Merubah Kiblat Wanita

Merubah Kiblat Wanita

author photo
Modern biasanya selalu dikaitkan dengan western. Itulah sebabnya kiblat dari modernisasi adalah Barat. Apa saja yang ada di Barat dianggap maju, modern, dan prestisius. Mengikuti arus kemajuan, sebaliknya, membelakangi Barat adalah kolot, kuno dan tradisional.

Merubah Kiblat Wanita


Rata-rata kita takut kena cap ini. Termasuk para wanita kita. Itulah sebabnya, sejak tahun enam puluhan terbit majalah wanita yang menterjemahkan langsung gaya hidup Barat. Majalah-majalah itu telah mempelopori modernisasi wanita Indonesia dengan menelan pil Barat bulat-bulat.

Dan di zaman sekarang pun menjamur berbagai media berlabel 'islami' yang menyuguhkan informasi yang tak mendidik umat, bahkan malah menyingkirkan ajaran syariat.

Hampir semua label disana menyuguhkan rubrik khusus mode hingga profil, dari rubrik konsultasi hingga Menu Minggu ini, menampilkan gaya hidup Barat. Yang dihidangkan sebagai tokoh adalah wanita karir, bintang film, foto model atau istri-istri pejabat yang kesukaannya menghambur-hamburkan kekayaan.

Tentu saja banyak pembacanya kemudian ikut-ikutan hanyut mengikuti arus yang mereka bawa. Mereka betul-betul menjadi wanita modern dalam pengertian yang mereka buat sendiri. Meninggalkan adat kebiasaan lama.

Ada pula sebenarnya wanita muslimah yang teguh mempertahankan tradisinya, akan tetapi mereka juga berusaha agar tidak dicap sebagai kolot, kuno dan tradisional. Karenanya mereka menggelar seminar dan simposium dengan tema-tema wanita. Mulailah di sana dibahas bahwa poligami itu sebenarnya tidak boleh, karena ada syarat adil bagi suami yang sulit dilaksanakan. Keluar rumah sendirian tanpa mahram itu tidak apa-apa asal bisa menjaga diri baik-baik, wanita karir itu tuntutan zaman, boleh adal suami mengizinkan. Kalau tidak diizinkan yang dipaksa-paksa, dan sebagainya dan sebagainya.

Mereka berusaha dengan segala argumentasinya agar terlihat bahwa sesungguhnya agama Islam ini modern, sesuai dengan tuntutan masa kini. Mereka khawatir dicap kolot dan konservatif, karenanya terus berusaha mencari-cari ayat yang dapat membenarkan nilai-nilai kemodernan. Mulailah mereka berusaha untuk menghapus pembagian hak waris wanita dengan menyamakannya dengan pria, membolehkan wanita membuka aurat, karena alasan kondisi iklim dan cuaca. Ketika kaum pria tampil di ring tinju, mereka juga menuntut untuk diberi kesempatan bertinju, begitu juga sepak bola, angkat besi dsb.

Dengan rekayasa mereka, jadilah Islam ini pas dan sesuai dengan tuntutan zaman, yang notabene sesuai dengan tuntutan nafsu keserakahan manusia di abad modern ini.

Akan tetapi setelah berjalan sekian lama, hasil dari peniruan buta terhadap Barat ini ternyata membawa dampak yang luar biasa. Kebejadan moral melanda generasi muda. Tak terelakkan, para orang tua yang dulu paling getol mengkampanyekan nilai-nilai Barat juga ikut khawatir nasib anak-anaknya.

Mereka tidak bisa menerima sepenuhnya pergaulan bebas, kumpul kebo, rok mini, free sex, pengguguran kandungan, dan adegan panas lainnya, yang merupakan ekses dari diberlakukannya ajaran Barat yang serba individualistis dan liberal itu.

Sayang, sekalipun sudah babak-belur, mereka belum mau kembali kepada Islam. Mereka lebih cenderung untuk menggali kembali mutiara hikmah yang ditinggalkan oleh para nenek moyangnya.

Mereka mencoba kembali untuk menggali falsafah, nilai-nilai moral dan etika ketimuran untuk menetralisir hal-hal yang dipandang terlalu ekstrem. Bukankah mereka masih terikat dengan adat tenggang rasa, gotong-royong, sopan-santun, dan nilai-nilai luhur lainnya?

Karenanya, bagi wanita Indonesia, Kartini adalah tokoh yang pantas ditampilkan sebagai wanita Timur yang maju dan modern. Akhirnya, mereka mengupas dan menterjemahkan surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada teman-teman Belandanya untuk dijadikan sebagai model dan gaya. Tapi apa yang diperoleh? Tidak lain kecuali terjemahan yang mengada-ada, terjemahan yang kelewat batas, yang andaikata Kartini sekarang lahir tak akan tahu lagi bahwa itu adalah buah ide dan gagasannya.

Padahal mereka tahu sebenarnya bahwa Kartini dulu justru memberontak terhadap nilai-nilai ketimuran yang sekarang justru digandrungi banyak orang. Ia menentang ajaran para bangsawan dan kaum ningrat warisan nenek moyang yang banyak menyesatkan. Bukankah dalam motto Jawa: Surga nunut neraka katut ( Surga atau neraka tergantung suami) tergantung pelajaran yang menyesatkan? Inilah salah satu contoh ekstrem ajaran ketimuran.

