Meski Seorang Buruh Cuci, Ibu Ini Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S3 Di Jepang




Meski Seorang Buruh Cuci, Ibu Ini Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S3 Di Jepang
Yuniati yang berhasil sekolahkan anaknya hingga S3 di Jepang (Fathi Mahmud/Liputan6.com)
Meski Seorang Buruh Cuci, Ibu Ini Bisa Sekolahkan Anaknya Hingga S3 Di Jepang

Perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya memang patut dibanggakan. Di tengah kondisinya yang serba sederhana, mereka dengan gigih mampu menyekolahkan anak-anak.

Seperti itu juga yang dilakukan oleh seorang ibu bernama Yuniati, seorang buruh cuci yang berpenampilan sederhana. Di rumahnya yang berada di Pandan Kulon 07/12 Imogiri Yogyakarta, ia setiap hari harus mencuci pakaian orang lain untuk bisa bertahan hidup.

Profesi tersebut telah dilakukan oleh Yuniati sejak tahun 1985 karena kondisi suaminya yang tidak memiliki pekerjaan. Bahkan selain mencuci, ia juga kerap membuka jasa menyetrika dan membantu mengurus anak orang lain.

“Dulu nyuci di Bintara mencuci baju anak kos. Sekarang buruh cuci sama mengasuh anak. Jadi kasarnya seperti pembantu. Menjadi buruh cuci saya lakukan sejak awal menikah karena suami tidak memiliki pekerjaan. Prinsip saya cuma satu, tidak punya hutang,” ucapnya sebagaimana dilansir dari Liputan6, Jum’at (10/09/2015).

Tak hanya untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, Yuniati juga menjadikan usahanya tersebut untuk menyekolahkan kedua anaknya.

“Saya tidak ingin kaya, tidak ingin hidup mewah, tapi anak saya harus sekolah,” tuturnya.

Ternyata berkat kerja kerasnya membanting tulang, Yuniati mampu menyekolahkan anak sulungnya hingga ke jenjang S3 di Hokaido Jepang. Putranya yang bernama Satya Chandra Wibawa itu sebelumnya telah berhasil lulus S1 dan S2 di dua universitas negeri bergengsi di pulau Jawa.

Memang sang anak mampu bersekolah cukup tinggi karena adanya beasiswa. Sementara sang ibu hanya bisa membantu di awal masuk sekolah saja. Selebihnya anaknya yang berusaha mendapatkan bantuan lewat prestasinya.

“Satya itu masuk kuliah 2004, UNY Jurusan Kimia. Lalu S2 UGM Kimia juga dan S3 Hokaido Jepang juga Kimia. Semua beasiswa,” kenangnya.

Bukan tanpa halangan, Yuniati kerap mendapatkan cibiran dari tetangganya karena berani menyekolahkan anak hingga masuk universitas. Meskipun begitu, ia tidak ambil pusing dan tetap berusaha sekemampuannya.

Baginya sekolah anaknya lebih penting dibandingkan kebutuhan lain sehingga ia bahkan rela tidur di terpal meski mendapatkan bantuan saat gempa 2006.

“Gempa 2006 dapat bantuan 15 juta tidak digunakan untuk bangun rumah. Untuk biaya kuliah adiknya. Saya tidur di terpal. Yang penting anak saya masuk kuliah,” tambahnya.

Kini hasil perjuangannya membuahkan hasil yang indah dimana selain anak sulungnya yang kuliah S3 di Jepang, anak bungsunya pun tengah menjalani kuliah di Akper Bethesda Yogyakarta.

Baca Juga:


Semoga kita semua tidak menghilangkan jasa kedua orang tua yang telah membanting tulang demi keberhasilan kita semua. Wallahu A’lam