Ketika Sang Ibu Hobi Menyumpahi Buah Hatinya




Sering kita saksikan di sekitar kita, banyak ibu-ibu jengkel dengan kenakalan atau kesalahan anak-anaknya, kemudian keluar dari mulutnya ucapan laknat atau sumpah.

Ketika Sang Ibu Hobi Menyumpahi Buah Hatinya


Biasanya keluar dari mulut sang ibu berupa do'a yang tidak baik atau kata-kata kotor (tidak pantas didengar). Sehingga sumpah dan celaan ini sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging.

Sang ibu pun merasa biasa saja, tidak pernah merasa bersalah ataupun berdosa atas perbuatannya tersebut. Sambil marah-marah dan mengumpat anaknya ia pun berlalu, meninggalkan buah hatinya dalam keadaan menangis. Sang Ibu merasa bahwa perbuatan atau ucapan yang keluar dari mulutnya memang sudah tindakan yang seharusnya dilakukan.

Menjadi ibu rumah tangga memang sangat berat, ia memiliki tugas yang sangat banyak, ibarat pekerja ibu mempunyai jam kerja yang tidak terbatas tidak seperti layaknya wanita karir kantoran yang mempunyai jadwal kerja antar 6-8 jam. Selepas itu ia bisa beristirahat dengan tenang. Sedangkan bagi ibu yang mengurus anak haruslah menjaga mereka 24 jam penuh, belum lagi jam untuk melayani suami, memasak, mengurus rumah, menggosok pakaian, dan lain-lainnya.

Karenanya tak heran jika sang ibu merasa kondisinya lelah ia akan menjadi sangat labil, sedikit saja buah hatinya melakukan hal-hal yang menurutnya tidak baik, maka terkadang ia tidak bisa mengontrol amarahnya. Akhirnya keluarlah makian, hinaan, cacian, laknat dan sumpah yang tidak baik kepada anak-anak mereka. Ironisnya sang ayah yang mendengar kata-kata tersebut terkadang hanya diam saja.

Lalu bagaimana sebenarnya islam memandang perkara ini?

Tak bisa dipungkiri, bahwa jauhnya seseorang dari ilmu dan agama yang mulia ini bisa menyeret mereka dalam dosa dan maksiat bahkan terkadang mereka secara tak sadar telah mendzalimi makhluk-Nya. Karena itu seudah seharusnya bagi semua muslim dan juga muslimah mempelajari agama dan adab dalam masalah ini agar mereka terhindar dari apa yang di haramkan Allah dan mengerjakan apa yang di perintah-Nya.

Karena itu wahai saudariku, tetaplah semangat dalam menuntut ilmu syariat agar Allah selalu membimbingmu.

Islam sangat melarang orangtua melaknat anak-anak mereka, bukan hanya itu, kita pun dilarang menyumpahi diri kita sendiri ketika kita marah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan saatnya perkataan ataupun do'a (baik maupun buruk) yang kita ucapkan akan di kabulkan.

Dalam sebuah hadits riwayat sahabat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

''Janganlah kalian menyumpahi diri kalian, dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (do'a) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu'' (HR.Muslim)

Hadits diatas menerangkan bahwa ada waktu-waktu baik yang didalamnya akan dikabulkan doa, karena itulah hadits tersebut melarang kita untuk menyumpahi diri sendiri, menyumpahi anak-anak dan harta kita, agar sumpah itu tidak bertepatan dengan waktu pengabulan do'a sehingga kita akan selamat dari bahaya yang tak diinginkan.

Namun sayangnya sebagaimana penulis telah jelaskan diatas, banyak dari kaum ibu yang saat ini masih suka melaknat dan menyumpahi anak-anak mereka. Mereka beralasan bahwa sebenarnya mereka tidak bermaksud demikian. Padahal sebagaimana kita ketahui alasan tersebut tidak dapat diterima karena larangannya telah jelas dan tegas.

Penulis mendapati pengalaman yang mungkin bisa diambil hikah dan pelajaran, kisah nyata ini yang patut untuk dijadikan renungan bersama bagi para ibu-ibu.

Tak jauh lokasinya dari rumah penulis, pada waktu itu ada tetangga mendapati seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 9 tahun ditemukan meninggal dunia tersambar petir. Kabar ini menjadi heboh, semua orang baik dari desanya mapun tetangga desa datang untuk melihat kondisi anak tersebut. tak lama kemudian datanglah sang ibu di tempat kejadian, ia menangis terisak-isak kemudian menjerit karena tidak mengira anaknya telah mati.

Beberapa hari kemudian, penulis mendengar selentingan berita bahwa sebab kematian anaknya tersebut adalah akibat dari sumpah ibunya sendiri yang pada waktu ketika ia marah ia menyumpahi anaknya agar tersambar petir. wal 'iyadzu billah, akhirnya sumpah tersebut dikabulkan Allah dan menyesallah sang ibu dengan penyesalan yang teramat mendalam. Apa hendak dikata, Nasi sudah menjadi bubur.

Kisah lainnya yang tak jauh berbeda dengan kisah nyata diatas juga terjadi di desa tetangga, Seorang bocah laki-laki berusia sekitar 7 tahun ditemukan mati tenggelam di sungai. Peristiwa ini belum lama terjadi kira-kira 4 bulan yang lalu kejadiannya. Pun demikian anak tersebut sebelumnya disumpahi ibunya sendiri.

Ibunya yang sangat jengkel mendoakan kematian bagi anaknya tersebut. Dalam rintik hujan anak itupun keluar rumah bermain dengan teman-temannya. ketika berjalan di tepian sungai, kakinya tiba-tiba tergelincir maka tenggelamlah ia ke dalamnya. Teman-temannya tak mampu menolongnya, mereka berusaha mencari pertolongan orang dewasa.

Hingga akhirnya bocah malang tersebut berhasil diangkat ke tepi, Namun ia telah meninggal karena terlalu banyak menelan air sungai dan meraunglah sang ibu dengan kejadian tersebut.

Semua orang yang hadir hanya bisa terhenyak dan mengelus dada. kiranya sumpah dan laknat telah menjadi budaya bagi kaum ibu-ibu kita. Sehingga sangatlah disesalkan anak-anak mereka menjadi korban.

Sungguh amat tragis dan menyedihkan. Jauhnya kita dari ilmu agama ini membuat kita terjerumus dalam kesalahan yang fatal. Semoga Allah membimbing kita semua dan mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin.

Ada beberapa tips yang mungkin berguna untuk ibu rumah tangga agar mereka mampu mengontrol emosi mereka ketika marah.


  1. Ketika ibu marah, ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi kita dan ingatlah bahwa anak tidaklah langsung tumbuh menjadi dewasa, kita juga dulunya anak-anak yang terkadang nakal dan menjengkelkan orangtua kita. 
  2. Ketika sedang marah, Tarik nafas dalam-dalam dan santai (relaks) diam sejenak pandang anak dengan wajah yang lain dari biasanya tunjukkan ketidaksukaan kita akan ulah mereka, jika ibu ingin melotot atau merenggutkan muka maka lakukanlah agar anak takut.
  3. Jika kedua cara diatas belum bisa mengontrol emosi dengan baik maka segeralah ucapkan istighfar. Jika ibu ingin mengeraskan suara maka keraskanlah sehingga anak mendengar ucapan ibu, sehingga ucapan istighfar itu akan terekam dalam otak anak-anak kita sehingga ketika mereka marah atau melakukan kesalahan secara otomatis mereka akan meniru kita.
  4. Seseorang mudah marah terkadang karena kelelahan, oleh karenanya kerjakanlah pekerjaan rumah tangga apa yang ibu sanggup lakukan di hari itu, jangan memaksakan diri, tidurlah segera ketika anak-anak tidur sehingga ibu juga punya waktu untuk beristirahat sehingga emosi bisa terjaga. Berilah pengertian dan  penjelasan yang baik dan cara yang hikmah kepada suami mengapa tidak bisa menyelesaikan tugas rumah tangga, insya Allah suami ibu akan mengerti. Sehingga kebiasaan yang buruk menyumpahi anak ketika marah insya Allah akan berkurang sedikit demi sedikit. 


Jangan lupa berdo'alah kepada Allah agar Dia Yang Maha Kuasa merubah kebiasaan buruk ini sesungguhnya hati Ibu dalam genggaman-Nya. Insya Allah, kita tidak akan senang lagi menyumpahi anak-anak kita ketika marah.

Baca Juga:




Wallahu'alam bisshawwab.




loading...

close ini