Hal lain lagi bisa kita gali dari ajaran yang berserakan di dunia Timur lainnya. India mengenal satu paham yang mengharuskan istri ikut dibakar bersama mayat suaminya. Di Jepang dikenal keyakinan yang memperkenankan suami membawa pulang gundik atau pelacur. Arab jahiliah mengenal satu ketentuan untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya sendiri. Dan masih banyak lagi.

Kita mengenal kawin paksa yang mengilhami roman-roman picisan, praktek jual beli wanita, pewarisan istri kepada anaknya, dan sebagainya. Masihkah kita akan kembali lagi menggali ajaran Timur untuk mengangkat harkat dan martabat wanita kini?

Tak perlu lagi berspekulasi. Ajaran Islam telah memberi kepastian kepada kita bagaimana cara untuk jadi wanita shalihah. Tuntunannya sudah jelas. Ajarannya sudah gamblang. Hasilnya juga sudah cukup mengagumkan. Tinggal mempraktekkan saja sesungguhnya.

Wanita muslimah tak perlu lagi menuntut persamaan haknya dengan pria, apalagi mempromosikan emansipasi yang lahir dari dunia non islami. Islam memberikan hak-hak yang cukup besar kepada wanita yang tidak dimiliki oleh ajaran Timur dan Barat.

Cara pandang dan cara pendekatan Islam terhadap wanita memang beda dengan ajaran Timur dan Barat. Barat memandang pria dan wanita adalah sama, yang punya hak tidak berbeda. Dengan demikian satu dengan yang lain dapat saling berkompetisi, atau lebih jauh lagi saling mengganti. Itulah sebabnya wanita barat mengejar kemandirian sedemikian rupa agar sama sekali tidak bergantung kepada lelaki.

Bagi mereka lembaga keluarga tidak perlu dibutuhkan. Kalau mereka butuh melampiaskan nafsu birahinya tak perlu susah-susah, cukup datang kerumah bordil atau mengajak teman sekerjanya sendiri. Selesai urususan itu, berarti bereslah semuanya, tanpa ikatan apa-apa.

Dalam urusan karir, mereka juga punya kiat sendiri. Kalau pria bisa jadi presiden, kenapa wanita tidak? Kalau pria bisa memimpin sekian banyak perusahaan, kenapa wanita tidak? Dan seterusnya, hingga barangkali, kalau pria kencing berdiri, kenapa wanita tidak? Naudzubillahi min dzalik.

Dari paham seperti ini akhirnya lahir dengan suburnya lembaga-lembaga prostitusi yang resmi atau setengah resmi dengan segala perangkat dan fasilitasnya. Lahir juga dari sana paham free sex, kumpul kebo, film porno, dan sejenisnya.

Sebaliknya, ajaran Timur melihat wanita hanya sebagai pemuas kebutuhan pria. Wanita tak lebih dari binatang piaraan yang sewaktu-waktu dapat dilepas atau dikurung sesuai dengan kebutuhan majikan. Itulah sebabnya, rata-rata di dunia Timur wanita tidak memiliki hak apa-apa di hadapan kaum pria. Mereka dapat dijadikan warisan atau dijadikan lambang kejantanan.

Bukankah para raja dan kaum ningrat dulu merasa lebih gagah dan lebih jantan manakala memiliki sekian banyak selir dan sekian banyak gundik simpanan? Bukankah roman-roman picisan yang bercerita tentang kawin paksa atas wanita lahir dari dunia Timur?

Islam itu tidak Barat tidak Timur. Islam punya konsep sendiri dalam memberikan hak-haknya kepada wanita. Dengan bahasa yang sederhana tapi cukup mengena, Allah menggambarkan dalam firman-Nya: "Mereka ( kaum wanita) itu pakaianmu, (sebaliknya) engkau (kaum lelaki) adalah pakaian mereka." (QS.AL-Baqarah:187)

Dengan demikian jelaslah sudah bagaimana kedudukan wanita di depan pria. Mereka punya hak, seperti kaum pria juga punya hak. Mereka punya kewajiban, seperti kaum pria juga punya kewajiban. Akan tetapi tentu saja bukan persamaan hak. Sebab konstruksi dan konstitusi psikologis wanita dan pria memang berbeda. Tugas dan fungsinya juga tidak sama. Mereka saling melengkapi, bukan saling mengganti. Mereka saling bergantung, bukan hidup sendiri-sendiri.

Dunia ini tak akan seimbang manakala salah satunya tidak ada. Dunia akan terasa guncang manakala mereka saling berselisih, berebut tugas dan fungsi.

Mungkin kita sudah kecanduan racun-racun Barat, melalui media massa yang kita pelototi setiap waktu. Televisi, majalah, tabloid dan koran-koran yang menterjemahkan mentah-mentah ajaran Barat telah mengalir bersama aliran darah dan masuk dalam sumsum kita. Akibatnya, kita asing dengan ajaran kita sendiri.

Namun Islam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kaum wanita dan kaum lelaki saling berbagi tugas agar dunia semakin seimbang dan serasi.

Sebagai agama fitrah, Islam selalu pas dan cocok dengan naluri dan kebutuhan jasmani ruhani manusia. Adapun kalau banyak orang yang merasa bahwa Islam itu tidak pas lagi barangkali perlu dikoreksi mungkin dalam dirinya sudah tertimbun kebiasaan-kebiasaan yang menyimpang sehingga tak terasa lagi kalau sudah menyimpang. Ibarat orang yang menyandang penyakit yang sudah akut, ia tak lagi merasakan sakit.

Wallahu A'lam.

Next article Next Post
Previous article Previous Post