Kisah Inspiratif: Inilah Gambaran Rumah Orang Terkaya Yang Sesungguhnya




Kisah Inspiratif: Inilah Gambaran Rumah Orang Terkaya Yang Sesungguhnya

Kisah Inspiratif: Inilah Gambaran Rumah Orang Terkaya yang Sesungguhnya

Rumah itu berukuran mungil dan berdindingkan bilik bambu, hingga karenanya angin bisa bebas keluar masuk ke sela-sela anyamannya. Ruangan di dalamnya terbagi dua, satu untuk tempat istirahat dan satu lagi untuk tempat memasak. Tak ada tempat mandi yang layak melengkapi rumah tersebut. Yang ada hanyalah sebuah wadah berisi air yang biasa digunakan pemiliknya untuk berwudhu.

Itulah gambaran rumah orang terkaya yang selalu menolak bantuan ketika ada orang yang mengulurkan tangannya. Terletak di sebuah kebun dan agak terpencil dari rumah tetangga, Pak Salim menghuni rumah tersebut seorang diri. Ia bekerja sebagai buruh cangkul dengan gaji yang tidak menentu. Tanah tempat ia mendirikan rumah pun sebenarnya bukanlah tanah milik pribadi karena tanah itu adalah tanah milik kerabat yang kebunnya ia urus.

Sesuai dengan namanya ‘Salim’ yang berarti ‘selamat’, Pak Salim menjalani hidupnya dengan selamat dan damai. Memang dalam pandangan orang banyak, hidupnya begitu susah dan memprihatinkan. Namun Pak Salim memiliki jiwa yang kaya hingga kesusahan hidup tak jadi membuatnya merana dan berputus asa. Pria paruh baya itu begitu sederhana, ia hidup dengan sedikit keinginan dan memupuk banyak syukur.

Nominal gaji yang kurang dari 500 ribu rupiah perbulannya tidak menjadikannya berkeluh kesah. Hidupnya selalu merasa cukup karena dijalaninya dengan ikhlas, sabar dan ikhtiar menjalani skenario Illahi Robbi. Pernah suatu ketika ada lembaga sosial yang bermaksud memberikan santunan pada Pak Salim. Namun santunan demi santunan yang ditawarkan selalu ditolaknya.

Padahal santunan yang ditawarkan cukup beraneka ragam mulai dari sembako hingga amplop berisi uang satu juta rupiah. Namun amplop berisi uang tersebut hanya mampir sebentar di telapak tangannya tanpa pernah merasakan masuk saku bajunya. Sambil menyodorkan kembali amplop dalam genggaman tangannya, Pak Salim berkata: “Uang ini saya terima, namun tolong sampaikan pada yang lebih berhak lagi. Karena masih banyak orang di luar sana yang lebih membutuhkannya dari pada saya”.

Sontak saja ucapan Pak Salim membuat para pemberi bantuan tersebut terharu. Pak Salim yang hidupnya begitu susah, masih bisa memikirkan orang lain di luar sana yang sedang kesusahan. Pak Salim yang hidupnya begitu susah, ternyata tidak merasa kalau beliau hidup serba kesusahan. Beliau tidak gelap mata melihat materi di depannya. Beliau malah sadar bahwa masih banyak orang di luar sana yang mungkin hidup jauh lebih susah. Hal ini merupakan wujud syukur seorang hamba akan segala nikmat yang telah dianugerahkan Robb-nya.

Padahal di zaman sekarang ini, banyak sekali orang yang memiskinkan diri. Hidup bergelimang harta namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan untuk memperturutkan hawa n4fsu, banyak orang yang hilang malu dan nurani. Mereka menghalalkan segala cara termasuk yang dilarang agama demi mendapat kenikmatan dunia. Maunya selalu menerima dan enggan untuk memberi. Dan kalau pun ia terpaksa memberi, dipilihnya barang-barang bekas tak berkualitas. Berat rasa dalam hatinya memberikan barang-barang bagus hasil kerja jerih payah pada orang lain.

Maka orang seperti itu sebenarnya miskin, walaupun rumah yang ditinggalinya mentereng dengan peralatan serba mewah lengkap di dalamnya. Sedangkan rumah orang kaya yang sesungguhnya adalah rumah Pak Salim yang berdindingkan anyaman bambu dan berhiaskan obor dari daun kelapa kering.

Baca Juga:


Inilah satu gambaran sisi kehidupan dari si kaya hati. Semoga menjadi bahan renungan dan intropeksi diri bagi kita semua yang sering berselimut dengan keluh dan kesah.

Wallahu A’lam




loading...

close ini