Kisah Inspiratif: Naik Haji Dari Hasil Menabung Pakai Celengan Ayam




Sebagaimana yang kita ketahui dan kita saksikan selama ini bahwa pada umumnya yang menjadi kendala terbesar untuk pergi berhaji ke Tanah Suci adalah ketiadaan dana. Hal itu tentu tidak salah, namun apabila kita memiliki keyaqinan dan prinsip yang kuat mengenai hadirnya Allah pada setiap sisi hamba – hambaNya. Maka Insya Allah, alasan ketiadaan dana tersebut menjadi tidak berlaku lagi.

Kisah Inspiratif: Naik Haji Dari Hasil Menabung Pakai Celengan Ayam


“Ketika kita sudah meniatkannya, maka Allah akan memudahkan jalan kita,” demikian pesan Hj Maryani Sudira perihal tipsnya agar bisa naik haji.  Melalui pesan tersebut, sesungguhnya beliau sedang menyampaikan senarai makna bahwa apapun yang kita kehendaki, apapun yang kita inginkan jikalau itu sudah tertancap kuat di dalam hati kita, dan kita wujudkan dengan segenap tindakan yang sungguh – sungguh maka Allah pun akan memberikan kita jalan dan kemudahan.

Begitulah yang pernah di alami oleh Hj Maryani Sudira tatkala beliau begitu ingin menunaikan ibadah haji, tetapi mengalami kendala keuangan. Meskipun secara status beliau termasuk memiliki kedudukan terhormat di ranah masyarakat. Suaminya merupakan seorang ustadz dan ketua MUI Jakarta Utara, sementara beliau sendiri seorang ustadzah yang acapkali berkeliling dari satu daerah ke daerah lain.

Akan tetapi hal itu tidak lantas dapat kita jadikan jaminan untuk beliau memiliki uang banyak yang kiranya lebih dari cukup walau untuk sekadar berhaji.

“Kita tahu sendiri ustadz dan ustadzah saat itu seperti apa,”ungkapnya.

Namun keadaan demikian tak pernah sedikitpun mengurangi keinginan beliau untuk pergi haji, terkait impiannya ini beliau juga berkisah, “Saya kadang sering menangis sendiri kalau lihat acara haji di televisi. Melihat orang thawaf keliling Ka’bah membuat air mata tak terasa keluar begitu saja,”

Hingga suatu waktu, Hj Maryani menulis surat yang rencananya hendak beliau tujukan kepada Dirjen Urusan Haji perihal permintaan bantuan keringanan untuk pergi haji. Akan tetapi pada akhirnya surat itu hanya beliau simpan saja dan tak kunjung beliau berikan. Hingga beliau berfikir bahwa semua harapan itu hanya impian dan cita – cita yang mustahil untuk tercapai belaka,

“Kadang saya berkata dalam hati sendiri, kenapa Allah tak memudahkan niat saya untuk bisa pergi haji, padahal saya adalah seorang guru ngaji,”kenangnya.

Akan tetapi pikiran itu langsung beliau buang dan lurukan sendiri. Agaknya belau berfikir bahwa untuk waktu sekarang bukan lagi memikirkan dan membayangkan hal – hal mudharat, beliau harus mengambil satu tindakan supaya keinginannya untuk berkunjung ke Baitullah lekas tercapai.

Hingga pada suatu hari tatkala beliau pergi berjalan – jalan ke Padalarangan matanya tertuju pada celengan ayam yang terbuat dari tanah liat. Dari situ kemudian beliau termotivasi untuk menabung. Mudah – mudahan dengan wasilah celengan itu, beliau bisa mengumpulkan dana untuk beliau pergunakan untuk memenuhi segenap impian dan angan – angannya selama ini.

Celengan ayam itu pun di belinya, sedikit demi sedikit beliau lintirkan uang recehan ke dalamnya tanpa sedikitpun menghitung uang yang beliau masukkan, atau beliau biarkan mengalir begitu saja, untuk memastikan dirinya agar niatnya tidak berubah, maka beliau tulis menggunakan spidol di bagian dada celengan ayam itu, “ONH tahun 1990-an”. Dengan begitu beliau tak bisa mengganggu gugat celengan itu, “Pokoknya celengan itu khusus untuk tabungan haji,”tekadnya dalam hati.

