Kisah Nyata: Sepuluh Tahun Aku Hidup Dalam Polemik Ayah Dan Ibu




KabarMakkah.Com – Sepuluh tahun seorang gadis hidup dalam polemik ayah dan ibunya. Ia bingung untuk bersikap memilih jalan yang mana. Tidak ada kejelasan yang terlihat antara ayah dan ibunya meski masih berstatus suami istri. Tidak ada kata yang namanya keharmonisan, tak ada pula yang namanya kemesraan. Keduanya melanjutkan kehidupan berumah tangga dalam ketidakjelasan dan berujung pada pisah ranjang.

Sang ibu memang terkesan arogan dalam pandangan sang anak. Hampir setiap hari ia melihat ayahnya dimarahi dengan ketus dan menyayat hati oleh sang ibu. Namun kepala keluarga itu diam membisu tanpa sedikit pun membalas ataupun membela diri. Yang ia lakukan hanya jawaban simpel seperti “iya” dan “tidak”.

Kisah Nyata: Sepuluh Tahun Aku Hidup Dalam Polemik Ayah Dan Ibu
Ilustrasi
Sementara sang ayah begitu pendiam dan tak sedikit pun kemarahan tampak dalam wajah dan sikapnya. Tak ada kata ketus pada sang istri maupun anaknya. Ketika menghadapi masalah yang mendera, ia hanya bisa merenung dan mencari solusi terbaik sebelum berkoar-koar tak jelas.

Ternyata sikap ayah inilah yang membuat kagum sang anak. Terlebih lagi ketika ia selalu merespon baik keluh kesah yang dilontarkan sang anak. Beliau sangat santun dalam bertutur, memerintah maupun menasehati meski pada seorang anak. Inilah sosok yang membuat sang anak gadis bertahan di tengah polemik keluarga.

Saat ayah sakit, sang anak tampak sangat perhatian dibandingkan dengan ibunya yang acuh tak acuh. Ia rawat baik-baik ayahnya dan memberikan apa yang diperlukan oleh ayah yang membesarkan dengan penuh cinta tersebut. Bagi anak gadis itu, sosok ayahlah yang menjadi teladan hidupnya, meski ia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari seorang istri.

Sang anak pun tampak begitu canggung dan takut terhadap sosok ibunya. Ia kemudian menjaga jarak dengan harapan menghilangkan ketakutan tersebut. Tak terlihat adanya simpati, peduli ataupun empati dalam diri sang ibu untuk membina hubungan baik dengan anak dan suaminya. Justru yang ada adalah ketidakpedulian dan diam dalam menghadapi masalah anaknya.

Bagi diri sang anak, sosok istri yang memarahi ayahnya itu tidak bisa lenyap begitu saja dalam ingatan dan tidak bisa dibenarkan. Meski harus menelan pil pahit kehidupan, sang ayah tetap berusaha untuk menjaga keutuhan rumah tangga demi sang anak. Keutuhan yang hanya terlihat baik dari luar, namun sesungguhnya ambruk dari dalam.

***

Kisah konflik yang seperti itu banyak sekali kita temui dan bukanlah isapan jempol. Sebuah konflik yang secara terang-terangan dipertontonkan kepada anak-anak. Sebuah konflik yang tak mengutamakan rasa seorang anak yang masih labil dalam memahami kehidupan.

Seorang anak janganlah dilibatkan dalam perseteruan yang membuatnya terpaksa untuk memilih antara sosok ayah ataupun ibu. Hendaklah kita bersikap introspektif dan merenungkan apakah sebagai orang tua kita telah memanajemen konflik rumah tangga dengan baik ataukah tidak.

Perhatikah dan sadari apakah masalah yang kita hadapi dengan pasangan akan berdampak buruk pada diri sang anak. Sungguh sebuah perbuatan yang tidak bijak saat menempatkan anak dalam situasi yang tidak menyenangkan tersebut.

Pahamilah dan jika memang masalah tersebut begitu rumit, alangkah lebih baik menyelesaikannya secara berdua tanpa terlihat oleh sosok lugu yang masih belum tahu tentang akar pemasalahan.

Semoga kita semua bisa menjaga keutuhan keluarga dari segala permasalahan yang dilancarkan setan untuk merusak dan menghancurkan rumah tangga yang telah dibangun bertahun-tahun. Aamiin