Ibu Pedagang Susu Keliling Ini Selalu Bawa Anaknya Tiap Kali Berjualan, Alasannya Sungguh Mengharukan




Hidup senantiasa membutuhkan perjuangan dan seperti itulah yang dijalani oleh seorang ibu bernama Wuriasih Wijayanti (35 tahun). Sehari-hari ia harus menghidupi kedua anaknya dengan berjualan susu keliling. Bahkan mengingat anak bungsunya yang bernama Putra Wijaya masih kecil, Wuri pun membawa serta anaknya tersebut berjualan.

Wuri sendiri melakukan usahanya tersebut semenjak ditinggal oleh suaminya 4 bulan yang lalu dikarenakan mengidap sakit kronis di bagian kepala dan membuat sang suami meninggal dunia. Tentu saja kehilangan orang yang menjadi kepala keluarga membuat Wuri terguncang.

Ibu Pedagang Susu Keliling Ini Selalu Bawa Anaknya Tiap Kali Berjualan, Alasannya Sungguh Mengharukan
Wuriasih bawa anaknya berjualan susu keliling (Aries Susanto/JIBI/Solopos.com)
Tak ingin hidup bergantung pemberian orang lain, orangtua tunggal warga Desa Ngesrep Ngemplak Boyolali ini memberanikan diri untuk berjualan dan yang dipilihnya adalah berjualan susu keliling.

Bukan hanya harus bisa maksimal meraih pundi-pundi keuangan bagi keluarganya, Wuri juga harus mengasuh anaknya yang masih kecil. Alhasil anak bungsunya yang sudah duduk di TK nol kecil itu terpaksa diikutsertakan dengan duduk di jok belakang motor.

“Anak saya dua masih kecil-kecil semua. Saya jualan susu keliling sejak suami meninggal dunia,” ucap Wuri, sebagaimana dikutip dari Solo Pos, Senin (24/10/2016)

Aktivitas jualannya dimulai sejak pagi hingga sore hari dan selepas shalat subuh, ia pun dengan sigap menyiapkan segala kelengkapan usahanya di jok bagian belakang.

Sementara itu sang anak yang masih berusia 4 tahun duduk di bagian tengah barang jualannya. Tempat yang dituju Wuri adalah sekolah-sekolah di daerah sekitar. Wuri juga sekaligus mengantar anak bungsunya tersebut bersekolah.

Harga susu yang ia jual adalah Rp 2.500 per bungkus dan jika laris, keuntungannya pun dirasa cukup.

“Kalau pas laris, ya bisa dapat untung Rp 50.000. tapi kalau musim hujan begini, ya paling hanya dapat Rp 20.000,” tuturnya.

Memang diakuinya bahwa membawa serta anak berjualan tanpa pengamanan sedikit pun cukup beresiko dan rawan jatuh. Namun ia terpaksa melakukannya mengingat tidak ada orang yang mau menunggu dan merawat sang anak. Terlebih lagi jika menyewa seorang pengasuh yang mengharuskan menambah pengeluaran.

“Kakek nenek dari pihak saya dan suami sudah meninggal semua. Anak sulung juga masih kecil,” ungkapnya.

Adapun anak sulungnya yang bernama Cahaya Aprilia sudah masuk Sekolah dasar. Meski demikian diakuinya sang anak harus menunggak buku LKS lantaran tidak gratis. Tak hanya anak sulungnya, Putra juga menunggak biaya pendaftaran masuk TK.

“Saya baru bisa mengangsur 300 ribu. Sisanya saya angsur setiap bulan semampu saya,” lanjutnya.

Meski anak bungsunya sering dibawa berjualan, Wuri sangat bersyukur karena Putra tidak rewel.

“Saya seperti dibantu anak saya ini,” ucapnya.

Wuri pun berusaha untuk merawat kedua anaknya dengan baik, sebagaimana amanat dari suaminya.

Baca Juga:







loading...

close ini