Subhaanallah, Pemilik Rumah Makan Ini Bangun Pesantren Setelah Bermimpi...




KabarMakkah.Com – Sugiyatmi yang merupakan pemilik rumah makan Taman Sari telah mengalami sebuah mimpi yang menghantarkannya membangun pondok pesantren. Pemilik rumah makan yang paling terkenal di Surakarta dan berumur 71 tahun ini pun kini semakin aktif dalam bidang keagamaan setelah pondok pesantren itu diresmikan.

Pondok pesantren yang dibangun oleh Sugiyatmi merupakan pondok pesantren yang khusus mendidik anak-anak untuk menjadi penghafal Al Quran atau seorang Hafidz.

Subhaanallah, Pemilik Rumah Makan Ini Bangun Pesantren Setelah Bermimpi...

Awal mula pendirian bangunan tersebut berawal dari dua tahun tahun yang lalu. Sugiyatmi yang telah ditinggal mati oleh suaminya tengah bermimpi duduk di teras masjid Maryam yang letaknya di samping rumah.

Sugiyatmi yang merasa sendiri dalam mimpinya saat itu, kemudian melihat seorang Ustadz tengah menggandeng anak laki-lakinya. Ustadz itu itu memiliki wajah yang tidak asing dan banyak terlihat di televisi. Dialah Ustadz Yusuf Mansyur yang dalam ceramahnya selalu menyerukan umat agar bersedekah.

Dalam mimpi tersebut, sang Ustadz dan anak laki-lakinya tengah mengenakan kain ihram seperti habis dari perjalanan umrah ataupun berhaji. Setelah cukup kaget, Sugiyatmi digandeng oleh anaknya menuju sebuah makam yang tak jauh dari samping masjid. Sang anak ternyata membawa ibunya untuk meihat makam sang ayah. Namun alangkah terkejutnya karena makam tersebut sedang kebanjiran.

Mimpi tersebut kemudian membangunkan Sugiyatmi. Ia lantas mencari keberadaan Ustadz Yusuf Mansyur dari media internet dan akhirnya ia bisa datang dan berkunjung ke pesantren milik Ustadz Yusuf Mansyur.

Sugiyatmi begitu terinspirasi dengan ceramah dari seorang da’i berlogat betawi tersebut. Setelah mengenal dan intens berkomunikasi, ia pun kemudian membeli dan membaca buku karangan beliau serta berencana menyedekahkan apa yang dimilikinya.

Ia lantas bertekad membangun sebuah pondok pesantren di tanah miliknya yang berukuran 3.000 meter persegi. Lokasinya sangat berdampingan dengan masjid Maryam yang ia bangun bersama sang suami dahulu. Tanah itu dibelinya dengan sistem patungan bersama putrinya seharga 1,6 miliar.

Tahun 2013 tepatnya bulan September, pendirian pondok pesantren itu pun diresmikan dengan batu peletakan pertama oleh Ustadz Yusuf Mansyur. Hampir butuh lebih dari dua tahun untuk bisa merampungkan pondok pesantren tersebut dan pada tanggal 3 September 2015, akhirnya proses pembangunan bisa selesai.

Dalam pondok pesantren tersebut terdapat beberapa gedung untuk kegiatan belajar siswa dan salah satu gedungnya dinamakan Ismail. Penamaan ini dikarenakan untuk menghormati mendiang suami Sugiyatmi dan nama tersebut disarankan oleh seorang kawan Sugiyatmi yang juga seorang pengusaha di Surakarta bernama Adib Ajiputra.

Sugiyatmi menuturkan bahwa ia tidak tahu persis berapa biaya yang ia keluarkan untuk membangun pesantren tersebut. Yang ada di pikirannya hanya bersedekah dan bersedekah.

Awalnya lahan di samping masjidnya tersebut akan ia bangun sebuah taman wisata. Harapannya adalah agar konsumen yang berkunjung bisa juga menikmati wisata yang ia bangun seperti kolam renang dan permainan anak-anak. Namun takdir Allah telah merubah niat tersebut dan menggantinya dengan sebuah pondok pesantren. Ia pun telah ridha atas ketetapan Allah terhadap dirinya.

Kini pesantren yang ia bangun sudah banyak mencetak para penghafal dari berbagai daerah di sekitar Surakarta. Selain menjadi pendonor dana, ia pun ikut andil dalam mendidik dan membimbing secara langsung kepada para santri agar mereka bisa mandiri.

Beberapa yang diajarkan oleh Sugiyatmi mencakup keperluan sehari-hari seperti mencuci baju ataupun piring. Dengan begitu mereka akan terbiasa mandiri dan tidak merugikan orang lain kelak.

Semoga bisa menjadi inspirasi untuk yang lainnya.

Sumber: pppa.or.id