Tak Perlu Takut Menyampaikan Kebenaran

Diposting pada

Kebenaran begitu banyak dicari-cari orang. Anehnya, para penegak kebenaran justru sering dikejar-kejar orang. Bagaimana ini?

Tak Perlu Takut Menyampaikan Kebenaran

Setiap kaum muslimin mempunyai tanggung jawab keummatan yang tidak boleh terlepas dari dirinya, yakni menyampaikan kebenaran. Tanggung jawab ini menjadi melekat pada siapa saja yang telah menyandang predikat sebagai orang yang telah berserah diri kepada Allah, muslim. Apabila seseorang telah mengikrarkan diri bergabung dalam ikatan dienul Islam, maka secara otomatis tawar-menawar tidak berlaku lagi, bagaimana pun juga bentuknya. Sekecil apapun bentuk tanggung jawab itu.

Sebagaimana halnya bila kita bekerja pada sebuah perusahaan, maka aturan-aturan yang ditegakkan oleh perusahaan semestinya patuhi. Kita tunduk dengan apa yang telah ditetapkan di dalamnya. Sebagai bentuk pembantahan, resikonya bisa dirasakannya sendiri. Mungkin berupa teguran, peringatan, penundaan kenaikan jabatan atau bahkan di-PHK. Begitu pula bila kita memasuki atau menjadi anggota dari sebuah komunitas –bahkan juga negara. Komunitas itu memiliki aturan, yang tidak bisa kita bantah, kecuali kita akan mendapatkan hukuman.

Demikianlah halnya dengan al-Islam agama yang mulia ini, perlu ditegakkan dengan kemuliaan, dengan kebenaran, oleh orang-orang yang telah mengikatkan diri dengannya. Hanya bedanya, di dalam Islam, pelaksanaan segala macam aturan dan larangan itu dimulai dari kesadaran lubuk hati yang paling dalam sehingga tidak ada sesuatupun yang merupakan paksaan. Syariah Islam tidak memerlukan polisi, karena tidak ada gunanya pelaksanaan sesuatu bila tidak dilandasi keikhalasan dan semangat mengabdi kepada Allah secara tulus.

Dengan cara benar

Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.'” (QS al-Baqarah: 219)

Seorang anak muda yang baru tersentuh dengan penjelasan ayat ini, ada yang segera bergegas ke tempat maksiat. Dalam benaknya, untuk mendekati para peminum dan orang-orang yang masih gemar berjudi, harus ikut minum-minum juga dan berjudi juga. Alasannya sederhana, agar dapat merasakan bagaimana sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu. Dengan demikian ia akan mengetahui di mana sela-sela yang bisa dimasuki untuk kegiatan amar ma’rufnya. Untuk mereka yang memiliki tingkat iman yang kuat, apa yang dilakukan ini semacam uji coba benteng pertahanan imannya. Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari, para pemabuk dan penjudi itu akhirnya bertaubat dan bahkan di atas perkampungan judi itu didirikan sebuah pondok pesantren. Tetapi untuk mereka yang tidak punya dasar?

Sekilas apa yang anak muda ini lakukan cukup masuk di akal. Apalagi ditambah dengan segenggam argumentasi yang cukup meyakinkan. Sebelum bertindak segalanya diselidiki dahulu, katanya. Tetapi bukankah itu sama dengan bermain api? Sebab risikonya cukup tinggi lantaran ia sendiri belum meliliki landasan pijak yang kuat. Bagaimana bila nantinya malah ia sendiri terjerumus ke dalamnya?

Versi lain dari kasus yang dilakukan oleh anak muda itu, banyak kita jumpai di lapangan. Ada yang berprinsip, kalau ingin membenahi, lebih baik dari dalam. Artinya, masuk dulu, baru kemudian lakukan sesuatu. Teriak-teriak dari luar jarang sekali didengar. Tetapi bagaimana kenyataannya setelah mereka benar-benar masuk? Jangankan membenahi, menjaga diri saja sudah sulit. Budaya yang sudah mengakar rupanya begitu kuat mempengaruhi para pendatang baru, sehingga siapa sajapun kemudian harus melakukan kesalahan dan penyelewengan yang sama.

Ada pula yang berseberangan sama sekali dengan cara di atas. Mereka menolak mentah-mentah, lalu melakukan aksi dengan caranya sendiri. Ada yang hanya degan demostrasi, tetapi ada pula yang lebih dari itu, mulai dari perusakan-perusakan hingga aktivitas terorisme. Tindak ke-makar-an itu bisa sampai merusak lingkungan sendiri. Akhirnya kesan yang muncul justru sebaliknya. Pandangan orang terhadap Islam menjadi kabur, seolah Islam identik dengaFn kekerasan. Islam itu kejam dan selalu berwarna merah, tidak pernah sejuk dan memberikan kesejukkan.

Yang lebih memperihatinkan lagi bila cara yang keliru seperti itu kemudian dimanfaatkan oleh ‘orang lain’ untuk mewujudkan kepentingannya, sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, atau juga di Aljazair. Kesan kesejukan Islam hilang sama sekali, karena ditunggangi kalangan tidak bertanggung jawab yang tega membunuhi orang dan menculik gadis-gadis untuk diperkosa dan akhirnya dibunuh juga.