Tatkala itu sekitar tahun 1986-an, Hj Maryani bertekad untuk menabung selama 4 tahun, dengan penghasilannya yang sedikit, memang agak sulit untuk bisa mencapai target, namun hal itu sama sekali tak menghalangi tekad beliau untuk terus menabung. Baginya yang terpenting semua ini adalah sebagai motivasi dirinya saja supaya bisa terus menabung dan menabung.

Lalu, bagaimanakah yang terjadi selanjutnya?

“Allah memudahkan jalan saya,”cerita Hj Maryani.

Dalam artian ketika tiba saatnya bagi beliau untuk membuka tabungan haji di celengan ayam beliau, jalan untuk menuju kesana begitu di mudahkan oleh Allah termasuk rezeki, dan sebagainya.

Maha Besar Allah yang Maha senantiasa memudahkan jalan bagi  hamba – hambaNya, akhirnya pada tahun 1996 impian hajinya itu bisa terwujud. Lalu dana darimana? Kalaupun penuh pun celengan ayam itu tak akan bisa memenuhi target karena tatkala itu hanya terkumpul uang sebanyak Rp. 7,3 juta saja atau tepatnya baru setengahnya saja.

Hingga akhirnya setengahnya lagi beliau dimudahkan Allah untuk mencarinya, “Sebenarnya saya mendaftar tahun 1995, tapi saat itu over kuota,”ungkapnya.


*****

Waktu pertama kali menghentakkan kakinya di Tanah Suci, ada rasa kegembiraan yang meluap – luap di relung hati beliau. “Saya menangis tak tertahankan. Air mata ini sulit sekali di bendung, datang begitu saja,” cerita Hj Maryani mengenai kedatangannya pada waktu pertama kali di Tanah Suci.

Selama ini, beliau hanya bisa menyaksikan agungnya Ka’bah dan Masjid Haram di gambar – gambar dan televisi. Namun, pada saat itu juga beliau dapat melihatnya secara langsung di depan mata. Subahanallah... inikah kiblat yang menjadi pusat ibadah umat Muslim sedunia? Allah... Begitu indah dan megahnya.

Tatkala berada disana, mengalami begitu banyak pengalaman spiritual, selain dapat mencium Hajar Aswad secara mudah sampai dua kali, beliau juga di pertemukan dengan ibu kandungnya yang sudah meninggal dunia.

Tatkala itu beliau sedang berdzikir di Arafah hingga tiba – tiba lewat seorang ibu yang begitu mirip dengan kandungnya. Karena rasa rindunya yang begitu membuncah tanpa pikir panjang lagi beliau langsung merangkul dan memeluknya sampai erat sekali.

“Saat itu saya langsung ingat dengan kejadian di pesantren. Ibu maksain datang ke pesantren untuk menemui saya karena rindunya. Ibu manggul sendiri beras di pundaknya. Tapi ketika sampai di pesantren tidak bisa bertemu dengan saya karena saya sedang mengaji sorogan. Ketika pulang dari sorogan, saya di beritahu tentang hal ini hingga saya menangis sejadi – jadinya. Rasanya ingin sekali saya mengejar ibu untuk bisa ketemu. Kejadian itu tiba – tiba teringat kembali saat saya melihat wajah ibu di Tanah Suci,” kenangnya.

Hingga pada akhirnya beliau pun tersadar bahwa wanita yang di peluknya itu bukan ibu kandungnya yang sudah meninggal dunia, melainkan seorang yang bernama Halimah temannya sendiri. Kendati demikian, Hj Maryani sudah merasa puas dan lega setelah memeluk erat perempuan yang mirip ibunya itu seolah – olah telah hilang rasa rindunya akan sang ibu selama ini.

Demikianlah secuil pengalaman yang dapat kami paparkan mengenai berhajinya Hj Maryani, sesungguhnya masih banyak lagi pengalaman spiritual lain yang tak kalah menariknya, namun tak akan cukup halaman ini untuk menceritakan semuanya.

Mengenai apa yang telah Hj Maryani alami tersebut, cukup kita petik sebagai ibrah dan pelajaran saja supaya kita termotivasi untuk bisa menjadi seperti beliau kelak. Semoga Allah melimpahkan kita rezeki dan memudahkan segala jalannya supaya bisa menyusul melaksanakan haji ke Tanah Suci suatu saat nanti. Aamiin.