Subhanallah, Bahkan Dalam 1 Huruf Al-Qur'an Ada Mukjizat Yang Terkandung Di Dalamnya



Bagi umat Islam, setiap yang terdapat dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah mukjizat secara mutlak. Mulai dari kandungan makna sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta (shalih li kulli zaman wa makan).

Subhanallah, Bahkan Dalam 1 Huruf Al-Qur'an Ada Mukjizat Yang Terkandung Di Dalamnya


Pun berbagai mukjizat tersebut ada dalam setiap pemilihan kalimat, kata, bahkan pada setiap huruf al-Qur’an sekalipun.

“Dan sekiranya Qur’an diletakkan di atas gunung, maka gunung dapat digoncangkan atau diletakkan pada bumi, maka bumi jadi terbelah atau diletakkan pada orang mati maka orang-orang yang sudah mati dapat berbicara”(QS, Ar Ra’d : 31)

Untuk itu, Abu al-Hayyan al-Andalusi, penulis Tafsir al-Bahru al-Muhith fi at-Tafsir, sebagaimana dinukil oleh Mufassir Muhammad Ali ash-Shabuni, secara khusus menerangkan keindahan sastra kitab suci al-Qur’an dari sisi ilmu Bayan. Berikut penjelasannya:

Kesatu : Pembukaan dan awal yang indah (husnu al-iftitah wa bara’ah al-mathla’). Tak lain karena surah al-Fatihah diawali oleh lafadz “bismillah”. Nama Allah yang agung yang setiap Muslim patut memohon berkah nama tersebut dengan senantiasa melafadzkan nama-Nya.

Kedua : Pujian yang sempurna kepada Allah (al-mubalaghah fi ats-tsana). Hal itu tampak dari penggunaaan huruf alim lam (makrifah) pada kata “al-hamdu”. Oleh Abu al-Hayyan, pujian tersebut dengan sendirinya meredupkan bahkan melenyapkan seluruh yang lain di luar Sang Khaliq.

Ketiga : Variasi khithab (talwin al-khithab). Sepintas redaksi kalimat “al-hamdu lillahi” adalah uslub khabar (pernyataan) yang berarti segala puji bagi Allah. Namun, dengan kehalusan bahasa al-Qur’an, justru ia sejatinya dimaknai sebagai perintah dan kewajiban atas setiap hamba untuk memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah.

Keempat : Makna al-ikhtishash (pengkhususan). Hal itu ditandai dengan adanya huruf alim lam pada kata “lillahi” yang bermakna seluruh pujian itu hanya bisa dipunyai oleh Allah dan tak ada yang berhak memilikinya selain Allah.

Kelima : Adanya al-hazf (penghapusan sebagian kata). Dalam hal ini terdapat pada kata “shirath” dalam firman Allah “ghairi al-maghdhubi alaihim wa la adh-dhallin”. Sebenarnya secara asal, kalimat itu berbunyi begini: “ghairi shirath al-maghdhubi alaihim” bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan “ghairi shirath adh-dhallin” bukan jalan orang-orang yang tersesat (tetap menyebutkan kata shirath (jalan) itu).

Keenam : Terdapat taqdim (mengedepankan) dan ta’khir (mengakhirkan). Hal ini terjadi dalam ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Sebab asalnya kalimat itu bisa disederhanakan seperti ini saja, “na’budu iyyaka wa nasta’inu iyyaka.”. Keindahan bahasa yang sama terjadi di ayat “ghairi al-maghdhubi alaihim wa la adh-dhallin”.

Ketujuh : Menjelaskan apa yang sebelumnya tersamar (at-tashrih ba’da al-ibham). Kehalusan bahasa tersebut bisa dinikmati dalam ayat “ihdina ash-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an’amta alaihim”. Di mana makna jalan yang lurus itu (ash-shirath al-mustaqim) dijelaskan dengan kalimat berikutnya, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat (shirath al-ladzina an’amta alaihim)

Kedelapan : Menarik fokus dan perhatian (al-iltifat). Sensasi bahasa yang sangat halus ini bisa dirasakan pada ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Bahwa (benar-benar) hanya kepada-Mu kami menyembah dan (benar-benar) hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.

Kesembilan : Meminta sesuatu tanpa bermaksud untuk mendapatkannya, tetapi semata memohon kelanjutan dan eksistensi hal tersebut. Contohnya terdapat dalam ayat “ihdina ash-shirath al-mustaqim”. Bahwa ketika seorang hamba memohon dalam doa tersebut, bukan berarti ia belum memiliki hidayah dan tidak mengetahui jalan lurus tersebut. Tapi ia berdoa agar hidayah tersebut senantiasa bersemi dalam hatinya dan ia mampu menapaki jalan lurus yang telah membentang di hadapannya itu.

Kesepuluh : Adanya keselarasan yang indah pada setiap akhir kata. Hal tersebut bisa dinikmati dalam kalimat “ar-rahman ar-rahim” dengan “ash-shirath al-mustaqim”. Bisa dikata kedua kalimat tersebut sama-sama berakhiran bunyi “im”.

Bukan merupakan rahasia lagi bahwa kitab suci Al-Qur’an merupakan karya agung Sang Pencipta. Tidak ada satupun makhluk yang mampu menandingi kehebatannya.

