Sempat Jadi Tukang Becak Tapi Tak Pernah Lupa Shalat, Kehidupannya Berubah Seperti Ini



Tidak ada yang mustahil di dunia ini selama kita terus berjuang, berusaha dan tidak lupa berdoa kepada-Nya.

Kata itulah yang tepat untuk menggambarkan kisah perjuangan hidup dari Bapak Sarkani (59).

Warga Jalan Perintis 1 Perumnas Sako Palembang tersebut dulunya hanyalah seorang penarik becak.

Dia harus tertatih - tatih bertarung melawan tuntutan kehidupan.

Sempat Jadi Tukang Becak Tapi Tak Pernah Lupa Shalat, Kehidupannya Berubah Seperti Ini


Dengan kesabarannya ia tidak pernah mengeluh dan tetap selalu bersyukur atas nikmat ya Allah SWT berikan kepadanya.

"Nikmat kesehatan itu saja sudah sangat berharga sekali bagi kita semua", singkatnya.

Istrinya sendiri Rasnawati (59) hanya seorang penjual sayur - sayuran bayam dan kangkung di pasar Perumnas Sako.

Sebelumnya tidak pernah terlintas di benak Sarkani untuk bisa merubah roda hidup dari bawah sampai naik ke atas.

"Dulu fokus tetap kerja, masalah untuk membeli rumah sendiri dan keperluan yang lainnya sepertinya sulit terwujud", katanya.

Ia tidak mau menyerah dan terus tetap bekerja sampai akhirnya sang istri mengajaknya untuk bekerja dalam satu profesi saja sebagai pedagang sayur - sayuran.

Atas permintaan sang istri, Sarkani kemudian ikut membantu berjualan sayuran.

"Istri memang ada jiwa untuk berdagang, coba - coba ikut ajakan istri dan alhamdulilah ternyata ekonomi keluarga sedikit menjadi lebih baik", tuturnya.

Ekonomi mereka pada saat itu sangat terpuruk, hasil dari penjualannya harus rela dibagi - bagi untuk keperluan makan dan sewa rumah.

"Untuk makan saja dulu susah, apalagi mau keperluan lainnya", jelasnya.

Namun perjuangan keras mereka seperti dilihat dari sang maha pencipta.

Sempat Jadi Tukang Becak Tapi Tak Pernah Lupa Shalat, Kehidupannya Berubah Seperti Ini
Sarkani dan Istri


"Disela - sela berjualan ketika seruan azan memanggil kita harus memenuhi panggilan tersebut", tegasnya.

Dan ada satu hasil dari ketekunan Sarkani selama kurang lebih 30 tahun berjualan sayuran, ia kini telah berhasil melaksanakan rukun Islam yang ke-5 naik haji.

"Tetap sabar saja dalam bekerja, fokus dan jangan tinggalkan salat wajib 5 waktu, sesibuk apapun kita harus tetap mengingat Allah SWT", ungkapnya.

Untuk jenis sayuran sendiri terdiri kangkung, bayam serta timun yang mereka jual.

Ada juga cabai merah dan hijau, mereka mengambilnya dari pasar agen lalu menjualnya kembali.

Dengan suara yang pelan istrinya Rasnawati juga menceritakan bagaimana mereka harus lebih bijak menentukan suatu pilihan.

Hasil dari berjualan sedikit demi sedikit ia tabungkan.

"Dulu saya serta bapak menabung uang dan alhamdulilah akhirnya terkumpul, tidak ada tujuan lagi saya dan bapak memang akan naik haji, untuk masalah rumah itu urusan dunia bisa nanti diurus belakangan", jelasnya.

Selesai menunaikan ibadah haji, pasangan suami istri tersebut kembali menyisihkan kembali uang penghasilan mereka untuk membeli rumah sendiri serta menyekolahkan anak - anaknya.

Keempat anaknya berhasil ia sekolahkan sampai bangku perkuliahan dari hasil berjualan sayuran tersebut.

Bahkan sekarang tugasnya seperti sudah mulai ringan setelah hanya tinggal satu orang anak saja yang masih duduk di bangku perkuliahan.

"Sekarang tinggal satu lagi tanggungan kami sebagai orangtua, anak terakhir Miftahul Jannah yang sedang menimbah ilmu di Kampus Universitas Negeri Islam (UIN)", terang Rasnawati.

Perempuan asli kabupaten Ogan Komering Ilir tersebut menjelaskan kalau sebagai manusia kita harus tetap beribadah kepada Allah SWT serta jangan pernah sombong kepadanya, tetaplah bersyukur atas nimat yang ia berikan.

"Dulu rumah sangat buruk sekali, dindingnya dari kayu serta berukuran sangat kecil, tetapi ibu dan bapak yakin naik tetap naik haji terlebih dahulu baru setelah itu urusan rumah", pungkasnya.

Sempat Jadi Tukang Becak Tapi Tak Pernah Lupa Shalat, Kehidupannya Berubah Seperti Ini
Rumah Sarkani sekarang ini


Dan ternyata memang benar, Rasnawati merasa ada perbedaan yang luar biasa ketika selesai melaksanakan ibadah haji, hatinya lebih tenang.

Perlahan - lahan ia merasa rezekinya lebih lancar.

Ia kemudian menabung kembali untuk membeli rumah sendiri, keinginannya akhirnya terwujud berkat ketekunannya.

Bahkan ia juga kini tidak perlu lagi untuk tidur di rumah kayu berukuran kecil sewaannya.

Berkat keyakinannya ia sekarang sudah bisa tinggal di rumah besar yang berhiaskan tembok yang kokoh dan dilengkapi halaman yang luas lengkap dengan kendaraan roda dua serta roda empat miliknya.

"Kuncinya selalu tetap bersyukur, jangan tinggalkan salat wajib, rezeki sudah diatur Allah SWT tinggal bagaimana kita untuk menjemputnya, tekuni profesi kita agar bisa mendapatkan hasilnya", tutur Rasnawati.


loading...