Hancurkan Seluruh Botol Miras, Pemuda Shaleh Ini Justru Sisakan Satu Botol Saja. Mengapa?




KabarMakkah.Com - Dalam kitab Bahjatunnufus diceritakan ada seorang raja yang dzalim. Suatu ketika akan dikirim minuman keras kepada sang raja dengan diangkut menggunakan sebuah kapal. Tiba-tiba muncullah seorang pemuda hamba Allah yang dengan segera menghancurkan botol demi botol minuman keras tersebut. Tetapi ada satu botol yang dibiarkannya begitu saja tidak ikut dipecahkan.

Para awak kapal yang menyaksikan peristiwa itu amat terkejut, mengingat kekejaman dan kedzaliman sang raja. Mereka berkata: “Sungguh berani orang ini melakukan hal itu”. Namun mereka pun tidak berani mencegah pemuda tadi menghancurkan botol-botol minuman keras itu.

Hancurkan Seluruh Botol Miras, Pemuda Shaleh Ini Justru Sisakan Satu Botol Saja. Mengapa?

Mereka pun akhirnya mengadukan peristiwa tersebut pada sang raja. Raja tentu saja diliputi rasa marah, namun di sela-sela kemarahannya, ia merasa heran dengan tindakan pemuda tadi yang menyisakan satu botol minuman keras tidak ikut dipecahkan.

Setelah pemuda itu berhasil ditangkap, Raja pun bertanya: “Mengapa kamu berbuat demikian?!”.

“Aku berbuat demikian karena desakan hatiku. Jika aku dianggap bersalah, maka hukumlah aku sesuka Raja”. Jawab si pemuda.

“Baiklah kalau begitu”. Ucap Raja geram, “Tetapi mengapa kamu meninggalkan satu botol ini?” Sambungnya.

“Sebelumnya aku memecahkan botol-botol minuman keras itu karena desakan kegairahanku terhadap amar ma’ruf nahi mungkar. Kemudian ketika hanya tersisa tinggal satu botol, hatiku menjadi gembira dan bangga karena aku telah berhasil membasmi perbuatan sekeji ini. Aku merasa bangga karena telah berhasil memusnahkan minuman haram yang dapat membuat peminumnya terjerumus ke dalam lembah dosa dan melakukan perbuatan-perbuatan keji. Apabila aku memecahkan yang satu botol lagi, maka aku khawatir bahwa perbuatanku bukan lagi atas dasar Islam. Namun atas dasar desakan nafsuku sendiri, oleh karena itu aku tinggalkan”. Jawab si pemuda.

Mendengar penjelasan si pemuda, Raja pun berkata pada para pengawalnya: “Biarkan dia, karena dia dipengaruhi oleh kekuatan yang luar biasa”.

***

Rasa bangga dan sombong karena telah berhasil berbuat kebajikan adalah penyakit hati berbahaya yang dengan halus menghinggapi para pelaku amal shaleh. Inilah yang banyak terjadi di lingkungan kita dimana rasa bangga telah menyelimuti hati para pelaku kebaikan dan merasa bahwa ialah yang berjasa membasmi kejahatan yang ada di lingkungan tersebut.

Sikap ini pula berlaku bagi para mubaligh dan da’i yang setiap kehadirannya selalu dinantikan dan tidak ada yang bisa membantahnya. Jadilah muncul rasa sombong dan merendahkan orang lain dalam hatinya. Sehingga setiap ucapan atau nasehatnya bukan lagi karena Allah tapi karena rasa bangga terhadap kehebatan ilmu yang ia miliki.

Padahal kesombongan merupakan sifat yang menjadikan iblis dikeluarkan dari surga. Kesombongan dan rasa bangga terhadap diri juga menjadi satu-satunya alasan mengapa iblis dimurkai hingga hari kiamat dan dikalungi dengan ucapan “Laknatullah”.

Sungguh sangat halus memang batasan antara berjuang karena Allah dengan kebanggaan akan diri sendiri.

Oleh karena itu sudah selayaknya bisa kita untuk terus melatih diri agar tidak mudah bangga dengan berbagai kebaikan yang kita lakukan dan melupakan Allah sebagai yang Maha Kuasa. Jangan lupakan juga untuk merasa diri hina dan tidak memiliki kekuatan apapun selain atas pertolonganNya.

Ucapkanlah “Astaghfirullah” dan “Laa haula walaa quwwata illaa billah” sebanyak yang kita mampu. Semoga dengannya kita akan terus diingatkan bahwa hidup kita adalah milikNya dan segala kemampuan yang kita miliki adalah milikNya pula.

Wallahu A’lam