Siska Nur Julianita : Aku Kristen Saja Berjilbab, Kenapa Kamu yang Muslimah Tidak?



Siska Nur Julianita : Aku Kristen Saja Berjilbab, Kenapa Kamu yang Muslimah Tidak?

Namaku Siska Nur Julianita, sebenarnya aku terlahir dari kedua orang tua yang beragama Islam. Namun ketika, menginjak umur 6 tahun, aku diasuh oleh tante dan diajak ke Makassar, Sulawesi Selatan untuk tinggal bersama beliau. Tante mengasuhku karena waktu itu tante belum dikaruniai seorang anak. Sejak di bawah pengasuhan beliau, aku kerap diajaknya ke gereja setiap hari Minggu dan disekolahkan di sekolah yayasan Katholik. Kedua orang tuaku tidak tahu – menahu mengenai hal ini. Mereka baru mengetahuinya ketika aku menginjak usia SLTP dan berkunjung ke rumah orang tuaku di Jakarta.

Siska Nur Julianita : Aku Kristen Saja Berjilbab, Kenapa Kamu yang Muslimah Tidak?


Seiring bertambahnya usia, iman Kristenku mulai tumbuh, hal ini juga karena aku sering ke gereja dan terlibat dalam kegiatan – kegiatan gereja. Kemudian aku meminta izin ke mama untuk dibaptis. Aku masih ingat betul waktu itu ketika aku meminta izin untuk dibaptis sambil marah – marah. “Ini yang ketiga kalinya Siska minta izin untuk dibaptis. Terserah mau diizinkan atau tidak, Siska tetap mau dibaptis, ini hidup Siska, Siska yang menentukan!” ketika itu, mama hanya terisak – isak di telfon.

Singkat cerita, aku akhirnya dibaptis dan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA Katholik juga di salah satu yayasan Katholik di Makassar. Sempat beberapa bulan bersekolah di sekolah itu namun karena beberapa alasan aku kemudian keluar dan kemudian pindah ke sekolah menengah kejuruan (SMK).

Ketika berada di SMK umum ini, aku juga mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam. Namun setiap kali mengikuti pelajaran agama Islam, aku pasti keluar dan memilih untuk tidak ikut. Aku meminta keluar ke ruangan sebelah untuk mengikuti pelajaran agama Kristen. Aku memang sudah mengikrarkan diri menjadi penganut Kristen yang taat.

Hal ini pun terus berlangsung, sehari – hari aku jalani ke gereja dan mengikuti kegiatan GBI Filadelfia Makassar. Sampai akhirnya setelah lulussekolah pada tahun 2006, aku diminta kedua orang tua untuk kembali ke Jakarta. Saat itu tanteku juga sudah memiliki dua orang anak, jadi saya menganggapnya sudah tidak kesepian lagi bila aku tinggal pergi.

Ketika kembali ke rumah orangtua, tentu saja aku mendapati kebiasaan yang berbeda karena seisi rumah semuanya menganut agama Islam sementara aku sendiri penganut agama Kristen. Dari situ aku sempat merasakan tidak betah pasalnya mereka juga menyuruhku untuk ikut melaksanakan shalat, puasa dan sebagainya.

Di saat bulan puasa tiba, seisi rumah semuanya menjalankan puasa sementara aku kerap makan sendirian di siang hari. Ketika lebaran tiba, seisi rumah bersama – sama menjalankan shalat Ied ke masjid sementara aku sendiri malas bangun. Aku memilih tidur karena memang seisi rumah memiliki kebiasaan keagamaan yang berbeda, maka aku selalu pergi ke gereja diam – diam karena takut ada yang tahu. Akan tetapi aku boleh bernafas lega karena tidak satupun dari mereka mengetahui termasuk juga para tetangga.

Namun banyak juga teman – teman muslimah yang mengetahui akan hal ini, mereka pun merasakan heran. Tapi mungkin masalah agama adalah masalah yang sensitif, tidak satupun dari teman – teman muslimah yang berani menanyakannya. Hingga suatu hari aku bekerja di pusat kebugaran di Hotel Mandarin Jakarta, rekan – rekan kerjaku semuanya beragama Islam. Kami senang berdiskusi mengenai perbedaan agama, dalam diskusi itu, aku selalu dengan tegas menolak semua ucapan mereka.

Mereka bertanya, mengapa aku memilih Kristen? Aku menjawab dengan percaya diri diiringi rasa bangga, “Ya karena cuma agama Kristen yang menjamin umatnya masuk surga, dan hanya melalui Yesus Kristus. Sedangkan dalam agama Islam, mana ada yang berani menjamin semua umatnya masuk surga.” Begitulah jawabanku.

Siska Nur Julianita : Aku Kristen Saja Berjilbab, Kenapa Kamu yang Muslimah Tidak?
Para Biarawati yang menggunakan pakaian sucinya layaknya Bunda Maria


Selalu saja setiap selesai sharing, ucapan dan pendapat mereka tidak kugubris. Ucapan mereka bagiku tidak ada artinya, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Sampai suatu hari akau bertanya pada rekan kerja satu divisi, “Kenapa aku kalau dikasih tahu tentang Islam selalu tidak mau mendengar?”. Temanku menjawab ketus, “Ya karena hati kamu sudah membatu, tidak bakal bisa ditembus apapun.”

Saat itu aku selalu kepikiran dengan jawaban rekanku itu, benarkah hatiku sudah benar – benar membatu? Mulailah aku selalu mendengarkan sedikit demi sedikit apa yang mereka katakan tentang Islam, setiap kali berdiskusi mengenai perbedaan agama, aku mencoba memperhatikan dan mencermati pendapat mereka tentang Islam dan Kristen.

