Misteri Black Hole (Lubang Hitam di Luar Angkasa) Ternyata Sudah Diungkap Al Qur'an Sejak Dulu




Black Hole (Lubang Hitam) adalah penemuan terpenting di bidang kosmologi modern abad ini, Black Hole menunjuk pada bintang-bintang yang sangat berat massanya. Bintang merupakan entitas yang melewati fase pembentukan, kemudian ia membesar dan berkembang hingga sampai fase kematian.

Misteri Black Hole (Lubang Hitam di Luar Angkasa) Ternyata Sudah Diungkap Al Qur'an Sejak Dulu


Nah, Black Hole itu berada pada fase terakhir. Ketika volume bintang itu berkembang dengan skala yang besar, maka gravitasinya meningkat hingga batas-batas yang sangat besar, sehingga ia akan menarik segala sesuatu, Bahkan semua cahaya tak bisa terlepas dari gravitasi Black Hole yang begitu dahsyat.

Lubang ini disebut 'hitam' karena sifatnya akan menyerap apapun yang ada di sekitarnya dan yang pernah masuk ke dalamnya tak akan pernah bisa kembali lagi, bahkan cahaya sekalipun yang diserap olehnya.

Sejarah Penamaan Black Hole

Teori adanya lubang hitam pertama kali diajukan pada abad ke-18 oleh John Michell and Pierre-Simon Laplace, selanjutnya dikembangkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild, pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin dipopulerkan oleh Stephen William Hawking.

Istilah lubang hitam mulai populer ketika John Archibald Wheeler menggunakannya pada ceramah-ceramahnya pada tahun 1967. Walaupun ia dianggap luas sebagai pencetus pertama istilah ini, namun ia selalu menampik dengan pernyataan bahwa ia bukanlah penemu istilah ini.

Namun, jauh sebelum para ilmuwan modern diatas mengungkap tentang Black Hole, Ternyata Al Qur'an telah lebih dulu mengungkapnya.

Misteri Black Hole dalam Al Qur'an

Al Qur'an menyebutkan banyak fenomena alam raya dan benda-benda luar angkasa, bintang, planet, nama bintang, galaksi dan lain-lain. Sebelum mengklaim adanya fenomena black hole dalam Al-Qur'an, mari kita perhatikan ayat yang paling dekat untuk dikaji.

فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ ﴿١٥﴾ الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu.” (QS. At Takwir: 15-16)

Dalam ayat ini Allah SWT bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yakni bintang yang bernama atau memiliki tiga karakter.

Pertama, Khunnas (الْخُنَّسِ) yang tersembunyi dan tidak terlihat. Karenanya, setan disebut juga khannaas (الخناس) karena ia tidak terlihat oleh bani Adam. Ini persis yang disebutkan ilmuawan tentang karakter black hole yakni; invisible.

Kedua, Al Jawaar (الْجَوَارِ) bergerak cepat dan sangat cepat. Ini karakter black hole kedua moves. Lafadz Al Quran tajri lebih tepat dibanding penjelasan para ilmuwan sebab kata ia bermakna bergerak cepat atau lari. Sementara moves tidak menggambarkan bergerak dengan cepat.

Ketiga, Al Kunnas (الْكُنَّسِ) yang menyapu dan menelan setiap yang ditemuinya. Ini karakter black hole vacuum cleaner.

Kunnas berasal dari kanasa artinya menyapu, Dalam bahasa arab miknasah artinya adalah sapu. Kunnas bentuk jamak dari kaanis yang menyapu. Kunnas adalah shigot muntahal jumuk (bentuk jamak paling tinggi) dari bentuk tunggal kaanis.

Para ulama tafsir klasik menjelaskan makna khunnas al jawaril kunnas adalah bintang yang cahayanya tidak muncul di siang hari dan muncul di malam hari. Namun ini hanya penafsiran bukan makna sesungguhnya. Penafsiran paling sesuai dengan realitas alam raya adalah black holes.

Barangkali hal ini juga yang diisyaratkan oleh Al Quran,

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Apabila matahari digulung,” (QS. At Takwir: 1)

Black Hole juga bisa dianalogikan seperti sebuah bola yang berdiameter beberapa cm saja, namun massanya hampir sama dengan massa bumi, kondisi inilah yang menyebabkan gravitasi Black Hole menjadi tinggi sehingga bisa menarik semua benda yang ada di sekelilingnya bahkan materi cahaya pun akan ditarik oleh Black Hole sehingga warnanya menjadi hitam.

Selain ayat diatas, Al Qur'an juga telah menjelaskan mengenai bintang-bintang yang cahayanya bisa menembus apapun, Seperti disebutkan dalam ayat dibawah ini.

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ ﴿٢﴾ النَّجْمُ الثَّاقِبُ

Dari ketiga ayat tersebut ada dua kata yang perlu kita perhatikan, yaitu 'At-Thaariq' dan 'Attsaaqib'. kata At-Thaariq berasal dari kata kerja tharaqa yang artinya “mengetuk”, satu akar kata dengan thariiq (“jalan; tempat kaki mengetuk”) dan mithraq (“palu; alat pengetuk”).

Dalam bahasa Arab sehari-hari, istilah thaariq digunakan untuk menyebut tamu yang jarang muncul dan tiba-tiba datang di malam hari, atau seperti kata Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Juz 30, “orang yang mengetuk pintu tengah malam agak keras, supaya yang empunya rumah lekas bangun, karena dia membawa berita penting”, atau seperti penjelasan Prof. Dr. Muhammad Asad dari Austria dalam buku tafsirnya The Message of the Qur’an (“Pesan Al-Qur’an”), “a person who comes to a house by night to knock at the door”.

Bagaimana jika benda yang diketuk itu materinya sangat besar? tentu yang terjadi adalah getaran yang maha dahsyat. Dari akar kata tersebut bercabang menjadi beberapa kata yang artinya adalah metode, jalan atau cara (At-Tariiqah), kekuatan (At-Thirqu), dan yang datang pada malam hari atau bintang dini hari (At-Thaariq).

Sedang kata At-Tsaqib berasal dari kata Tsa-qa-ba. Dalam kamus Al Munawir dikatakan bahwa Tsaqaba berarti menembus, melubangi. Jadi At-Tsaqib bisa diartikan yang tembus atau berlubang. Maka tidak salah jika dalam Al Qur'an terjemahan DEPAG Attsaaqib diartikan sebagai "Bintang yang cahayanya bisa menembus".

Allahu Akbar, Inilah bukti nyata bahwa sebaik-baik petunjuk adalah Al Qur'an. Betapa pentingnya membaca dan memahami isi Al-Quran, tentu kita sebagai umat Islam akan memperoleh manfaat yang banyak baik dunia maupun akhirat.

Subhanallah, Mari kita kembali bertasbih kepada-Nya sebagai bentuk pengakuan terhadap kebesaran Allah yang menurunkan Al-Qur’an sekaligus sebagai penyucian diri dari kealpaan, kelalaian dan akan semakin menjadikan Allah bersimpati dan menyayangi kita.

Semoga kita dapat menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan pelajaran sehingga hidup kita makin terarah mendekat kepada ridho dan cinta-Nya. Akhirnya hanya orang-orang yang mau menggunakan hati dan akalnya yang akan mau menerima kebenaran sejati.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun,” (QS. Al Isra’: 44)






close ini