Imam Syafi’i Bisa Khatam Al Qur’an 60 Kali Selama Ramadhan. Bagaimana Dengan Kita?




Imam Syafi’i Bisa Khatam Al Qur’an 60 Kali Selama Ramadhan. Bagaimana Dengan Kita

Imam Syafi’i Bisa Khatam Al Qur’an 60 Kali Selama Ramadhan. Bagaimana Dengan Kita?

Bulan Ramadhan identik dengan bacaan Al Qur’an karena di bulan itulah Allah menurunkan Al Qur’an. Selain itu bagi yang membacanya akan mendapatkan pahala kebaikan yang berlipat-lipat dibandingkan dengan bulan yang lain.

Bisa mengkhatamkan Al Qur’an dalam bulan Ramadhan merupakan sebuah kesyukuran yang tidak terhingga. Karenanya setiap umat islam berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Al Qur’an sesuai kemampuan mereka. Tentunya mengkhatamkan tersebut bukan main tabrak aturan seperti tajwid ataupun tidak mendalaminya. Jauh lebih baik jika bisa mengkhatamkan Al Qur’an sekaligus paham akan isi yang dibaca tersebut.

Dalam hadist Al Hakim, Rasulullah pun menyebut Al Qur’an sebagai hidangan Allah yang harus kita terima dengan sekemampuan.

“Al Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan ini sesuai kemampuan kalian. Al Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang dan obat yang bermanfaat. Terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya dan keselamatan bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang, maka diturunkan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak diulang. Bacalah, karena Allah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR Al Hakim)

Mengkhatamkan Al Qur’an juga dilakukan oleh para ulama yang salah satunya adalah Imam Syafi’i dimana dalam satu bulan Ramadhan, ia mampu mengkhatamkan 60 kali Al Qur’an dan itu adalah bacaan diluar shalat tarawih yang juga panjang.

Imam Abu Hanifah pun melakukan hal yang sama dan patra ulama lainnya senantiasa mengkhatam Al Qur’an setiap pekan atau persepuluh hari.

Ibnu Abdul Hakam menceritakan tentang kisah Imam Malik dengan perkataan, “Apabila masuk Ramadhan, biasanya Imam Malik meninggalkan bacaan hadist dan majelis-majelis ilmu untuk mengkhususkan diri membaca Al Qur’an dengan melihat mushaf. Imam Malik berkata, “Ini bulan Qur’an, tidak pantas ada perkataan yang menyibukkan dari Al Qur’an.”

Beberapa ulama seperti Imam Ahmad selalu menutup majelis ilmu dengan dzikir dan bacaan Qur’an. Sementara Az Zuhry rahimahullah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan membaca Qur’an dan bulan memberi orang.

Tak hanya sekedar membaca saja, para ulama juga mentadaburinya, sebagaimana pesan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.

“Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al Qur’an kecuali dengan tadabur.”

Sehingga memperbanyak membaca Al Qur’an sekaligus mentadaburinya bisa dilakukan bersamaan. Jika pun belum mampu, maka mengerjakan salah satunya tetap menjadi sebuah kebaikan yang dapat menyempurnakan puasa kita.

Seorang muslim yang berusaha memaksimalkan bulan Ramadhan akan menjadikan siangnya untuk berpuasa dan malamnya untuk bertilawah Al Qur’an.

“Ka’ab berkata: “Pada hari kiamat akan terdengar seruan, “Sesungguhnya setiap orang yang menanam akan diberikan apa yang ditanamnya disertai tambahan, hanya para ahli Al Qur’an dan puasa diberikan pahala mereka tanpa batasan.”

Baca Juga:


Karenanya segera pergunakan waktu di bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya melalui tilawah Al Qur’an dan amalan sholeh lainnya. Jangan sampai setelah bulan Ramadhan, kita akan menyesal karena tidak mampu berinteraksi dengan Al Qur’an sebagaimana para ulama terdahulu.

Wallahu A’lam





loading...