Lebaran tahun berikutnya, aku malah ke blok M bersama dengan teman. Ke blok M itu, aku hanya berniat mengantar teman untuk membeli jilbab. Saat itu aku pun turut membeli satu buah, hingga sesampainya di rumah mama mengetahui kalau aku baru saja membeli jilbab. Beliau terlihat girang sekali meskipun tidak memberikan komentar apa – apa.

Aku sangat berterima kasih kepada rekan – rekanku di Physique Health Club Mandarin Oriental Hotel yang telah bersedia menjadi kawan sharing mengenai agama Islam. Mereka adalah rekanku yang secara tidak langsung telah memberi sesikit demi sedikit pemahaman mengenai ajaran Islam.

Keluargaku memang belum ada yang mengetahui bahwa aku mulai tertarik mempelajari ajaran Islam. Di samping itu, aku sendiri mencoba menyembunyikannya karena ada rasa gengsi. Bagaimana tidak, sejak sebelumnya aku sudah berpendirian untuk tetap mempertahankan keyaqinan Katholikku di hadapan keluarga meski kala itu aku sudah tertarik belajar Islam.

Alasan paling mendasar ketertarikanku pada Islam karena ternyata ajaran Islam itu indah. Bayangkan saja, untuk melepas sandal saja ada sunnahnya. Subhanallah, belum pernah ada agama yang benar – benar mengatur sedemikian rupa. Apalagi menghormati kaum wanita. Berbeda dengan kebebasan orang – orang Barat.

Di momen lebaran, sepulang dari silaturahmi aku meminta diantarkan ke toko buku. Aku berdoa dalam hati meminta diberikan keteguhan hati, minta ditunjukkan satu buku yang bisa membuka hatiku. Hingga kemudian aku menemukan buku yang berjudul, “Pendeta – pendeta yang Bertaubat”.

Aku pun membelinya dan membacanya dengan gemetar dan takut. Karena ada sisipan ayat Al-Quran yang belum pernah aku baca sebelumnya. Sejak saat itu juga di tempat kerja, aku selalu rajin bertanya kepada teman, tapi aku dirujuk dan disuruh ke Masjid Istiqlal. Tahukah apa yang aku fikirkan saat itu? “Orang Kristen masuk ke wilayah Islam yang ada bisa – bisa aku dibantai.” Teman – teman tertawa kala itu. Kata mereka, “Mana ada kayak begitu.”

Akhirnya aku beranikan diri masuk Masjid Istiqlal dan bertemu dengan Imam besar KH. Ali Musthofa Ya’qub. Aku saat itu banyak bertanya seperti kenapa harus berwudhu, kenapa shalat menghadap kiblat sedangkan Allah kan ada dimana – mana.

Lalu beliau mengajakku untuk bersegera menjadi Muslimah. Aku disuruh datang lagi setelah shalat Jum’at. Nah di hari itu, aku terlambat datang. Karena jadwal beliau padat, aku tidak bisa menunggu. Sedangkan kalau dengan stafnya aku agak berat karena harus bawa dokumen – dokumen keterangan dari RT atau RW. Sedangkan tetangga aku kan tidak ada yang tahu kalau aku ini Katholik.

Sedih sekali kala itu, malah aku berfikir kalau ini mungkin jawaban dari Yesus bahwa pilihanku ini salah besar. Tapi temanku bilang ini semua adalah cobaan dan godaan setan. Esok harinya sebagaimana hari – hari biasa aku berangkat kerja dan kebetulan lewat masjid di daerah Ciledug. Masjid tersebut masih baru dan aku catat saja nomer telponnya. Aku bilang ke salah satu pengurusnya bahwa aku ingin menjadi mualaf. Aku mau masuk Islam. Akupun bertanya, “Ada persyaratannya tidak?” Kata mereka, tidak ada cukup bawa diri saja.

Ya sudah, di hari yang sudah dijanjikan aku kemudian datang. Tepat ba’da shalat jum’at, 23 November aku bersyahadat di Masjid Al-Madinah, Ciledug. Setelah resmi menjadi Mualaf, aku kemudian belajar berwudhu, shalat dan puasa. Orang tuaku merasa senang sekali, walaupun sebelumnya mereka tidak mengetahui tentang keislamanku karena kau malu dan gengsi.

Oh iya, sebelum  aku menjadi mualaf aku sempat berdoa dalam hati, “Ya Allah kalau memang benar ini jalan yang lurus, tolong kasih tahu mama untuk membelikan aku mukena untuk aku sholat.”

Sewaktu pulang kerja, mama bercerita bahwa ada wanita memakai baju serba putih bersih seperti baju baru semua datang ke rumah hanya sampai halaman saja. Ia memberi sebuah plastik besar yang berisi sembako dan mukena. Mama memberikan mukena itu kepadaku dan peristiwa itu membuatku kain yaqin saja mengenai kebenaran ajaran Islam.

Sejujurnya aku terkesan dengan ajaran Islam karena masalah jilbab. Beberapa hari sebelum memeluk Islam entah mengapa aku ingin sekali menutup aurat layaknya wanita muslimah. Sampai aku ditanya oleh seorang teman, “Kamu memangnya sudah masuk Islam? Kok sudah pakai jilbab?”

Baca Juga:




Aku jawab saja, “Mbak, kamu harusnya malu dong. Aku yang Kristen aja berjilbab kok kamu yang Islam malah enggak”. Dijawab seperti itu, dia diam saja. Dulu sebelum aku menjadi mualaf aku memang berfikir bahwa wanita itu indah dan cantik tetapi kenapa Islam mengharuskannya untuk menutupi keindahan itu? Subhanallah ternyata banyak hikmahnya, salah satunya supaya lebih terjaga kehormatannya.



Loading...