Lebih Utama Mana, Orang Kaya Yang Bersyukur atau Orang Miskin Yang Bersabar?

Lebih Utama Mana, Orang Kaya Yang Bersyukur atau Orang Miskin Yang Bersabar?

author photo
Lebih Utama Mana, Orang Kaya Yang Bersyukur atau Orang Miskin Yang Bersabar? Umumnya, jika manusia diberi dua pilihan tersebut, pasti lebih banyak memilih yang pertama, kaya yang bersyukur. Karena secara naluri, manusia lebih siap untuk menikmati kekayaan dari pada menderita karena kemiskinan.

Lebih Utama Mana, Orang Kaya Yang Bersyukur atau Orang Miskin Yang Bersabar?
Orang Kaya Yang Bersyukur atau Orang Miskin Yang Bersabar? 


Di antara para ulama ada yang menyatakan bahwa orang miskin yang bersabar tentu lebih utama, karena orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya.

Sedangkan Imam Jalaluddin As Suyuthi dan Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa orang kaya yang bersyukur lebih utama berpendapat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu meminta pada Allah agar diberi sifat ghina (kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).

Antara Nabi Ayub dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas Salam

Al Qur'an pernah menyebutkan kisah Nabi Sulaiman dan Nabi Ayub, Allah mengabadikan dua kisah manusia tersebut di dalamnya, agar dijadikan hikmah dan ibrah bagi umat berikutnya.

Terkadang ada manusia yang diberi nikmat berupa harta melimpah namun dia tidak memiliki nikmat sehat. Al hasil, Dia sama sekali tak pernah bisa menikmati hartanya, karena sakit-sakitan.

Sebaliknya, ada manusia yang diberi nikmat sehat wal afiyat tapi tidak diberi harta melimpah. Dia punya keinginan banyak namun tidak bisa terwujud. Karena kantongnya tidak cukup untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

Dan yang terjadi pada Nabi Ayub, beliau diberi ujian kedua-duanya. Beliau menderita sakit fisik yang sangat mengenaskan dan juga kemiskinan sangat parah, Dalam Al Qur'an disebutkan,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

"Ingatlah hamba Kami, Ayub. Ketika dia berdoa memanggil Rabnya, “Sesunngguhnya setan menimpakan kemadharatan kepada dengannusb dan adzab." (QS. Shad: 41)

Berkaitan dengan ayat diatas, Sebagian ahli tafsir mengatakan,

Makna Nusb adalah musibah sakit yang beliau derita.

Makna Adzab adalah musibah yang membersihkan semua harta dan anaknya.

Sebelumnya, Nabi Ayub merupakan orang shaleh yang sangat kaya raya, hartanya melimpah dan anaknya banyak. Sampai suatu ketika, Allah memberinya ujian, dengan membalik keadaannya 180 derajat.

Ironisnya, semua ujian itu datang pada Nabi Ayub dalam waktu yang sangat singkat. Semua anaknya meninggal, hartanya ludes. Sanak kerabatnya menjauhinya, hingga beliau harus keliling dari satu sampah ke sampah hanya untuk mendapatkan sesuap makanan.

Sampai akhirnya beliau terkena sakit sangat parah, tak ada bagian kulit seluas titik jarum yang tak dihinggapi penyakit tersebut. Semua manusia menjauhinya, selain satu istrinya yang selalu setia mendampinginya, karena keimanan dalam hati yang begitu mendalam. Semoga Allah meridhoi istri Ayub. Menurut catatan Ibnu Katsir, Semua ini terjadi selama 18 tahun lamanya. (Tafsir Ibn Katsir, 7/74).

Di sisi lain, Allah menciptakan Nabi Sulaiman sebagai sosok manusia kaya raya yang pandai bersyukur ketika diberi berbagai fasilitas dunia yang 'wah'. Selain menjadi raja dunia di alam manusia, beliau juga menjadi pemimpin bangsa jin dan penghulu semua binatang di zamannya.

Itulah doa beliau yang Allah kabulkan, sehingga beliau menjadi penguasa paling top markotop diantara manusia.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Sulaiman berdoa, wahai Tuhanku, berikanlah aku kerajaan yang tak layak untuk dimiliki oleh seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkau Maha Maha Memberi." (QS. Shad: 35)

Dua macam manusia ini, Allah sandingkan ceritanya dalam surat Shad, antara ayat 30 sampai 44. Dan keduanya, baik Nabi Ayub maupun Nabi Sulaiman, Allah sebut di akhir cerita,

نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

"Dia (Sulaiman dan Ayub) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang suka bertaubat. "(QS. Shad: 30 dan 44).

Maksudnya, baik miskin yang sabar maupun kaya yang bersyukur, di sisi Allah statusnya sama-sama hamba yang baik. Tinggal selanjutnya, siapa yang lebih bertakwa diantara mereka, itulah yang terbaik. Allah berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertakwa." (QS. al-Hujurat: 13).

Sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Beliau merupakan panutan bagi umat. Satu-satunya manusia yang hidupnya dijadikan sumpah oleh Allah. Ketika Allah menceritakan kejahatan kaum sodom, Allah bersumpah menyebut ‘Demi umurmu.’

