Kisah Taubatnya Seorang Santri Setelah 20 Tahun Tak Shalat



Dua puluh tahun sudah Syukur Usman (40) merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Dia benar-benar tak menjalankan Rukun Islam ke dua itu selama dua dasawarsa. Hatinya seakan kosong di tengah ingar-bingar kenikmatan dunia.

Kisah Taubatnya Seorang Santri Setelah 20 Tahun Tak Shalat


"Duapuluh tahun saya tidak kenal sholat, apa lagi mengaji," sesal Syukur, saat menceritakan pengalaman hidupnya di hadapan para Koordinator Daerah Rumah Tahfidz dan Kepala Cabang PPPA Daarul Qur’an di Bogor, Januari silam.

Siapa sangka Syukur pernah jadi santri pondok pesantren terkenal di Ponorogo yang sudah melahirkan para pemimpin umat Islam di Indonesia. Setelah itu, Syukur melanjutkan kuliah di Universitas Borobudur Jakarta.

Saat berusia 25 tahun, Syukur sudah jadi project manager di salah satu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang kontraktor. Dia terjun langsung ke lapangan saat perusahaannya ingin membangun jalan, bandara, dan gedung-gedung bertingkat di Padang maupun di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Setiap bulan, Syukur menerima uang puluhan juta dari hasil kerjanya. Namun, dana yang masuk kebanyakan tidak jelas sumbernya. ” Ya, saat itu nikmat dunia saya dapat.”

"Tidak ada yang tidak kenal dengan saya. Preman pasar di Padang itu koordinasinya sama saya. Sementara di Jabodetabek saya yang koordinasikan truk-truk proyek saat ada pengurukan maupun pembangunan," tambah dia.

Syukur merasa terpuruk ketika itu. Sampai akhirnya ia kembali bersua dengan dua sahabat lamanya saat menjadi santri di Ponorogo. Mereka telah terpisah selama 20 tahun. Kedua sahabat itu adalah Ustaz Ahmad Jameel yang merupakan Pemimpin Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an dan Ustaz Solehuddin Pengasuh Rumah Tahfidz Center PPPA Daarul Qur’an.

Syukur tak mengerti saat Ustaz Jameel dan Ustaz Sholeh memberinya proposal Wisuda Akbar Tahfidz Qur’an. Yang ia tahu, wisuda itu hanya sebatas memakai toga.

"Mereka datang ngasih proposal Wisuda Akbar, ini apa saya pikir? 20 tahun saya ninggalin habis dari Gontor. Enggak kenal tahfidz, enggak kenal Qur’an. Saya dari Gontor tapi baca Alquran enggak, puasa apa lagi. Sampai Wisuda Akbar berlalu," tutur Syukur.

Namun, ada yang membuat hatinya terketuk saat bertemu pemuda bernama Nurul Hadi, seorang Qori dan Hafidz Alquran yang tengah melanjutkan sekolah ke jenjang Strata 2 (S2). Syukur merasa malu si pemuda bertanya kepadanya cara menghafal Alquran 30 juz.

Dia heran, saat Nurul Hadi khatam menghafal 30 juz hanya dalam waktu tiga bulan. Hatinya bergejolak karena merasa pernah jadi santri di pesantren ternama namun belum punya hafalan Alquran bahkan ibadah wajib saja ia tak pernah. Nikmat dunia yang ia dapati menjauhkannya dari Sang Pencipta.

"Aku ini dari Gontor loh. Segala macam organisasi yang ada di pesantren pun aku ikuti," tuturnya.

Dia bersuykur Allah memberinya hidayah melalui dua sahabatnya dan juga Nurul Hadi. Kini Syukur tengah mengelola empat Rumah Tahfidz yang ada di Sumatera Barat. Dengan 149 santri yang rata-rata sudah menghafal 3 juz. Nurul Hadi pun kini jadi salah satu pengasuh santri-santri tersebut, hidupnya kini berkonsentrasi untuk melahirkan para penghafal Alquran.

"Alhamdulillah, ini suatu tobat hati. Sahabat-sahabat saya memberikan amanat yang belum pernah saya terima yakni amanat akhirat. Karena sebelumnya saya hanya menerima amanat dunia. Mudah-mudahan Alquran bisa menghapus dosa-dosa saya yang telah lalu," tutur Syukur. [pppa.or.id]



loading...