Renungan Islam: Inilah Kekayaan Sebenarnya Yang Ternyata Dihindari Banyak Orang




Renungan Islam: Inilah Kekayaan Sebenarnya Yang Ternyata Dihindari Banyak Orang

Renungan Islam: Inilah Kekayaan Sebenarnya Yang Ternyata Dihindari Banyak Orang

Banyak pemahaman sesat yang mengatakan bahwa orang yang kaya adalah mereka yang memiliki rumah banyak, mobil banyak dan uang banyak. Padahal kekayaan seperti itu hanyalah sebuah kekayaan semu yang tidak akan abadi dan dimiliki selamanya.

Semua kekayaan semacam itu lambat laun akan ditarik kembali oleh pemilik yang sebenarnya yakni Allah Ta’ala. Kaya yang demikian terkadang mampir seketika dan hilang entah kemana. Atau terkadang berhasil diupayakan setelah bertahun-tahun merintis, namun ia hanya bisa menikmati satu hari masa kayanya dikarenakan meninggal akibat berbagai penyakit komplikasi yang diderita.

Untuk mengetahui kekayaan sebenarnya yang ternyata telah banyak dihindari oleh masyarakat sekarang ini, bisa disimak dalam sebuah dialog antara seorang saudagar kaya dengan ulama.

Ketika itu Saudagar yang dikenal kaya raya mendatangi seorang ulama dan memberikannya kain yang sangat mahal yaitu berharga ratusan dinar. Akan tetapi ucapan ulama tersebut sangat aneh dengan mengatakan, “Aku mau menerimanya jika yang memberikan adalah orang kaya.”

Saudagar itu kemudian berkata tegas, “Iya, Aku sudah kaya. Harta yang kumiliki jutaan dinar.”

Dengan santai ulama itu menawarkan, “Maukah engkau jika aku memberikan kepadamu ratusan ribu dinar?”

Dengan wajah gembira, saudagar itu mengatakan, “Tentu saja. Aku tidak akan menolaknya.”

Sambil tersenyum, ulama bijak itu kemudian berkata, “Jika demikian, engkau belum kaya.”

Lihatlah ternyata dari kisah tersebut menyadarkan kita betapa banyak orang yang mengaku kaya, namun ia masih rakus dengan keduniaan yang sebenarnya amat kecil. Ketahuilah bahwa kaya yang sebenarnya dan kini telah banyak dihindari merupakan bebas dari ketergantungan harta benda dan segala yang berkaitan dengan dunia. Seorang yang kaya haqiqi tidak merasa kekurangan karena ia yakin bahwa karunia dari Allah telah mencukupi.

Dengan kata lain, ia tidak menyibukkan diri dalam keduniaan dan melalaikan akhirat. Ia hanya mengambil sebatas yang dibutuhkannya. Selanjutnya ia pun menyedekahkan atau menginfaqkan di jalan Allah.

Itulah Qanaah, kaya yang sesungguhnya. Sungguh sangat jarang orang yang mau menggapainya. Ini karena sifat qonaah meupakan pilihan yang lahir dari keluasan ilmu, dalamnya pemahaman dan dekatnya dengan Allah.

Itulah inti yang diucapkan oleh Syaikh Abdul Fattah Ghuddah bahwa, “Qanaah adalah kekayaan, harta yang tidak pernah habis, kemuliaan yang tak pernah mati, kehormatan yang tidak pernah lenyap dan ketenangan hati yang abadi.”

Sungguh apabila kita mengejar sifat qanaah, maka dunia akan mengejar kita meski kita menjauhinya. Namun apabila kita sibuk mengejar keduniaan, sifat qanaah yang merupakan kekayaan sejati akan benar-benar jauh. Tak jarang dunia pun justru perlahan-lahan menjauh.

Lantas mengapa kita begitu ingin disebut orang kaya sementara makna kaya yang sebenarnya tidak dipahami dan dicapai? Renungkanlah

Wallahu A’lam