Jodoh, Kita Yang Tentukan!




Menjadi perbincangan yang sangat menarik ketika kita membicarakan tentang jodoh, baik perbincangan dengan orang tua kita, saudara, teman ataupun dengan calon jodoh kita. Lebih menarik lagi jika pembahasan ini tidak sekedar mengikuti alur pemahaman jodoh yang berkembang di masyarakat, tapi mari sejenak kita kaitkan dengan pendekatan rasionalitas, empiris maupun secara religius agar landasannya jelas dan dengan penuh kesadaran kita dapat menyelaminya secara utuh, baik melalui pemikiran atau hati kita.

Jodoh, Kita Yang Tentukan!


Jodoh dapat diartikan kata yang dipakai  untuk menunjuk makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan lafadz suami, istri, pasangan hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh menurut kamus bahasa Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih spesifik dari lafadz suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana terdapat penjelasan sifat lebih khusus dari sekedar pasangan hidup.

Lalu siapakah jodoh kita? Seperti apakah jodoh kita? Bagaimana profilnya? Sesuai nggak dengan kita? Bagaimana kalau tidak? Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya dikaitkan dengan konsepsi soal hidup, mati, lahir, jodoh, sebagai suatu takaran yang telah ditetapkan Allah dalam lauh mahfudz. Inilah konsep takdir yang sesungguhnya..

Kita semua tahu, Allah sudah pasti Maha Adil dan Maha Mengetahui kadar kemampuan setiap orang. Memang benar jodoh kita sudah tercatat sebelum kita lahir, tapi untuk mendapatkanya kita perlu memperjuangkanya.

Bila diibaratkan jodoh kita adalah mobil yang akan kita dapatkan, maka setiap kita telah memesan mobil tersebut tapi tergadai kepada dealer (Allah pemilik setiap mahluk).

Bila modal (kadar keimanan) kita masih kurang untuk menebus mobil tersebut, maka dealer akan menyerankan kita “naik angkutan umum” (pengantar sementara) yang sudah tentu sesuai dengan modal kita dan hanya akan mengantar kita hingga kita cukup modal atau kehabisan modal untuk menebus mobil kita.

Dan bagaimana nasib mobil kita? Apakah dia akan terlantar? Allah Maha Adil, Allah akan meminjamkannya pada orang mampu menebusnya sampai anda sanggup menebusnya atau agar dia siap untuk anda. Anda pun mungkin bisa menjadi perantara seperti ini, karena mungkin modal anda hanya cukup untuk menebus mobil yang lebih sederhana dari yang disiapkan untuk anda, maka anada akan mendapatkanya.

Seperti halnya Khadijah yang harus menikah dahulu sebelum bertemu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam agar beliau memiliki sifat keibuan dan kasih sayang untuk mendapat pendamping terbaik setelahnya yang mengantarnya pada tujuan yang hakiki.

Jadi, jodoh kita tergantung modal (keimanan) kita pada Allah. Orang beriman akan Allah pertemukan dengan yang beriman pula, oaring setia untuk yang setia, orang sabar untuk yang sabar, orang dermawan untuk yang dermawan.

Mau seperti apa jodoh kita? Tinggal tanya seberapa besar modal kita untuk menebus jodoh kita tersebut.

Ketahuilah, Allah tak akan menimpakan sesuatu ujian diluar kemampuan hamba-Nya. Bila seseorang tak siap menerima jodohnya, maka Allah pun tak akan memaksakannya. Bila seseorang lebih senang berjalan kaki daripada naik angkot atau punya mobil sendiri yang bisa mengantar ke tempat tujuan padahal dia telah disebiakan sebuah kendaraan sendiri, maka tak ada kuasa kita memaksanya. Hanya dia sendiri yang kuasa merubah ketetapan niatnya.

Ada beberapa cuplikan kisah yang terjadi belum lama ini. Ada yang tentang adikku, yang telah serius untuk menatap jenjang pernikahan, tapi niatnya kandas karena mungkin modal nya belum cukup. Atau seorang teman yang telah bertahun-tahun naik angkot dan terpakasa turun karena angkotnya berbelok tidak pada jurusan yang dia tuju.

Ya, adikku sendiri yang mantap menatap jenjang pernikahan. Calonya adalah seorang aktifis patrai politik yang juga seorang imam masjid di daerahnya. Telah lama menjalin silaturahmi dan berjanji mantap menuju jenjang keseriusan yang sesungguhnya.

