Rezeki Mengejar Kita Sebagaimana Maut Mengejar




KabarMakkah.Com – Kisah tentang rezeki mengejar kita ternyata memang bukan sebuah ucapan saja. Banyak yang telah membuktikan dan merasakannya dimana ketika kita mendekat kepada Allah, maka rezeki pun akan mendekat.

Kisah ini bermula saat Aku pulang dari kantor. Ketika di perjalanan, ku teringat untuk membeli titipan orang rumah yaitu ketoprak. Setelah cukup lama mencari, ketemulah dengan sebuah gerobak ketoprak. Namun aneh, gerobak tersebut tidak ada pedagang yang menunggu. Padahal dagangannya masih ada.

Rezeki Mengejar Kita Sebagaimana Maut Mengejar
Ilustrasi
“Pak ini tukang ketopraknya lagi kemana?” Tanyaku pada penjual es yang dekat dengan gerobak tersebut.

“Lagi sholat mungkin. Tunggu aja beberapa saat lagi. Udah dari tadi kok.” Jawab tukang es

Cukup lama Aku menunggu dan tetap bertahan karena pesanan rumah mesti dibawa saat pulang nanti. Sempat terpikir olehku bahwa jika jualan ditinggal lama seperti ini, para pelanggan atau pembeli akan kabur dan memilih penjual lain.

Tak beberapa lama kemudian, muncullah tukang ketoprak tersebut dan bertanya mau bikin berapa sambil meminta maaf karena lama menunggu. Aku pun kemudian berkata, “Beli satu bungkus, Pak!”

Namun sebuah lintasan pikiran muncul dalam pikiran, “Eh dua aja deh Pak!”

Sembari membuat pesananku, beberapa orang mulai berdatangan secara tiba-tiba seperti ada yang mengomando. Mereka pun antri membeli ketoprak bapak-bapak tersebut.

Subhaanallah, kejadian tersebut menyadarkanku bahwa tidak sedikit pedagang yang rela meninggalkan shalat demi berdagang. Padahal belum tentu dagangannya laku atau ada yang beli. Ada juga yang meninggalkan shalat hanya karena alasan ramai pembeli. Bisa-bisa itu merupakan istidraj dari Allah.

Tak ubahnya pedagang, karyawan kantor rela meninggalkan shalat hanya karena alasan sibuk kerja, meeting atau ketemu klien. Mereka telah lupa bahwa Allah-lah yang memberi rezeki dan mengaturnya.

Tukang ketoprak yang kutemui tadi seakan rela kehilangan rezekinya hanya karena melaksanakan sholat. Namun ternyata Allah membalasnya dengan membuat pembeli ramai berdatangan layaknya semut yang mengerumuni gula sesaat setelah ia melaksanakan sholat.

Begitu pun dengan diriku yang seakan ada lintasan pikiran yang membuat niat awalnya membeli satu bungkus menjadi dua bungkus.

Sungguh benarlah sabda dari Rasulullah

“Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.” (HR Ibnu Hibban)

Dari kisah tersebut, sudah selayaknya untuk kita intropeksi diri bahwa apa yang kita lakukan selama ini yaitu meninggalkan sholat ataupun menunda shalat karena mengais rezeki sebenarnya justru akan mempersempit rezeki kita. Bagaimana pun kita bekerja keras, namun Allah Sang Pemilik Rezeki tidak memberikannya, maka usaha kita berakhir sia-sia.

Karena itu jangan tinggalkan sholat hanya demi pekerjaan ataupun karena berdagang. Ingat! Allah yang melapangkan rezeki dan Allah pula yang mempersempit rezeki.

Wallahu A’lam