Sejak 13 Abad lalu, banyak sekali upaya-upaya untuk menggembosi keimanan kaum muslimin terhadap al-Qur’an. Mulai dari tuduhan bahwa al-Qur’an hanya berisi dongeng-dongeng orang terdahulu (asaathiirul awwaliin), kebohongan yang dibuat-buat oleh Nabi Muhammad (ifkun muftaraa), sampai upaya memunculkan ayat serupa al-Qur’an yang dilakukan oleh Musailamah al-Kadzdzab yang tak lain adalah Nabi Palsu dari Bani Hanifah. Semua upaya tersebut gagal total.

Bahkan, banyak pembesar Quraisy yang awalnya memusuhi Islam terketuk hatinya setelah mendengar lantunan Kalam Ilahi itu. Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah bahwa Umayyah bin Khalaf, pembesar kafir Quraisy yang permusuhannya terhadap Nabi tak kunjung padam sampai mati, pernah mengakui bahwa apa yang dibawa Muhammad merupakan kata-kata dari langit.

Di masa modern ini, banyak sekali penelitian dan kajian terhadap al-Qur’an yang dilakukan baik oleh kaum muslim maupun non muslim. Kandungan ayat-ayat al-Qur’an mampu dibuktikan kebenarannya oleh teori-teori modern. Kemampuan al-Qur’an menembus cakrawala teknologi modern ini banyak menghantarkan peneliti non muslim akhirnya menjadi seorang muallaf. Demikianlah, al-Qur’an merupakan kitab berisi petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Selain kandungan al-Qur’an yang menjadi petunjuk sekaligus pedoman hidup, keindahan lafadz dan gaya bahasa al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri. Di dalam bahasa Arab ada satu cabang ilmu yang disebut ilmu badii’. Ilmu ini mencakup kajian tentang keindahan susunan kalimat, kata bahkan huruf-huruf dalam bahasa Arab. Sebagai kitab berbahasa Arab, al-Qur’an menempati posisi tertinggi di antara karya sastra yang pernah muncul.

Ada beberapa susunan huruf di dalam al-Qur’an yang jika dibolak-balik, dibaca dari depan atau dari belakang hasilnya sama. Dalam bahasa Indonesia, hal ini deisebut palindrom. Berikut ini contohnya:

ربك فكبر , “.. Agungkanlah Tuhanmu”. (QS. Al-Muddatstsir : 3). كل في فلك , “Masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Al-Anbiyaa’ : 33 dan QS. Yaasiin : 40)

Selain itu, ada juga potongan ayat yang mengandung satu huruf atau bunyi yang sama berjajar berkali-kali;

بسلام منا وبركات عليك وعلى أمم ممن معك ,“Dengan selamat sejahtera dari Kami dan penuh keberkatan atasmu dan umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu” (QS. Yusuf : 48). Dalam potongan ayat itu, terdapat bunyi huruf “mim” berjajar sampai delapan kali.

***

Lantas, Dengan berbagai keindahan dan mukjizat tersebut, apakah tidak cukup bagi kita untukh tunduk dan patuh kepada al-Quran dan kandungan isinya? 

Apakah ketika dibacakan al-Quran, kita sudah menundukkan diri, merenungi isinya, kemudian berusaha mengamalkannya? Apakah justru kita acuh, mengingkari, bahkan berusaha mengganti hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Quran? Bukankah Allah telah berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila dibacakan al-Quran (kepadamu), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” [al-A’raaf:204]

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci.” [Muhammad:24]

Tidak hanya itu saja, Allah telah menjanjikan bagi siapa saja yang membaca al-Quran dengan pahala yang sangat besar.


إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orangyang selalu membaca Kitabullah dan mendirikan sholat serta menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada akan merugi.” [al-Fathir:29]

Rasulullah saw bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ


"Orang mukmin yang mahir membaca Al Qur`an, maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Al Qur`an dengan gagap, ia sulit dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala." [HR.Muslim]

“Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari]

Lantas, atas dasar apa kita tidak serius mempelajari al-Quran, memahaminya, membacanya, dan mengamalkan kandungan isinya. Bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan tuntunan al-Quran, jika kita tidak mempelajari dan memahami al-Quran? Selain itu, bagaimana kita bisa memikul amanah yang telah dibebankan Allah kepada kita, sekiranya kita tidak berusaha dengan serius mempelajari kandungan isi al-Quran.

Sayangnya, kebanyakan kaum muslim sekarang ini telah enggan, bahkan acuh terhadap amanahnya. Tidak sedikit diantara mereka yang mengibarkan peperangan terhadap al-Quran al-Kariim. Mereka mencoba menakwilkan dan mengubah-ubah isi al-Quran yang telah jelas maknanya. Mereka berusaha menundukkan al-Quran agar sesuai dengan keinginan-keinginan mereka. Tak henti-hentinya mereka mendiskreditkan hukum-hukum agung yang lahir dari al-Quran al-Karim. 

Realitas telah menunjukkan kepada kita, betapa banyak orang yang mahir membaca dan memahami al-Quran, namun tidak mau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak sedikit pula yang tidak bisa membaca al-Quran. 

Jika kondisi sebagian besar kaum muslim masih seperti ini, tentu, mereka tidak akan peduli terhadap amanah Allah yang telah diberikan kepada mereka. 

Padahal, konsekuensi dari amanah ini sangatlah berat. Siapa saja yang tidak konsisten dan acuh terhadap al-Quran dan isinya, kelak akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. 

Namun, siapa saja yang mencintai al-Quran dengan cara suka membacanya, memahaminya, dan melaksanakannya, akan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah. 


Loading...