Keluhan Yesus Ketika Disalib VS Keikhlasan Ibrahim




Mereka berkata bahwa Yesus itu Tuhan, terkadang mereka juga menyebutnya dengan anak Tuhan. Tiga dalam satu, satu dalam tiga, sangat sulit untuk menerimanya. Bahkan dalam alkitab sekalipun terdapat kalimat yang membuatku bertanya-tanya, siapa sebenarnya sosok Yesus yang mereka maksudkan itu?

Keluhan Yesus Ketika Disalib VS Keikhlasan Ibrahim
Ilustrasi


Ketika Yesus dibawa ke bukit Golgota sambil memikul tiang salib. Ia kemudian dipaku di tiang salib tersebut hingga mati di tiang salib yang dianggap sebagai bentuk penebusan dosa seluruh umat manusia khususnya para penganut agama trinitas.

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46)

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Markus 15:34)

Kalimat ini yang diserukan oleh Yesus di kayu salib dan memiliki dua versi. Versi Injil Matius dalam transliterasi Yunani ditulis sebagai (eli eli lema sabakhthani). Sedangkan transliterasi versi Markus mirip pula, tetapi dimulai dengan (eloi eloi). Yesus kelihatannya mengutip dari ayat pertama kitab Mazmur 22:1-3

"Untuk pemimpin kor. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Ya Allahku, aku berseru di waktu siang, tetapi Engkau tetap diam. Aku berdoa di waktu malam, hatiku tidak juga tenang."

Ini merupakan bukti nyata bahwa Yesus bukan Tuhan. Karena jika kita berkenan merendahkan egoisme kebutaan kita akan agama dan berpikir dengan akal sehat, maka tidak mungkin Tuhan mengucapkan kalimat "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

Bagaimana mungkin sosok yang disebut sebagai "Tuhan" memohon pertolongan pada Tuhan lainnya dan merasa ditinggalkan oleh tuhannya itu? Tidakkah ini menunjukkan betapa lemahnya sosok yang berada di tiang salib itu? Sosok yang mengharapkan pertolongan dari Zat yang lebih besar dari dirinya sendiri?

Selain itu, apabila sosok tersebut memang merencanakan dan menakdirkan dirinya sendiri untuk dikorbankan demi keselamatan manusia, sebagai penebus dosa seluruh manusia. Mengapa ia harus mengeluh? Mengapa ia seolah tidak tulus melaksanakan hukuman penyaliban itu?

Hal ini membuat kita teringat dengan kisah luar biasa dari Ibrahim 'alaihi salam ketika beliau hendak dibakar oleh Raja Namrud kala itu. Setelah ditangkap, Nabi Ibrahim alaihissalam kemudian dilemparkan dan dimasukkan ke dalam api yang sudah disediakan oleh Raja Namrud untuk membakar dirinya.

Ketika dicampakan ke dalam api yang menyala-nyala, Nabi Ibrahim alaihissalam mengucapkan kalimat Hasbunallah wa nimal wakil (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Dan dengan izin kekuasaan Allah, Nabi Ibrahim alahissalam yang ada di dalam kobaran api tersebut sama sekali tidak terbakar, bahkan satu helai rambut pun api itu tidak mampu membakarnya.

Raja Namrud dan kaumnya pun terheran-heran melihat kejadian aneh tersebut. Inilah salah satu kekuasaan Allah subhanahu wa taala yang sangat luar biasa, sebagaimana firman-Nya:

Kami berfirman: "Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" (QS Al-Anbiya: 69).

Betapa ikhlasnya Nabi Ibrahim dalam menjalankan ketetapan Allah, tidak ada sepatah kalimat pun yang menunjukkan beliau berputus asa akan rahmat Allah apalagi merasa Allah meninggalkannya. Bahkan ketika malaikat Jibril mendatanginya dan menanyakan apakah ia membutuhkan pertolongan, ia hanya menjawab, "Cukuplah Allah mengetahui keadaanku."

Bukankah hal ini sangat bertolak belakang dengan kalimat yang dilontarkan sosok di tiang salib itu? Tidakkah hal ini menimbulkan keganjalan? Betapa tidak ikhlasnya ia di tiang salib dengan disertai semburat rasa putus asa bahwa Tuhan meninggalkannya.

Tidakkah ini termasuk kalimat berburuk sangka pada tuhannya? Apakah mungkin tuhan mengatakan hal ini pada tuhan lainnya?

Akhir kata, kami umat Islam hanya memercayai Tuhan yang tiada duanya. Tuhan bukanlah sosok yang lemah dan hina sehingga membutuhkan pertolongan.

Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS Al-Isra': 111)





loading...

close ini