Kisah Nyata Kakek Pemecah Batu Usia 62 Tahun Sekolahkan 75 Anak Yatim: 'Nurutin Dunia Gak Akan Ada Cukupnya'

Kisah Nyata Kakek Pemecah Batu Usia 62 Tahun Sekolahkan 75 Anak Yatim: 'Nurutin Dunia Gak Akan Ada Cukupnya'

Kisah Nyata Kakek Pemecah Batu Usia 62 Tahun Santuni 75 Anak Yatim: 'Nurutin Dunia Gak Akan Ada Cukupnya'


Hidup dengan keterbatasan ekonomi di usia senja, bukan menjadi sebuah hambatan untuk senantiasa berbuat baik bagi sesama.

Itulah yang dilakukan oleh Surono, seorang kakek berusia 62 tahun yang menyantuni 75 anak yatim meski hanya berprofesi sebagai pemecah batu.

Setiap hari, Surono bekerja sebagai tukang pemecah batu di daerah Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur.

Hasil dari pekerjaannya tersebut, ia gunakan untuk menyekolahkan 75 anak yatim piatu dan anak fakir miskin.

Kakek Surono setiap hari bekerja sebagai pemecah batu di daerah Jakarta Timur.

Dengan menggunakan palu sebagai alat kerjanya, setiap pagi ia datang menuju lokasi tempat mencari nafkah dibantu dengan tongkat untuk menunjukkan arah.

Meski memiliki keterbatasan fisik, kakek Surono cukup terampil untuk memecahkan batu satu-persatu hingga menjadi kepingan kecil.

Meski memiliki penghasilan yang tak seberapa, ia mengaku bersyukur dengan pekerjaan yang dimiliki olehnya.

Biasanya, untuk satu karung batu yang dipecah akan dihargai sekitar Rp5-10 ribu.

"Alhamdulillah karena mungkin ini yang pas buat saya (pekerjaan), ini yang cocok buat saya," kata Surono.

Santuni 75 Anak Yatim


Walau penghasilannya tak seberapa, Surono tetap bisa menyantuni anak-anak yatim yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Sejak tahun 2005, ia rutin memberikan bantuan untuk pendidikan anak-anak yatim kurang mampu.

"Alhamdulillah rezeki itu saya kumpulkan, karena kita memang mengasuh anak-anak yatim yaitu untuk kebutuhan biaya sekolah, untuk beli buku, atau beli jajan. Intinya untuk biaya anak-anak yatim sekolah gitu," katanya.

Hingga saat ini, Surono mengaku memiliki sekitar 75 anak yatim dan dhuafa yang disantuni olehnya.

"Akhirnya begitu hari demi hari ke bulan ke tahun, lama-lama nambah sampai sekarang ada 75 anak yatim dan dhuafa di daerah saya," kata Surono.

Meski hidup sederhana, istri kakek Surono ternyata sangat mendukung langkah yang diambil suaminya untuk menyisihkan sedikit rezekinya berbagi kepada anak yatim.

"Karena saya enggak punya anak sama bapak, saya seneng saja dukung hadapi anak-anak itu biar ada yang merhatikan gitu," kata istri Surono.

Surono mengaku jika dirinya semangat menjalani ibadah dengan membantu sesama untuk menyiapkan bekal di akhirat nanti.

"Saya merasa hidup ini ternyata duniawi kalau diturutin tidak ada cukupnya tidak ada selesainya, padahal hidup ini di duni ahanya sementara yang lama di akhirat nanti. Makanya saya merabanya masa depan saya di akhirat nanti bagaimana supaya mendapat bekal di akhirat nanti. Itulah yang membuat saya semangat ibadah seperti ini," pungkasnya.

Pak Surono adalah salah satu orang yang bisa mengingatkan kita bahwa apapun pekerjaan kita, berapapun penghasilannya, kita tetap harus bersyukur dan harus berbagi pada sesama.

Panjang umur ya Pak Surono, Semoga selalu sehat dan diluaskan rezekinya, Aamiin.
Next article Next Post
Previous article Previous Post