Awalnya Biasa, Tiba-tiba Sopir ini Minta Uang Sewa Mobilnya Disedekahkan di Tanah Suci, Tangis Pecah

Diposting pada

Seorang pria yang menyewa mobil untuk menuju bandara mendapatkan pengalaman menyentuh hati atas sikap pengemudinya.

Pengalaman ini terjadi pada M Yamin Saleh saat bersama istri dan temannya pergi dari hotel menuju bandara.

M Yamin Saleh memutuskan menyewa mobil untuk pergi menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Selama perjalanan M Yamin dan penumpang lain tidak banyak bertanya kepada pengemudi mobil.

Justru sopir yang bertanya kepada mereka.

M Yamin Saleh juga menjawab seperlunya apa yang ditanyakan sopir itu.

Awalnya tidak ada yang menarik perhatian M Yamin, dia merasa sopir itu seperti orang biasa.

Namun ketika sudah sampai di pintu gerbang bandara, tiba-tiba sopir itu minta tolong kepada M Yamin Saleh.

Sambil menahan tangis sopir itu meminta M Yamin Saleh agar uang sewa mobil disedekahkan saja.

Lebih spesifik, sopir itu berharap agar uang sewa mobil itu disedekahkan di Tanah Suci.

Ternyata ada alasan yang lebih menyentuh hati di balik permintaan si sopir ini.

Cerita ini diposting oleh M Yamin Saleh pada 30 Maret 2018:

“Ambillah manfaat !!

Entah siapa namanya. Sejak ia menjemput kami di hotel sampai ke bandara saya tidak menanyakannya. Beberapa kali justru ia bertanya tentang tujuan kami.

Saya pun hanya menjawab seperlunya. Setiap saya menjawab ia menimpali dengan zikir. Tapi entahlah, saat itu saya merasa biasa saja.

Istri saya yang duduk di depan juga hanya diam, sementara dua orang teman yang duduk di samping saya hanya sibuk dengan gadgetnya.

Mungkin mereka nerasakan hal yang sama. Tidak ada yang special dari orang ini.

Pagi itu, cuaca kota Makassar nampak cerah. Seperti biasa, hilir mudik kendaraan memadati jalan kota.

Kendaraan kami terus melaju di jalur tol hingga beberapa menit kemudian memasuki gerbang bandara Sultan Hasanuddin.

Laju kendaraan sedikit melambat. Tetiba ia kembali membuka pembicaraan.

Loading...

“Pak, saya bisa minta tolong?”.

“Iyee..kenapaki’?”, jawabku dalam dialek Makassar.

Sejenak ia terdiam. Tak lama kemudian, ia menangis tersedu-sedu. Dari kursi belakang saya memperhatikan ia di kaca spion yang ada di depannya.

Air matanya mengalir deras, matanya memerah. Ia tak bisa berbicara beberapa saat.

“Sewa mobil ini tolong sedekahkan di Tanah Suci nanti Pak”, ujarnya dengan suara hampir terputus.

Mulanya saya tidak mengerti maksudnya.

Ia lalu menjelaskan lagi, bahwa uang sewa kami sejumlah puluhan ribu ke bandara ini tak usah dibayarkan kepadanya.

Ia meminta agar nanti disedekahkan ke Masjid Haram.

“InsyaAllah pak. Tapi di Masjid Harom tidak ada kotak amal masjid.”

“Sembarang mi pak. Sedekahkan ke orang saja” Ia masih saja terseduh. Sayapun haya menghela nafas.

“Iye. Nati saya sedekahkan untuk kita.”

“Bukan untuk saya Pak. Untuk orang tua saya”. Jawabnya cepat.

Tangisnya semakin menjadi. Dadanya bergemuru.

Entah karena apa dan sayapun tak bertanya lagi.

Saya merasa begitu cemburu. Rasa cintanya kepada orang tua terasa sangat besar.

Suasana langsung hening sampai kami tiba di depan pintu keberangkatan. Ia menurunkan barang kami, dan kamipun berpisah.

Hingga beberapa hari sebelum kembali ke tanah air, amanhnya kami tunaikan. Semoga Allah menerima kebaikanmu kawan.

Saudaraku…

Lihatlah bagaimana bakti itu. Kita sebagai anak sekaligus sebagai orang tua.

Berbuat baik kepada mereka, semoga anak kita juga berbuat baik kepada kita. Pahalanya tidak terputus.

Postingan ini belum banyak diketahui oleh netizen.

Tapi semua yang sudah memberikan komentar di postingan itu ikut mendoakan kesejahteraan si sopir.

Semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

Loading...