Bukan Amalan Yang Bisa Mengantarkan Manusia Masuk Surga




Hampir sebagian besar kaum muslim yang masih 'hijau' beranggapan bahwa, manusia bisa memasuki surga-Nya karena amalan-amalan baik dan ibadah yang bertumpuk-tumpuk. Mendapat tiket masuk surga hanya dengan meyakini Allah sebagai Tuhan yang Maha Ahad, mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, mendirikan shalat lima waktu sehari, berpuasa Ramadhan sebulan penuh, membayar zakat, dan melakukan ibadah haji ke Makkah jika kita mampu.

Bukan Amalan Yang Bisa Mengantarkan Manusia Masuk Surga


Bahkan, ada pula yang menambahkannya dengan berbagai amalan atau ibadah seabreg lainnya, dengan harapan bisa memenuhi target terbesar hidup kita, yakni masuk ke dalam surgaNya. Kita seringkali merasa bahwa berbagai amal ibadah yang kita kerjakan itu sebanding dengan harga tiket masuk surga.

Namun, Syekh Ibnu Atha'illah, Penulis Kitab fenomenal Al-Hikam dalam hampir setiap aforismenya, menyatakan, Bahwa manusia harus waspada jika sudah mulai memuji dirinya, memuji amal ibadahnya, bahkan merasa kebenaran sejati adalah milik dirinya sendiri. Manusia patut mengoreksi kembali keyakinan dalam jiwanya, apakah ia benar-benar iman pada Allah dengan segenap jiwa raga dan hatinya, atau hanya ingin menukar seabrek amalan yang dilakukan dengan surga.

Jika seseorang percaya bahwa hanya dengan melalui amal ibadah mereka akan mendapatkan kebahagiaan mereka di akhirat, maka ia patut memberikan penilaian ulang terhadap jiwanya.

Suatu ketika, Nabi Muhammad berkumpul dengan para sahabatnya, Kemudian beliau bersabda, "Tidak akan ada di antara kalian yang masuk surga lantaran amal ibadah kalian."Para sahabat bertanya, "Tidak ada, bahkan itu berlaku untukmu, Ya Rasulullah?"

Rasul menjawab, "Bahkan aku pun tidak, kecuali jika Allah meliputiku dengan kasih dan sayang-Nya."

Kisah dalam hadits di atas bukan berarti kita harus berhenti melakukan kewajiban berupa amal ibadah sehingga kemudian melakukan tindakan sesukanya tanpa melihat rambu-rambu yang telah diatur oleh syariat. Hadits diatas adalah ingin mengungkapkan dan  menunjukkan, apalah artinya kita, yang bahkan sudah melakukan amal sedemikian banyak pun, jika dihitung, tak akan pernah mencukupi segala karunia-Nya.

Betapa sombongnya manusia jika berusaha menawar dan menghitung tiap amalan yang kita kerjakan guna ditukar dengan tiket masuk surga. Padahal, apa yang dilakukan seorang hamba tak akan pernah cukup untuk menunjukkan terima kasih kepada Allah atas semua karunia dan kasih sayangNya yang diberikan pada manusia tanpa pernah berhenti.

Ada sebuah kisah israiliyat tentang seorang pria pertapa yang lebih memilih hidup di pegunungan untuk menjauhi semua manusia di bumi. Hal ini ia lakukan dengan maksud agar tidak melakukan dosa dan mendzalimi makhluk yang lain.

Selama 500 tahun ia menghabiskan waktunya di pegunungan hanya untuk beramal dan berdoa. Ia hanya makan buah delima yang tumbuh di sekitar tempat pertapaannya itu. Ia juga hanya meminum mata air yang ada di dekatnya dan tidak melakukan kontak dengan siapa pun dan apapun. Ia nyaris tak pernah melakukan dosa selama 500 tahun.

Ketika pertapa tersebut akan meninggal dunia, Allah berkata kepadanya, "Masukkan ia ke dalam surga karena kasih sayang-Ku".

Pria itu berteriak dan membantah, "Dengan amalku, Tuhan".

Dia mengira bahwa amalnya yang dikerjakan selama 500 tahun tanpa melakukan dosa sedikit pun bisa ditukar dengan surga, dan mendapatkan pahala yang paling besar yang belum pernah dikerjakan manusia.

Allah menjawab, "Benarkah kamu ingin diadili?" Lalu Allah memerintahkan pada para malaikat, "Ambil buku catatannya, dan hitunglah!"

Para malaikat mengambil buku amal catatannya dan mengoreksi setiap detail amal yang pernah dilakukan pertapa tersebut. Usai dihitung, salah satu malaikat pun melaporkan dan menimbangnya dengan besarnya kasih sayang Allah. "500 tahun ibadah dengan tanpa dosa ditimbang dengan kasih sayang Robbul Izzat." kata sang malaikat.

Pada titik ini, pria itu panik dan menangis seraya berkata, "Ya, Rabb. Sungguh karena rahmat-Mu lah aku bisa memasuki surga."

