Meninggal Ketika Sujud, Haji Miftah Dikenal Rajin Ke Masjid Dan Suka Sedekah Ke Anak Yatim



Kini takmir Masjid Babus Salam di Lawang, Kabupaten Malang, bernama Haji Miftahul Arifin (63) telah wafat. Keluarga, bahkan masyarakat sekitar, turut kehilangan sosok Abah Miftah. Dia dikenal sebagai haji yang hidup sederhana.

Meninggal Ketika Sujud, Haji Miftah Dikenal Rajin Ke Masjid Dan Suka Sedekah Ke Anak Yatim
Kediaman Haji Miftah (Muhammad Aminudin/detik)


Rendah hati serta ringan tangan. Begitulah sosok Haji Miftah, yang meninggal dunia ketika sedang sujud saat menunaikan shalat sunah bakda isya di Masjid Babus Salam, Selasa (3/1) kemarin.

Keseharian Haji Miftah banyak dihabiskan di kediamannya serta beribadah di masjid. Haji Miftah juga dikenal sebagai pedagang kambing. Bila ada warga meninggal, biasanya Haji Miftah selalu datang mengawali prosesi pemulasaraan jenazah.

"Beliau orangnya baik, suka sedekah ke anak yatim," ujar Maliki, salah satu tetangga almarhum, Jumat (6/1/2017).

Banyak warga yang kagum terhadap kealiman serta kedermawanan Haji Miftah. Kondisi meninggal Haji Miftah dalam posisi sujud diyakini warga karena amal shaleh dan kerendahannya.

"Pak Haji (Miftah) orangnya sangat alim dan tawadhu'," ungkap Maliki.

Masjid Jami Babus Salam dibangun tidak lain juga karena peran kakek buyut Haji Miftah. Sampai Haji Miftah mengehmbuskan nafas terakhir, masjid itu menjadi tempatnya beribadah salat fardhu.

"Mulai kakeknya memang rajin ke masjid. Orangnya tidak aneh-aneh meskipun sudah haji dua kali," sebut Maliki.

Maliki tidak memungkiri banyak komentar di media sosial soal kondisi meninggalnya Haji Miftah. Baik-buruk pandangan orang akan pasti terjadi. Menurutnya, keseharian Haji Miftah bisa menjadi pelajaran berharga.

"Jangan sampai menimbulkan fitnah. Meninggal dalam kondisi seperti itu, kami menganggap justru baik karena kealiman beliau," kata Maliki.

Meninggal Ketika Sujud, Haji Miftah Dikenal Rajin Ke Masjid Dan Suka Sedekah Ke Anak Yatim


Keluarga sendiri kurang berkenan jika kematian Haji Miftah menjadi konsumsi publik berlebihan. Mereka khawatir akan timbul banyak fitnah yang justru akan memengaruhi kesempurnaan akhir hayat Haji Miftah.

"Mohon maaf kami sampaikan sebelumnya. Kami memandang Abah (Haji Miftah) wafat sempurna. Jangan sampai arwah sudah tenang justru terganggu karena fitnah. Beliau mengajarkan kepada kami untuk tetap rendah hati dan peduli sesama," kata Arif, putra kedua Haji Miftah saat ditemui di rumah duka.

Karena sudah menjadi kesepakatan keluarga, Arif tidak berkenan untuk menceritakan kepribadian sosok ayahandanya.

"Mohon maaf sebelumnya," ucapnya.

Baca Juga: Kesaksian Jamaah Ketika Haji Miftah Meninggal Saat Sujud Di Masjid

Suasana duka masih menyelimuti kediaman Haji Miftah. Pelayat banyak berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.


loading...