Kyai Kampung Ini Akhirnya Berhasil Cium Hajar Aswad Setelah ‘Menipu’ Askar Saudi

Diposting pada

Setiap manusia, tentu mempunyai cita-cita yang ingin diwujudkan. Begitupun dengan Basyirun, Seorang Kyai kampung dari Salatiga. Dalam perjalanan ibadah hajinya kala itu, ia punya harapan besar yang ingin ia capai. Bukan sembarangan, ia mendambakan bisa mencium Hajar Aswad ketika thawaf di Baitullah.

Kyai Kampung Ini Akhirnya Berhasil Cium Hajar Aswad Setelah 'Menipu' Askar Saudi

Berulang kali ia mencoba, tetap saja tidak berhasil. Hal tersebut karena padatnya jamaah yang sedang berada di pelataran Ka’bah. Apalagi saat itu adalah musim haji, jutaan orang berkumpul jadi satu disana. Dan pasti, mereka pun—meski tidak semua—juga memiliki misi yang sama dengan Kyai Basyirun. Ya, dapat mengecup ‘si batu hitam’ meski hanya sekejap saja.

Melihat pemandangan seperti itu, Hatinya semakin ciut. Berbagai macam usaha telah ia lakukan demi mewujudkan cita-citanya itu. Namun, masih saja belum berhasil.

Mulai dari mendadak tersesat, senggolan dengan jamaah haji asal Afrika yang berbadan tinggi, hingga injakan kaki jamaah lain pun mewarnai perjuangannya dalam mencapai Hajar Aswad. Belum lagi dengan penjagaan ketat yang dilakukan oleh polisi Askar. Tentu, seakan harapannya bakal karam ditelan jutaan gelombang manusia yang sedang berthawaf.

Waktu terus berjalan. Akhirnya ia memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Dalam percobaannya yang kesekian kali ini, Kyai Basyirun memakai cara lain. Ia awali perjalanan misinya dengan bermunajat terlebih dahulu di maktab penginapannya. Ia sadar betul, sesuatu yang besar tak akan terwujud jika hanya mengandalkan kekuatan tubuh kecil seperti dirinya. Butuh pertolongan dan rahmat Allah yang Maha Kuasa untuk mewujudkan harapan tersebut.

Ternyata mujarab! Setelah bermunajat tiba-tiba saja ia mendapatkan ide ‘konyol’ agar bisa mencapai hajar aswad. Dengan langkah gontai, ia tidak langsung menuju Masjidil Haram. Akan tetapi ia malah masuk ke sebuah pertokoan dekat penginapannya.

Di dalam toko, justru ia malah sibuk memilah milih kaca mata berwarna gelap. Seakan ia telah lupa akan misinya. Sungguh, perjalanan misinya kali ini sangat aneh. Namun ia terlihat sangat percaya diri setelah berhasil mendapat kaca mata yang dirasanya pas untuk kedua matanya.

Memasuki pintu Masjidil Haram, ia menarik napas dalam-dalam. Dengan mengejapkan mata,  mulutnya berkomat-kamit merapalkan shalawat. Kaca mata yang telah ia beli pun mulai ia sematkan di muka, menutupi kedua matanya. Mulailah ia menjalankan misinya.

Entah mengapa, di sepanjang jalan dari pintu Masjidil Haram menuju Ka’bah di tengahnya ia selalu berkata:

“Thariq… thariq… thariq… (beri jalan… jalan… jalan…)”

Sambil meraba-rabakan kedua tangannya, ia berlagak persis bak orang buta tak tau arah jalannya. Otomatis, para jamaah haji lainnya pun merasa iba. Hingga akhirnya secara perlahan mereka mulai menyingkir memberikan jalan bagi kyai kampung tersebut.

Pun dengan barisan Askar, meskipun tubuh mereka kekar dan wajahnya terlihat sangar. Namun mereka juga masih memiliki hati nurani dan merasa iba melihat ada bapak-bapak paruh baya yang ‘buta’ meminta petunjuk arah.

Dituntunlah kyai ‘buta’ tersebut sesuai arah langkah kakinya. Selangkah demi selangkah ia mulai mengarah kepada ‘si batu hitam’. Berhasil!

Akhirnya Kyai Basyirun bisa mengecup mesra hajar aswad didampingi Askar pula. Betapa bahagianya ia. Hingga akhirnya ia melepas kaca matanya kemudian memandang sang askar yang masih iba. Sambil terkekeh ia berkata:

“Syukron (terima kasih)!”

Dengan langkah gontai ia tinggalkan askar tersebut yang masih melongo tak menyadari akan apa yang terjadi.

Loading...