Ini sungguh tragis jadinya, Islam seolah tidak pernah tampil menenteramkan panggung dunia. Padahal, dalam peperangan yang paling sengit sekalipun agama menuntun kita supaya tidak kehilangan keseimbangan. Kesucian perang harus tetap dijaga, jangan sampai ternodai oleh kehendak nafsu. Wanita, anak kecil, orang tua jompo, sampai kepada tumbuh-tumbuhan harus tetap memperolah hak-hak hidup dan hak-hak aman. Ini tidak mungkin akan diperoleh dari sebuah pergulatan yang dipenuhi oleh hawa nafsu. Perang sebagai wujud menegakkan iman boleh berkibar sedahsyat-dahsyatnya, akan tetapi nafsu harus ditempatkan di samping. Bila kebesaran perang karena kebuasan nafsu, maka kemenangan yang dihasilkan adalah kemenangan nafsu, bukan iman. Bila ini yang terjadi, maka tidaklah akan pernah ada perdamaian kecuali akan ditumbangkan oleh kekuatan nafsu juga. Umur dari kemenangan yang seperti ini biasanya tidak bertahan lama.

Jadi jelaslah sebenarnya, untuk menyampaikan kebenaran, perlu ditempuh dengan cara yang benar pula. Untuk mewujudkan keadilan, perlu ditempuh dengan cara yang adil, bukan dengan cara yang tidak berprikeadilan.

Niat menyampaikan kebenaran

Semangat untuk menyampaikan kebenaran harus diniatkan semantap-mantapnya. Niat yang mantap ini perlu agar kerja menegakkan kebenaran tidak hanya mengikuti arah angin saja, tidak sekadar ikut-ikutan: bila sedang tidak ada gairah maka berhentilah sudah. Niat ini semestinya dikukuhkan dan dikokohkan dalam sanubarinya yang paling dalam, sehingga akarnya benar-benar kuat tidak mudah dipengaruhi oleh ancaman-ancaman maupun godaan.

Apalagi menyampaikan kebenaran ini bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara sambilan. Tanggung jawab ini memerlukan kesungguhan luar dalam, perlu keseriusan lahir dan batin. Sebagai contoh tidaklah jauh-jauh atau yang tinggi-tinggi, untuk menegakkan shalat wajib secara baik dan benar. Agar tetap beristiqamah menjalankan kewajiban ini jelas diperlukan dorongan ruhani yang kuat. Bila tidak, bisa terpental-pental. Niat dan tekad kuat itu yang membuat kita bisa tegak berdiri dan diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

Belum lagi bicara shalat tepat pada waktunya, terlebih untuk bisa melakukannya dengan berjamaah. Ini semua merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Karena lawannya adalah diri sendiri, musuhnya adalah kemalasan yang tumbuh dari hawa nafsu sendiri.

Tidak perlu takut

Untuk menyampaikan sesuatu yang benar sebagai kebenaran, orang sering dihantui rasa takut. Belum sepatah kata keluar dari mulutnya seolah-olah setumpuk masalah sulit sudah menghadangnya. Baru saja keinginan untuk itu muncul, segudang keraguan, kekhawatiran, dan rasa cemas menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ketakutan itu hanyalah bayang-bayang yang tidak semestinya terjadi. Namun sudah barang tentu untuk tidak gampang takut dengan hal yang seperti itu juga tidak mudah, harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya. Syarat inilah yang terkadang sangat berat dipersiapkan.

Jauh sebelum materi kebenaran itu disampaikan, semestinya terlebih dahulu kebenaran akrab dengan dirinya, dengan pribadi dan jiwanya. Sebab orang yang ngomong doang, sebentar saja akan dilecehkan orang lain, ibarat pemabuk yang menasihati anaknya agar jangan mabuk-mabukan. Bila syarat seperti itu telah dipenuhi, barulah ada perasaan kuat untuk mengamalkan seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam haditsnya berikut ini:

“Rasa takut (segan) terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikannya atau mendengarnya.” (HR Ahmad)

Hadits serupa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, bahkan mengandung penekanan yang lebih jelas, “Janganlah takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang sukan mencela.” Aku berkata, “Tambah lagi ya Rasulullah.” Beliau melanjutkan pesannya, “Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnya terasa pahit.” (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah sendiri sudah mengisyaratkan, bahwa akibatnya akan pahit. Tetapi itu hanya sebatas di dunia. Sama dengan orang yang harus menelan obat, seberapapun pahitnya bila yakin bahwa itu akan menyembuhkan, seharusnya ditempuh juga.

Sekali lagi, perkara menyampaikan kebenaran ini jangan dianggap sebagai hak (asasi) melainkan kewajiban. Kita tidak bisa berkilah bahwa merupakan hak kita untuk melakukannya atau tidak melakukan. Bila kita telah mulai melalaikan kewajiban ini, maka kita telah mengingkari amanat dari misi suci Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin..

Loading...