Kapan Kejahatan Kemanusiaan di Suriah Berakhir?



Tersebutlah Syam (Suriah/Syiria), sebuah negeri yang konon di hujani limpahan Rahmat dan Barakah oleh Allah, sebuah negeri dimana puluhan abad silam pernah menjadi saksi bisu kafilah dakwah para Nabi Allah, sebuah negeri dimana ulama – ulama besar lahir dari sana.

Kapan Kejahatan Kemanusiaan di Suriah Berakhir?


Syam merupakan ranah terpilih, seorang Nabiyullah yang agung Muhammad shallallahu’alaihi wasallam bahkan pernah memanjatkan doa memohon segenap keberkahan untuk negeri yang kini penuh luka itu.

“Ya Allah berilah kami barakah pada negeri Syam, ya Allah berilah kami berakah pada negeri Yaman. Para sahabat bertanya, “termasuk Najd?”. Rasulullah kemudian meneruskan doanya, “Ya Allah berilah kami barakah pada negeri Syam, ya Allah berilah barakah pada negeri Yaman. Para sahabat masih terus bertanya, “termasuk Najd?”. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “Disana (Najd) terjadi gempa dan huru – hara, dan disana muncul dua tanduk setan.” (HR Bukhari)

Konon, Suriah juga merupakan sebuah negeri dimana diatasnya malaikat membentangkan sayapnya. Hal ini pun pernah disebut Baginda Nabi melalui sabdanya yang agung, “Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya, ‘Mengapa?’ Nabi menjawab, “Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam” (HR Imam Ahmad).

Namun sebagaimana yang kita ketahui bersama ini, Syam kini menjadi negeri yang bersimbah darah, mayat warga sipil dan anak – anak kerap menyumbat ruas – ruas jalan, para wanita diculik dan diperkosa oleh rezim syiah secara brutal, dentuman bom dan muntahan peluru menjadi dzikir duka bagi ribuan jiwa yang gugur sebagai syuhada disana.

Keberingasan perang yang tak kunjung padam itu kini berpusat di Aleppo, sebuah kota pusat peradaban dan kebudayaan Islam yang konon sebelumnya begitu indah dan keindahannya itu mengalahkan kota Paris, namun sebagaimana yang dapat kita saksikan hari – hari melalui media internet maupun televisi, keindahan kota Aleppo yang semula kerap didengung – dengungkan oleh jutaan lisan manusia itu kini telah tersisa nama, kota itu telah habis dibumihanguskan oleh rezim Assad, raga penduduk Aleppo yang hancur dan remuk oleh rudal dan bom menghiasi jantung kota yang kini tinggal debu dan pepuingan itu.

Bagaimana kita dapat menebak, kapan tragedi kemanusiaan disana dapat berakhir? Jangan berteriak pada Salman, sebab andaikata kita berada di posisinya, belum tentu kita bisa menjadi lebih baik darinya, jangan menyalahkan Turki yang tak dapat berbuat begitu banyak meski hanya berjarak kurang lebih 25 km saja dengan kota Aleppo, jangan mengutuk Rusia, Amerika, Iran, atau negara mana saja yang terlibat dalam tragedi itu, sebab semuanya sia – sia saja.

Kejahatan kemanusiaan yang berlangsung disana rupanya tidak saja pembantaian yang membabi buta, atau bombardir brutal tak berkesudahan. Melainkan juga kejahatan seksual yang menimpa para wanita. Belakangan tersiar kabar para suami yang meminta fatwa kepada ulama, mereka meminta fatwa kepada Syeikh  Abdur Razzak Al Mahdi untuk diperbolehkan membunuh istri, anak perempuan serta saudari mereka sendiri daripada diperkosa secara keji oleh rezim laknatullah sebagaimana yang terjadi selama ini.

Syeikh melarang seraya terisak menangis, beliau bertanya, “Apakah sudah semurah ini harta dan jiwa kaum muslimin? Jangan lakukan itu.”

Kabar lain yang tak kalah menyayat hati kaum muslimin adalah, beredarnya video seorang wanita muslimah yang ditelanjangi dan diperkosa beramai di jalan, padahal sebelumnya wanita tersebut dikenal sebagai wanita yang berakhlak baik dan menutup aurat rapat sebagaimana umumnya para wanita Suriah. Pada saat kejadian, tiada seorangpun yang berani menolong perempuan malang yang terkapar di jalan itu, mereka semua gemetar dan memilih bersembunyi di balik pepuingan kecuali seorang lelaki yang gagah menyeruak ke jalan untuk menolong wanita itu, namun belum sampai ia menolong, tubuhnya seketika tersungkur dan lunglai dihujani muntahan peluru.

Beringas dan berbahayanya kehidupan suram yang berlangsung disana tak ayal menjadikan penduduk harus mendirikan rumah sakit di tempat tersembunyi dengan peralatan seadanya. Sebab rezim kejam itu tidak akan sungkan – sungkan menyeret dan menghabisinya secara langsung mujahid yang sedang dirawat di Rumah Sakit tatkala sedang menderita luka.

Namun kehidupan yang menyedihkan dan penuh duka lara itu tidak lantas menjadikan anak – anak Suriah terutama Aleppo surut semangat dalam menghafal Al-Quran. Sebagaimana penuturan Ustadz Abu Zubair yang beroperasi disana, anak – anak menghafal Al-Quran dalam taruhan nyawa dan tumpahan darah, bahkan bisa dikatakan mereka menebus satu ayat dengan satu nyawa.

