Tanpa Disengaja, Satu Keluarga Ini Diterima Bersamaan Di Universitas Yang Sama




Tanpa Disengaja, Satu Keluarga Ini Diterima Bersamaan Di Universitas Yang Sama
Keluarga Mukijab (ugm.ac.id)
Tanpa Disengaja, Satu Keluarga Ini Diterima Bersamaan Di Universitas Yang Sama

Bagaimana rasanya jika satu keluarga bisa daftar dan diterima di universitas yang sama secara bersamaan? Ternyata itulah yang dialami oleh keluarga Mukijab yang sama-sama diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Warga Kampung Patangpuluhan, Yogyakarta ini sangat bangga bisa masuk kuliah bersama dengan kedua anaknya dan menganggap bahwa itu adalah jalan hidup yang Allah berikan.

“Ini pasti bagian dari skenario Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga saya dan keluarga bisa menunaikan amanat ini sampai selesai,” ucap Mukijab, sebagaimana dilansir dari situs resmi UGM, Jum’at (22/07/2016).

Ayah dari dua anak ini bukanlah orang biasa karena ia merupakan seorang jurnalis di sebuah harian lokal Bandung. Selain itu ia juga mengajar sebagai dosen tamu di berbagai perguruan tinggi swasta Yogyakarta.

Saat mendaftar di UGM, ia berniat melanjutkan pendidikan jenjang Doktoral di Sekolah Pascasarjana UGM dalam bidang Sosiologi. Ketika itu ia tidak menyadari bahwa kedua anaknya juga ikut mendaftar di universitas yang sama.

Setelah selesai mengisi formulir dan hendak memberikannya kepada panitia pendaftaran, ia bertemu dengan anak pertamanya yang bernama Rizqa Salsabila Firdausia. Anaknya tersebut baru saja lulus universitas swasta jurusan Farmasi. Padahal yang Mukijab tahu, hanya anak keduanya saja, Qotru Alnaday yang ingin melanjutkan kuliah usai lulus dari SMA 2 Yogyakarta.

Saat pengumuman siapa saja yang diterima, keluarga tersebut sangat bahagia karena ketiganya diterima di universitas tersebut. Mukijab diterima di program Doktoral Sosiologi, anak pertamanya diterima di program Magister Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi dan anaknya yang bungsu diterima di program Sarjana Perawatan Gigi Fakultas Kedokteran Gigi UGM.

“Kalau bahasa gurauan teman-teman wartawan, saya mendapat lailatul qadar, karena anugerah kuliah satu keluarga di UGM ini diperoleh pada Ramadhan 1437 Hijriyah,” ucap sang ayah.

Bagi Mukijab, jika ini rencana manusia belum tentu akan berhasil seperti saat ini.

“Kalau saya pribadi yang merencanakan kuliah bersama dua anak di kampus yang sama, kok rasanya sulit menjadi kenyataan,” pungkasnya.

Baca Juga: