Meski Harus Berbaring, Kakek Berusia 100 Tahun Ini Tetap Mengajar Ngaji Para Santrinya




Meski Harus Berbaring, Kakek Berusia 100 Tahun Ini Tetap Mengajar Ngaji Para Santrinya
La Tahera tengah mengajarkan muridnya (Kompas.com)
Meski Harus Berbaring, Kakek Berusia 100 Tahun Ini Tetap Mengajar Ngaji Para Santrinya

Perjuangan seorang guru untuk mencerdaskan anak didiknya memang tidak kenal usia maupun keadaan. Di balik usianya yang renta dan tak mampu bangun dari tempat tidurnya, seorang kakek yang sekaligus nguru ngaji ini tetap mengajarkan ilmu pada para santrinya.

Kakek bernama La Tahera tersebut merupakan guru kitab Lontara dari Sulawesi Selatan yang sejak remaja sudah menularkan ilmunya secara telaten kepada yang lain.

Dilansir dari Kompas, kakek yang sudah memiliki delapan anak dan ratusan cucu serta cicit ini mengajarkan kitab Lontara yang berisi ilmu kehidupan seperti ilmu kesehatan, perbintangan dan ilmu cocok tanam. Selama hidupnya, ia telah menulis ratusan kitab Lontara yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah.

Meski Harus Berbaring, Kakek Berusia 100 Tahun Ini Tetap Mengajar Ngaji Para Santrinya
Sebagian isi kitab Lontara (Kompas.com)
Kakek yang dikenal dengan sebutan Ambo Mambu ini menuliskan sendiri kitabnya menggunakan tinta Kalla dari pohon enau. Di dalam kitab Lontara yang asli ada banyak petuah, falsafah hidup dan nilai budaya peradaban suku Bugis Makassar. Akan tetapi telah direbut oleh Belanda dan tersimpan di perpustakaan Leiden Belanda.

Meski demikian, ajarannya tetap ada dan salah satunya disebarkan oleh kakek ini. Tradisi menuliskan kitab Lontara ini pun dilakukan oleh para penganutnya agar ajaran tersebut tidak hilang.

Sementara itu kitab Lontara tulisan La Tahera diwakafkan sebagian kepada murid-muridnya. Ia pun dengan ikhlas mengajarkan isi kitab tersebut tanpa biaya sedikit pun. Harapannya adalah agar para muridnya mau menjaga ajaran yang ada dalam kitab Lontara dan Al Qur’an.

Beberapa kitab telah ia bagikan kepada muridnya dan tiga kitab yang cukup tebal masih tersimpan di rumah La Tahera.

Agar bertahan lama, kakek ini pun memberi sampul kitab tersebut dengan karton atau kardus bekas mie instant. Di usianya yang 100 tahun, pendengaran dan penglihatan La Tahera tetap bagus. Tak heran jika banyak santri yang berguru maupun bertanya kepadanya.

Bahkan pada hari besar keagamaan, rumahnya senantiasa dipenuhi oleh murid maupun warga sekitar. Tujuannya hanya ingin mendoakan sang guru agar diberi kesehatan dan keberkahan hidup.

Sementara itu untuk mengajarkan kitab Lontara kepada murid-muridnya, La Tahera hanya bisa mengajar sembari berbaring. Ia pun dibantu oleh muridnya untuk memegang kitab Lontara yang dibaca.

Ajaibnya, kakek ini mampu membaca kitab tersebut tanpa bantuan kacamata dan terampil dalam mengeja serta menjelaskan makna di dalamnya.

Baca Juga:







loading...