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

"Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka mabuk dalam kesesatan. " (al-Hijr: 72).

Allah bersumpah demi umur, kehidupan dan keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia.

Ibnu Katsir menyebutkan riwayat keterangan dari Ibnu Abbas,

ما خلق الله وما ذرأ وما برأ نفسًا أكرم عليه من محمد صلى الله عليه وسلم، وما سمعت الله أقسم بحياة أحد غيره

"Belum pernah Allah menciptakan dan menumbuhkan manusia yang lebih mulia dari pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum pernah mendengar Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain beliau." (Tafsir Ibnu Katsir, 4/542).

Dalam urusan sabar dan syukur, beliau mengumpulkan antara akhlak Nabi Ayub dan akhlak Nabi Sulaiman. Nabi Muhammad adalah seorang kaya yang bersyukur sekaligus miskin yang sabar.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الإِسْلاَمِ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ – قَالَ – فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ

"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta untuk kemaslahatan islam, kecuali beliau pasti memberinya. Hingga suatu ketika datang seseorang (kepala suku), kemudian beliau memberikan kambing satu lembah kepada orang ini. Spontan dia pulang ke sukunya, dan mengatakan, “Wahai kaummu, masuklah ke dalam islam. Karena Muhammad memberikan harta layaknya orang yang tidak takut miskin." (HR. Muslim 6160).

Dan hingga kini, kita belum pernah menjumpai ada orang yang mendermakan harta kambing satu lembah.

Beliau juga pernah memotong 100 ekor unta. Jika satu unta seharga 12 juta, berarti beliau berkurban senilai kurang lebih 1,2 Milyar. Itu korban secara individual, bukan perusahaan.

Di sisi lain, beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena tidak memiliki makanan. Beliau dan para istrinya tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut.

Aisyah menjadi saksi sejarah kehidupan di keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ

"Tidak pernah keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan. "(HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).

Kita yakin, kondisi semacam ini tidak pernah kita jumpai di keluarga kita. Kita tidak pernah sampai berfikir: adakah makanan esok pagi? Bahkan untuk bisa kenyang selama 1 bulan, kita tidak pernah memikirkannya.

Mengalir Sesuai Keadaan

Siapapun, dia tidak akan bisa memilih dan memaksakan diri untuk menjadi orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar.

Jika Anda sekarang berada dalam kondisi miskin, tidak bisa memaksa Allah SWT untuk merubah anda menjadi orang kaya. Demikian pula sebaliknya. Anda yang dalam kondisi berkecukupan, tidak bisa memaksa Sang Kuasa untuk mengubah anda agar bisa mencicipi kemiskinan.

Itu berarti, yang seharusnya ada di pikiran orang kaya bukan bagaimana bisa jadi miskin, namun bagaimana cara agar bisa memaksimalkan rasa syukur kepada Allah. Karena itulah yang menjadi kewajibannya.

Sebaliknya, seharusnya yang ada dipikirkan orang mukmin yang tidak dikaruniai harta melimpah bukanlah bagaimana caranya agar bisa jadi kaya raya. Namun yang harus dipikirkan adalah, bagaimana agar ridho dan bersabar dengan ketentuan Allah SWT.

Seperti inilah yang dinasehatkan oleh cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma,

مَنِ اتَّـكَـلَ عَلَى حُسْنِ اخْتِيَارِ اللهِ لَـهُ لَـمْ يَـتَـمَنَّ شَيئًا

"Siapa yang pasrah terhadap pilihan terbaik yang Allah berikan kepadanya, dia tidak berangan-angan untuk menggapai sesuatu yang lain." (Kanzul Ummal, Ibnu Asakir, no. 8538).

Jika ada komentar, ‘Oh, Berarti artikel ini memotivasi orang miskin agar tetap jadi miskin, dan tidak bekerja, atau berusaha.’

Bagi yang berkomentar seperti diatas, berarti daya pemahamannya terlalu cetek untuk memahami konteks artikel ini. Karena penjelasan masalah ini sama sekali tidak memotivasi orang miskin untuk tidak berusaha dn berdoa.

Hanya menjelaskan tugas orang miskin di kondisi miskinnya, yaitu agar senantiasa ridho dan bersabar. Sementara urusan bekerja dan mengejar dunia, itu ada di pembahasan lainnya.

Mukmin: Antara Sabar dan Syukur

Kesimpulannya adalah, bahwa Orang Kaya Yang Bersyukur dan Orang Miskin Yang Bersabar itu sama baiknya selagi ia beriman pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabda Nabi Shallahu alaihi wasallam,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Sungguh mengherankan kondisi orang yang beriman, semua urusannya baik. Itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Ketika dia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan ketika dia mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya." (HR. Muslim 7692 dan Ibnu Hibban 2896)

Baca Juga:





Semoga Allah memberi kita sifat takwa, sifat ‘afaf (yang selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik) dan memberikan kita sifat ghina (merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia). Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Aamiin.

Wallahu A'lam.
Next article Next Post
Previous article Previous Post