Gelandangan dari Madinah Ini Dinikahkan Nabi dengan Putri Bangsawan




Jika dilihat dari segi fisik, mungkin tak ada yang menarik dari sahabat Nabi yang sering dipanggil Julaibib ini. Postur tubuhnya yang kecil, wajahnya yang buruk, kulitnya yang hitam legam, dan berpenampilan lusuh. Julaibib bahkan tak mengetahui siapa sebenarnya orangtua kandungnya. Mungkin orang tuanya malu mendapati anak sepertinya, kemudian membuangnya. Ia sering luntang-lantung di Yatsrib (Madinah) yang hidup seperti gelandangan.

Gelandangan dari Madinah Ini Dinikahkan Nabi dengan Putri Bangsawan
Ilustrasi / Anneahira.com


Dalam bahasa arab, arti Julaibib sendiri adalah "orang yang berjubah sangat kecil". Meski ia kurang beruntung dari segi fisik, Namun Julaibib termasuk diantara sahabat yang selalu membela perjuangan Nabi. Bahkan, Ia selalu berada di shof terdepan ketika shalat berjamaah maupun di medan jihad.

Suatu ketika, Rasulullah SAW pernah menyapanya. "Tidakkah engkau ingin menikah, wahai Julaibib?" tanya Rasul. Julaibib pun tahu diri. Siapalah gerangan manusia yang mau menikahkan putrinya dengan gelandangan buruk rupa seperti dirinya? Namun Rasulullah bukan bercanda apalagi bermaksud menghina dirinya ketika menanyakan hal tersebut pada Julaibib, nampaknya Rasulullah SAW sungguh-sungguh dengan ucapannya. Rasulullah SAW menanyakan hal yang sama tiga kali. Tapi tetap di tepis oleh Julaibib dengan merendahkan diri.

Pada kali ketiga, Rasulullah SAW bertekad akan menikahkan Julaibib. Beliau SAW bukan hanya sekedar bertanya, Namun langsung mengapit lengan Julaibib dan mengajaknya untuk melamar seorang gadis. Tak tanggung-tanggung pula, yang dituju adalah rumah salah satu bangsawan kaum Anshar.

"Aku ingin menikahkan putri kalian," kata Rasulullah SAW kepada bangsawan Anshar tersebut. Sang tuan rumah mengira, Rasulullah SAW lah yang akan menjadi menantu mereka. Dengan wajah bahagia, mereka menyambut Beliau SAW dengan suka cita.

"Ini bukan untukku sendiri. Namun pinangan ini untuk Julaibib," timpal Rasulullah SAW. Ayah si gadis langsung terkejut. Bahkan Julaibib sendiri pun langsung 'down' dan menundukkan wajahnya karena merasa tak pantas. Sedemikian nekatkah Rasulullah ingin memperistrikan dirinya yang buruk rupa itu dengan putri seorang bangsawan? Renung Julaibib dalam hatinya.

Lalu diucapkanlah perihal lamaran itu untuk si gadis yang berada dalam kamarnya.

"Apakah ayah dan ibu hendak menolak permintaan Rasulullah SAW? Demi Allah, kirim aku padanya. Jika Rasulullah SAW yang meminta, maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku." kata putri bangsawan tersebut.

Ia kemudian membacakan ayat, "Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab: 36).

Akhirnya, menikahlah Julaibib yang miskin, tak jelas nasabnya serta buruk rupa tersebut dengan gadis shalehah putri seorang bangsawan. Inilah yang dipahami oleh Madzhab Maliki, bahwa defenisi kufu' (keharusan kesetaraan antara suami istri) bukanlah soal materi, kedudukan, dan harta benda. Melainkan kufu' ketaqwaan dan keshalehan antara keduanya.

Subhaanallah.. Kisah ini mengajarkan para sahabat ketika itu dan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, bahwa di mata Allah SWT semua manusia sama. Yang membedakan derjat mereka hanyalah ketaqwaan saja.

Sabda Beliau SAW, "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan  fisik kalian. Allah hanya melihat hati dan amal perbuatan kalian." (HR Muslim)