Kisah Bocah Ini Bikin Terenyuh, Tak Malu Jualan Es, Uangnya Buat Orangtua & Belajar Online

Kisah Bocah Ini Bikin Terenyuh, Tak Malu Jualan Es, Uangnya Buat Orangtua & Belajar Online

Kisah Bocah Ini Bikin Terenyuh, Tak Malu Jualan Es, Uangnya Buat Orangtua & Belajar Online


Kisah perjuangan Jafar Sidik, bocah Sumedang yang masih berusia 11 tahun membuat orang lain akan terenyuh.

Bagaimana tidak, di saat bocah seusianya asyik bermain, Jafar justru sibuk berjualan es secara berkeliling.

Bocah asal Lembur Tengah, RT 03/17, Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara ini setiap hari berjualan menyusuri gang sempit dan area pesawahan.

Dia yang berjalan sembari menenteng es buah, tak segan menawarkan dagangannya ke setiap rumah warga.

Suaranya terdengar lantang, karena itu warga yang ada di dalam rumah kemungkinan besar akan mendengarnya.

Setiap harinya, Jafar berjualan membawa tas kecil, memakai masker, dan sandal jepit.

Saat berjualan, dia hanya mampu membawa es buah sebanyak 10 cup yang disimpan menggunakan wadah terbuka.

Biasanya, sebelum berangkat, dia dibantu oleh ibunya menyiapkan dagangannya tersebut di rumah kontrakan yang sangat sederhana.

Setelah es buah itu siap untuk dibawa dan dijual, Jafar akan pamit.

Tak lupa dia meminta doa ke ibunya agar dagangannya bisa laku terjual.

Siapa sangka, bocah bertubuh mungil ini mampu membuat dagangannya bisa laku terjual.

Saat ditanya uang hasil jualannya digunakan untuk apa, anak pertama dari pasangan suami istri Neneng Fatimah (36) dan Ubed Junaedi (40) itu memberikan jawaban yang mulia.

"Uangnya dikumpulin di mamah, agar ada modal lagi buat usaha, bayar token listrik dan bayar kontrakan," ujar Jafar saat ditemui ketika berjualan di sekitar Jalan Mayor Abdurrahman, Kabupaten Sumedang, Rabu (12/3/2020).

Tak hanya itu, karena saat ini sekolah sedang memberlakukan belajar online, uang hasil jualan tersebut juga kerap digunakannya untuk membeli kuota internet.

Paling banyak, Jafar mengaku mampu membeli kuota internet sekitar setengah gigabyte saja.

Adapun dalam sehari, Jafar rata-rata bisa membawa uang Rp 50 ribu.

Itu diperoleh dari penjualan sebanyak 10 cup es buah yang harganya Rp 3.000.

Warga yang membeli es buah dari Jafar kadang juga tidak menerima uang kembalian lantaran merasa kasihan.

"Tapi kalau habis, saya balik ke rumah untuk membawa es buah agar bisa berjualan lagi. Sehari bisa 3 sampai 4 kali berjualan dengan membawa 8 atau 10 cup es buah dalam satu kali," katanya.

Jafar tak malu berjualan. Pasalnya, niatnya adalah membantu kedua orangtuanya.

Ibunya sehari-hari juga berjualan es buah di rumahnya.

Sedangkan ayahnya, bekerja menjadi kuli bangunan di Kota Bandung.

"Saya jualan saat ayah bekerja di Bandung sejak satu bulan yang lalu, dan saat ini kebetulan lagi belajar di rumah. Jadi bisa bantu mamah sama adik," ujarnya.

Apa yang dikatakan Jafar senada dengan apa yang diucapkan ibunya.

Neneng Fatimah mengatakan, anaknya berjualan atas kemauan sendiri.

"Biasanya dia berjualan dari jam 9 sampai sore. Itu memang keinginanannya sendiri karena katanya ingin membantu orangtua," katanya.

Lebih lanjut Neneng bercerita, saat pulang ke rumah, Jafar kadang berkeluh kesah karena ada yang mengejeknya karena berjualan.

Namun, siswa kelas 6 SDN Panyingkiran 2 itu mengaku tak apa-apa jika dia diejek seperti itu.

"Tapi dia mah ya gak apa-apa," ujar Neneng.

Neneng bersyukur, dia memiliki anak seperti Jafar.

Anaknya itu tak malu berkeliling jualan demi membantu meringankan beban kedua orangtuanya.

"Anak saya berkeliling berjualan es buah dari pukul 09.00 - 18.00 WIB," ujar Neneng.
Next article Next Post
Previous article Previous Post