Ibnu Atha'illah menjelaskan beberapa kisah hikmah diatas untuk membimbing kita, agar tidak merasa berhak dengan penghargaan sebagai balasan atas amal yang kita kerjakan. Bahkan, Allah memberitahu kita dalam Quran bahwa semua yang kita lakukan sesungguhnya karena kita dipandu dan diarahkan olehNya, sehingga kita mampu melakukan ibadah dan amal-amal yang baik.

Oleh karena itu, Ibnu Atha'illah menekankan pada kita akan pentingnya sikap tawakkal (berpasrah diri) hanya pada-Nya. Harapan kita bisa berjumpa dengan Allah bukan karena kita telah banyak melakukan amalan dan ibadah. Melainkan, karena kita diperintahkan untuk melakukannya, dan kita akan terus melakukannya bahkan jika surga atau neraka tak pernah ada.

Jika pun ketika seorang hamba telah melakukan pelanggaran dan dosa, yang sekiranya membuat Allah murka, maka bukankah Dia, sang Maha Pengasih (juga) Maha Pemaaf?

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertobat dan menyucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222)

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ada tiga macam alasan kenapa manusia menyembah pada Allah SWT.

Pertama, ketaatan para budak. Mereka beribadah dan menyembah Allah hanya karena takut dengan hukuman-Nya, ia takut masuk neraka akibat perbuatan dan dosa yang dilakukannya.

Kedua, ketaatan para pedagang. Mereka rajin beribadah dan menghitung-hitung setiap detail amal ibadahnya dan kemudian berusaha menimbang, seberapa banyak upah dan balasan yang akan mereka dapatkan untuk setiap perbuatannya.

Kedua jenis tipe ketaatan ini kerap ada di tengah-tengah kita. Beberapa diantara mereka takut meninggalkan kewajiban hanya karena tak ingin mendapat balasan di neraka. Beberapa diantaranya lagi membutuhkan motivasi yang bisa membuatnya semangat beribadah dan beramal, Mereka selalu menimbang-nimbang. Jika pahalanya besar, maka ia akan bergegas segera melakukannya. Sebaliknya, jika pahalanya bernilai kecil, tak sungkan-sungkan ia pun berleha-leha bahkan tak mau mengerjakannya.

Tak ada yang salah dan buruk dari kedua tipe diatas. Namun, Rasulullah SAW. merekomendasikan tipe ibadah yang ketiga, dan ini adalah bentuk ketaatan level tertinggi seorang manusia.

Ketiga, ketaatan para pecinta yang berdasarkan rasa syukur. Semua yang dikerjakan para pecinta ini diniatkan hanya karena alasan mencintai Allah semata, dan karenanya ia ingin mendapatkan ridho-Nya. Mereka benar-benar yakin, Bahwa apapun yang dilakukannya karena dasar mencintai Allah dan RasulNya dengan ikhlas dan hanya mengharap ridhoNya tak akan mempengaruhi kasih sayang dan rahmat Allah yang luas pada mereka. Ia hanya yakin bahwa hanya Allahlah yang memang layak untuk disembah.

Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Walaupun sudah terjamin masuk surga, dan bahkan Allah menjanjikan kenikmatan langsung berjumpa dengan Sang Maha Rahman, namun beliau tetap saja melakukan ibadah. Beliau sama sekali tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai Muslim dan juga sebagai seorang Nabi bagi umatnya. Beliau berdoa, shalat, bangun di tengah malam tahajud, hingga kakinya bengkak. mendoakan para sahabat, memikirkan tentang umat.

Suatu ketika, Sayyidah Aisyah pernah bertanya mengapa dia shalat sunnah begitu banyak dan sering, padahal Rasul tahu bahwa Allah telah mengampuni masa lalu dan menjamin masa depannya di akhirat, Beliau menjawab, "Tidak pantaskah aku menjadi hamba yang bersyukur?"

Inilah yang dimaksud oleh Ibnu Atha'illah diatas, "Amal ibadah kita bukanlah alasan bagi keselamatan kita. Kasih dan sayang-Nya lah satu-satunya alasan mengapa kita mendapat keselamatan."

Dengan demikian rasanya sangat tak pantas jika seorang hamba meminta ganjaran dan reward atas amal yang diperbuat, karena amal yang diperbuat semuanya adalah karunia dari Allah yang memberikan kekuatan sehingga orang itu dapat beramal sholeh.  Allah menjanjikan bahwa rahmatNya  sebagian besar akan dilimpahkan nantinya diakhirat untuk semua hambanya yang beriman agar dapat memasuki surgaNya. Sabda Nabi :

Sesungguhnya rahmat Allah itu 100 bagian, 1 bagian diturunkan ke bumi, maka dengan 1 rahmat itu jin, manusia, binatang  dan serangga dapat berbelaskasihan dan sayang menyayangi sehingga burung dan binatang buas sayang pada anaknya, dan menunda yang 99 yang akan dituangkan pada hambaNya yang beriman pada hari kiamat” (HR Bukhari Muslim)

Secara faktual, jika diamati bahwa makna semuanya itu adalah merujuk pada sikap kehati-hatian terkait banyak manusia yang tergelincir karena amal sholeh melalui kecenderungan pamer dan sombong karena amal sholeh yang dilakukannya.

Wallahu A'lam.