendalami agama yang sejak kecil telah kita anut agar tidak hanya menjadi pengakuan tanpa bukti. Wallahu A’lam