https://services.vlitag.com/vpaid/?q=8a7b73d6a77c33fb99c70ab6e96e9064&defaultVolume=&page_url=http://kabarmakkah.com
Dulu Terjebak di Dunia Hitam, Mantan Preman ini Kini Mendirikan Panti Asuhan

Dulu Terjebak di Dunia Hitam, Mantan Preman ini Kini Mendirikan Panti Asuhan

Dulu Terjebak di Dunia Hitam, Mantan Preman ini Kini Mendirikan Panti Asuhan


Hampir semua orang memiliki masa lalu yang terbilang kelam. Hal itu pula yang sempat menghampiri hidup Prianggono.

Sedari SMP, Prianggono sudah akrab dengan dunia hitam. Dimana dia menjadi penikmat minuman keras, memasang tato di badan hingga terparah menjadi penjual pil koplo alias narkoba.

“Saya nakal dari SMP, sudah minum, sudah punya tato, jualan obat (pil) koplo juga. Saya (bahkan) dikeluarkan dari SMA itu juga gara-gara ketahuan membawa pil koplo banyak di dalam tas,” cerita pria berusia 43 tahun tersebut, dilansir Kompas.com.

Semakin berjalannya waktu, Prianggono semakin tumbuh sebagai sosok tidak baik. Dia bahkan menjadi preman, yang selalu mengambil jatah uang dari sejumlah pemilik toko yang ada di salah satu wilayah di Semarang.

“Di Pamularsih ada toko-toko itu, setiap bulan saya mendapatkan jatah. Tapi, ya uang jatah itu habisnya hanya buat minum,” bebernya.

“(Pokoknya), setiap hari minum, ya macam-macam, maksiatlah.”

Namun secara perlahan hatinya mulai terketuk untuk berubah. Ditambah, mendengar ceramah di siaran televisi.

“Ada titik jenuh juga, terus galau, gelisah akan hidup. Saya itu seorang laki-laki punya istri, nanti ke depannya akan seperti apa kalau seperti ini terus.”

“Alhamdulilah, saya waktu itu belajar sedekah. Awalnya tahun 2009, gara-gara nonton TV tentang sedekah,” ungkapnya.

Dari situ, Prianggono merancang sebuah kehidupan baru bersama istrinya, dengan meninggalkan Semarang dan pindah ke Sleman, Yogyakarta.

Di kota itu, langkah Prianggono untuk memperbaiki diri semakin dipermudah oleh Tuhan. Dia dipertemukan dengan komunitas Islam, yang akhirnya membuat dia rajin beribadah, hingga muncul niatan untuk mendirikan panti asuhan.

Mengharukannya, hanya butuh waktu satu tahun dua bulan, Prianggono berhasil mendirikan Panti Asuhan Islam Yatim dan Dhuafa Daarul Qolbbi Pondok Pesantren Tombo Ati.

Saat ini, panti asuhannya telah diisi lebih dari puluhan anak, yang biaya hidupnya ditanggung penuh oleh Prianggono.

“Enam tahun berjalan panti asuhan tanpa proposal, tanpa meminta-minta. Kita doanya minta didatangkan dan dipertemukan, alhamdulilah cukup,” ucapnya.

Untuk menyokong kebutuhan anak-anak panti asuhan, Prianggono merintis usaha dengan membuka warung Kongsuu di Desa Widodomartani, Sleman.

“Ya untuk operasional panti. Pelan-pelan kita merintis ekonomi panti asuhan,” ujarnya.

Mengenai niatannya dalam membangun panti asuhan, ternyata Prianggono memiliki harapan mulia nan mengharukan. Dia berharap panti asuhan yang didirikannya ini bisa membayar dosa-dosa yang telah dia perbuat masa lalu.

Dia juga ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Karena ia pernah mendengar bahwa orang yang mengurus anak yatim akan berdampingan dengan Nabi Muhammad SAW.
Next article Next Post
Previous article Previous Post