Tapi apa yang terjadi? Ketika sang pujaan melakasanakan kegiatan di suatu daerah, dia dipertemukan dengan wanita lain. Tak sampai disana ternyata kisah mereka berlanjut dan hancurlah semua rencana adikku. Lihatlah bagai mana mudahnya bagi Allah untuk menjadikan hal tersebut.

Temanku bercerita, dia baru saja ditinggal pangerannya yang menjadi tautan hatinya sejak dari SMA. Sejak SMA! Ya, sudah sangat lama. Tapi lihat, begitu gampang Allah membalikan keadaannya. Kandas dalam hanya beberapa hari.

Mengapa hal tersebut terjadi? Jawabnya sudah kita tahu, modal mereka tak imbang. Salah satu dari mereka terlalu mulia bagi yang lain. Sehingga Allah pun sayang bila orang mulia tersebut harus berlama-lama jadi angkot bagi yang lain. Maka dari itu maka Allah menunjukan calaon baru pada yang Dia kehendaki sebagai tanda sayangnya pada orang yang Dia muliakan itu. Allah seperti berbisik pada kita, inilah yang pas dengan modal (kadar keimanan mu) saat ini.

Nasihatku kala itu:

Bila kita tak dapat meraih MERAK atau CENDRAWASIH.

Karena diri kita hanya seekor PIPIT hina.

Jangan lah berkecil hati dan berburu-buru mencari PIPIT atau GELATIK sebagai penggantinya, walau hanya itu yang pantas bagi kita

Belajarlah…

Walau tak jadi MERAK, paling tidak kita bisa jadi MERPATI.

Karana MERPATI tak pernah ingkar janji

Dia hanya akan kembali pada sarang dimana dia pergi

Dan dia selamanya hanya akan setia pada satu hati.

Pernah seorang yang patah hati melakukan istikharah untuk melihat siapakah jodohnya. Apakah masih mantannya atau tidak? Dan apa yang terjadi? Gambaran yang ia terima saat itu adalah orang yang sedang dekat dengan dia. Karena ya itulah kadar hatinya saat itu. Allah memberinya perasaan cinta pada orang yang sesuai kadar hatinya saat itu.

Satu hal lagi yang sering terlupa. Ternyata syaitan punya andil besar dalam hal rasa dalam hati manusia. Ingatkah kita alasan Adam diusir dari surga? Ya, karena godaan Iblis yang dibisikan pada orang yang paling dicintainya, Hawa. Karena cinta. Dosa manusia pertama, kisah Habil dan Qabil pun karena bisikan Syaitan lewat bisikan atas  nama cinta. Subhanallah..

Lengkaplah semua mozaik kita tentang hal ini. Ternyata jodoh kita adalah sesuai dengan yang kita inginkan, yang kita perjuangkan dan sesuai kadar diri kita.

Jika ingin memiliki pasangan semulia Siti Khadijah, Maka jadilah semulia Muhammad, dan begitu pula sebaliknya.

Jika ingin memiliki pasangan setabah Siti Hajar, maka jadilah setaqwa Ibrahim dan begitu pula sebaliknya

Atau kita ingin memiliki pasangan setaqwa Maryam? Jadilah setulus Nabi Isa sang putra tercinta.

Sebuah nasihat pernikahan yang saya lihat di belakang surat undangan pernikahan seorang teman berbunyi:

“Suami yang menikahimu tidaklah semulia Muhammad, tidak setaqwa Nabi Ibrahim, pun tidaklah setabah Nabi Ayub. Wanita yang kamu nikahi tak semulia Khadijah, tidak setabah Siti Hajar. Tapi kalian lah dua insan yang punya cita-cita membangun keturunan yang shaleh. Pernikahan mengajarkan kita kewajiban. Suami adalah nahkoda perahu, dan istri adalah navigatornya. Suami adalah rumah yang member kedamaian dan perlindaungan, istri adalah penghuninya yang merawat dan menyemai keindahan rumah tersebut. Suami adalah guru dan istri adalah muridnya. Seandainya suami lupa, bersabarlah istri dalam mengingatkanya. Seandainya istri adalah tulang rusuk yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya.”

Mari cermati nasihat tersebut, maka kita akan sampai pada suatu kesimpulan, “siapa jodoh kita, kita yang pilih. Karena wanita baik hanya untuk lelaki baik”

Wallahu A'lam.





close ini