Kenapa Pelakunya (Selalu) "Orang Gila" ?

Kenapa Pelakunya (Selalu) "Orang Gila" ?

Kenapa (Selalu) "Orang Gila" Pelakunya?


Perkembangan penyidikan kasus penusukan Ulama Syekh Ali Jaber masih dinikmati oleh publik. Terutama yang terkait dengan motif pelaku.

Di satu sisi dari pihak korban membuat pernyatan "menyejukkan" agar apa yang menimpanya jangan dikaitkan dengan politik.

Di sisi lain pihak Kepolisian juga mengatakan bahwa pelaku tidak ada indikasi terpapar Radikalisme.

Lalu apa motif sebenarnya? Gangguan Jiwa yang sebagaimana bisa ditebak sebelumnya?

Pada tulisan sebelumnya tentang Hypnoterorist sudah saya bahas bahwa ada dugaan pihak ketiga yang memanipulasi alam bawah sadar pelaku.

Itulah kenapa kejadian serupa selalu membawa kesimpulan bahwa pelakunya adalah orang dengan gangguan kejiwaan. Karena memang berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan indikasi kuat ke arah sana.

Memang seharusnya, gangguan jiwa bukan menjadi kesimpulan akhir. Jika tidak dapat mengungkap siapa "dalang"nya, minimal bagaimana modusnya agar kedepan dapat diantisipasi kejadian serupa.

Di sini akan saya jelaskan tentang analisa tahapan Hypnoterorist. Mudah-mudahan bisa menggambarkan atau lebih lagi menjadi petunjuk bagi aparat.

Pernahkah anda, di akun medsos menulis status tentang kondisi keuangan yang sedang tidak baik. Dan tak lama kemudian di linimasa kita berseliweran iklan penawaran Pinjaman Online? Atau misalnya anda iseng meng"klik" sebuah aplikasi permainan, dan ia bisa menjawab bagaimana gambaran sifatmu, pasangan idamanmu, kondisi kesehatanmu dsb. Dan anda bergumam kagum "Kok tahu ya?" Seolah-olah dunia daring begitu memahami apa yang anda pikirkan dan inginkan?

Itulah cara kerja Algoritma Medsos. Dia akan mengikuti karakteristik anda. Kalau kita sering memikirkan dan menulis tentang topik Agama misalnya, ia akan mengikuti kemauan kita. Begitu juga ketika si AlFin misalnya pernah menulis tentang kegundahan jiwanya, algoritma akan menjadi "fasilitator".

Celakanya, diduga ada pihak ketiga yang menciptakan sebuah konten untuk memfasilitasi orang-orang seperti Alfin dengan tujuan tertentu. Tahapan inilah yang di namakan dengan Profiling.

Selanjutnya konten tersebut akan berperan sebagai guide atau bahkan konselor yang seolah bisa membantu Alfin. Bisa jadi ia sekaligus menjadi rumah virtual orang-orang seperti Alfin dengan latar belakang dan karakteristik yang berbeda.

Misalnya, Alfin yang teridentifikasi memiliki masalah psikologi merindukan atau sekaligus kecewa kepada sosok ibu karena bekerja sebagai TKW dan menikah lagi. Konseling virtual ini akan mampu mengorek lebih dalam penyebab ibunya menjadi TKW sehingga ada titik poin yang bisa dipersalahkan dan menjadi figur "musuh" bagi Alfin. Nah tahapan inilah yang bisa dinamakan dengan Spotting.

Kemudian, secara bertahap "sang konselor" akan masuk semakin dalam dan menjadi bagian dari kehidupan Alfin. Misalnya tiap hari menyapa dengan konten yang mampu menyentuh alam bawah sadarnya. Contohnya "Alfin, ibumu seharusnya di sini bersamamu,, Jangan membenci Ibumu, tapi salahkan orang yang menyebabkan ia meninggalkanmu dsb".

Bahkan Alfin akan menjadi ketergantungan kepada konselornya. Saat sang konselor mulai menguasai alam bawah sadar objeknya, ia bisa memasukkan doktrin termasuk kebencian terhadap figur musuh yang diciptakan. Inilah yang dinamakan tahapan Suggesting.

Pada tahapan akhir adalah Alfin sudah siap menjadi martir. Sang konselor tinggal menunggu momentum kapan aset seperti Alfin akan digunakan. Bisa jadi ia sudah memiliki sekian banyak aset di banyak tempat yang menjadi "sel tidur".

Nah, ketika. Syekh Ali Jaber dijadikan target oleh Mastermind, sel tidur seperti Alfin akan dibangunkan. Alam bawah sadar Alfin akan dimanipulasi bahwa Syekh Ali Jaber adalah personifikasi musuhnya. Dan terjadilah sebagaimana kasus di Lampung. Inilah tahapan akhir yang dinamakan Executing.

Itulah kenapa ketika pelaku ditangkap, selalu menghasilkan kesimpulan Gangguan Jiwa. Karena memang source (sumber) perekrutannya dari orang-orang yang mengalami masalah ini.

Sama halnya, konten Pinjaman Online yang isinya hampir pasti orang-orang yang sedang bokek. Biro Jodoh isinya orang-orang yang sedang mencari pasangan.

Begitu juga ruang virtual yang menampung orang-orang dengan masalah kejiwaan. Itulah kenapa penegak hukum harus menelusuri lebih dalam bukan sekedar motifnya, tapi juga siapa yang menjadi fasilitatornya. Agar ujung-ujungnya pelakunya adalah orang gila tidak terus menjadi stigma.

Baca Juga:

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan
Next article Next Post
Previous article Previous Post