Bagaimana tidak, anak – anak yang sedang berkumpul di masjid untuk menghafal Al-Qur’an, tiba – tiba di sisi samping Masjid dijatuhi rudal oleh rezim laknat. Seketika juga anak – anak yang tengah larut dan khusyu’ dalam hafalannya terpental dan terkena pecahan kaca masjid yang terpecah berhamburan.

Tatkala itu memang tidak ada yang meninggal kecuali hanya menderita luka – luka karena terkena serpihan kaca, namun di kemudian hari, ketika anak – anak sedang asik menghafal Al-Quran di suatu masjid sebagaimana hari – hari biasa, rezim laknat kembali melayangkan rudal jelajah dari jarak sekian kilo meter tanpa ada tanda atau suara sedikitpun sehingga hancur lebur masjid itu, terhitung 23 anak gugur sebagai syahid dalam keadaan sedang menghafal Al-Quran.

Maka demikian kehidupan menyesakkan disana yang tak pernah melunturkan niat anak – anak untuk terus menjadi penghafal Al-Quran, hal ini sangat kontras dengan yang terjadi di negara kita tercinta ini, begitu banyak anak – anak yang dilalaikan oleh orang tuanya dari Al-Quran, padahal Allah dengan Maha Kasihnya telah menaruh kita di negara yang aman dan damai, tidak akan ada orang tua yang kehilangan anaknya karena rudal, tidak akan ada anak yang melenggang ke masjid kemudian terburai badannya dalam perjalanan karena menginjak ranjau. Maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk mendidik anak belajar mencintai Al-Quran dengan cara menghafalanya dan memperlajarinya sebagaimana anak – anak Suriah.

Kapan Kejahatan Kemanusiaan di Suriah Berakhir?


Maka tidaklah heran bila Allah menjadikan Syam sebagai negeri yang terpilih. Begitu banyak keutamaan yang Allah limpahkan kepada negeri Syam itu sendiri. Di antaranya kelak Syam akan menjadi pusat negeri Islam di akhir zaman. Sebagaimana perkataan Nabi, demikian kiranya :

“Sesungguhnya Salamah bin Nufail berkata, ‘Aku datang menemui Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku bosan merawat kuda perang’ Aku meletakkan senjataku dan perang telah ditinggalkan para pengusungnya, tak ada lagi perang. Maka Rasul berkata, “Sekarang telah tiba saat berperang, akan selalu ada satu kelompok di tengah umatku yang unggul melawan musuh – musuhnya, Allah sesatkan hati – hati banyak kalangan untuk kemudian kelompok tersebut memerangi mereka, dan Allah akan memberi rizki dari mereka berupa (berupa ghanimah) hingga datang keputusan Allah (kiamat) dan mereka akan selalu demikian adanya.

Ketahuilah, pusat negeri Islam adalah Syam. Kuda perang terpasang tali kekang di kepalanya (siap perang) dan itu membawa kebaikan hingga datangnya hari Kiamat.” (HR Imam Ahmad).

Syam juga merupakan benteng umat Islam saat terjadinya perang dahsyat di akhir zaman, disanalah tersemat Iman Islam tatkala terjadi peperangan dan huru – hara yang amat dahsyat, dari sanalah kemudian lahir pasukan terbaik dan Allah menjamin kemenangan atas mereka, sehingga kematian Dajjal pun disinyalir akan terjadi disana. “Al-Masih Dajjal akan datang dari arah Timur, ia menuju Madinah, hingga berada di balik Uhud, ia disambut oleh malaikat, maka malaikat membelokkan arahnya ke Syam, disana ia dibinasakan, disana dibinasakan.” (HR Imam Ahmad).

Pembaca, ibrah apa yang dapat kita petik dari ganasnya kehidupan di Suriah? Apakah kita masih diam dan bercengkrama dengan keluarga seraya menonton pergelaran memilukan yang terjadi disana?

Memang benar, sebagai rakyat sipil biasa kita tidak akan dapat mewujudkan perubahan positif yang berarti untuk saudara – saudara kita disana, kecuali hanyalah tindakan kecil yang tak kan bisa memberikan mereka pengaruh apa – apa, jangankan kita yang tidak memiliki kedudukan maupun wewenang, pemimpin kita saja rupanya masih larut bersekutu dengan Iran, negara yang juga turut andil dalam peristiwa pembantaian itu, mereka sedang asik berbincang membicarakan kebaikan masing – masing negara.

Berharap memang paling baik kepada Allah, bukan kepada para pelantang kemanusiaan yang kerap mendadak bisu ketika kejahatan itu menimpa kaum Muslimin, bukan pula berharap kepada PBB yang luluh di bawah rantai kekuatan rasaksa negara adikuasa. Sebab mereka belum tentu mampu mewujudkan senarai harap kita.

Sebagai umat Muslim kita hanya bisa menyalahkan lemahnya diri seraya menambahkan Suriah terutama Aleppo dalam daftar doa kita yang kian panjang tiap malamnya. Rangkaian peristiwa menyesakkan dada yang terjadi di Aleppo belakangan ini setidaknya mampu membuka mata hati dan merunyam – runyam nalar kita bahwa jumlah umat Islam yang konon bejibun dan memiliki penganut terbanyak di seluruh muka bumi ini tidak akan bisa menjadi apa – apa tanpa adanya semangat persatuan aqidah dan ukhuwah.

Baca Juga:




Semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan dan ketabahan kepada saudara – saudara kita di Suriah terutama di Aleppo, semoga Allah menaruh mereka yang syahid dalam belaiannya di Surga. Aamiin.



loading...