Dianggap Perusak dan Pencatut, PBNU dan GP Ansor Ramai-ramai Tuding Abu Janda Begini

Dianggap Perusak dan Pencatut, PBNU dan GP Ansor Ramai-ramai Tuding Abu Janda Begini

Dianggap Perusak dan Pencatut, PBNU dan GP Ansor Ramai-ramai Tuding Abu Janda Begini



Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2010-2015 KH As’ad Said Ali menanggapi ulah Abu Janda yang kerap mengenakan atribut NU tetapi seringkali membuat gaduh di media sosial. 


Belakangan ini, Abu Janda menjadi ramai diperbincangkan lantaran mencuit ungkapan Islam adalah agama arogan dan pernyataan bernada rasisme yang ditujukan kepada Natalius Pigai. 


Kiai As'ad memerintahkan agar PBNU segera bertindak tegas terhadap Abu Janda.


Karena menurutnya Abu Janda sudah mencatut nama besar NU demi kepentingan pribadi.


Selain itu, pernyataan Abu Janda yang semakin ngaco hanya akan merusak keutuhan organisasi NU.


“Sebagai warga Nahdliyin, saya menyarankan sudah saatnya PBNU secara resmi bersikap tegas terhadap Abu Janda. Dia memanfaatkan nama besar NU untuk kepentingan pribadi, jangan dibiarkan karena akan merusak keutuhan NU,” kata Kiai As’ad, Sabtu (30/1). 


Sebagai Ketua Dewan Penasihat PP GP Ansor, beberapa waktu lalu Kiai As’ad sempat mempertanyakan mengenai Abu Janda kepada pimpinan Ansor. Hal itu dipertanyakan setelah Abu Janda selalu bicara ngawur tentang NU di saluran televisi.


“Kesimpulan saya dia penyusup ke dalam Ansor atau NU, sehingga perlu ditelusuri kenapa bisa ikut pendidikan kader Ansor atau Banser,” tegas Kiai As’ad.


Setelah dicek, ternyata tidak ada satu pun rekomendasi dari cabang atau wilayah Banser, sesuai dengan persyaratan untuk diterima sebagai peserta kaderisasi Ansor. Menurut Kiai As’ad, Abu Janda diterima atas rekomendasi seorang tokoh NU.


“Saya kira dengan pertimbangan prasangka baik dan tidak mengecek latar belakang siapa sebenarnya Abu Janda,” lanjutnya. 


Kiai As’ad juga menyatakan bahwa Pimpinan Banser telah menegur Abu Janda agar tidak bicara lagi tentang NU, atas nama Ansor. Selain itu, media-media mainstream diinfokan pula soal siapa Abu Janda itu.


“Persoalannya, dia (Abu Janda) sudah terlanjur pernah memakai seragam Banser di media dan publik menyangka dia bagian dari NU. Padahal fikrah dan akhlaknya bukan pengikut Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah),” tegas Kiai As’ad.


Kerusakan provokasi yang ditimbulkan akibat ulah Abu Janda di lingkungan NU selama ini cukup besar. 


Beberapa pondok pesantren, merasa terusik. Bahkan ada yang menjauhi struktur NU. Sebab hal-hal yang selalu disampaikan Abu Anda bertolak belakang dengan fikrah An-Nahdliyah.


“Saya mensinyalir ada Abu Janda-Abu Janda lain yang berpura pura membela NU melalui media sosial tetapi sesungguhnya musang berbulu domba,” terang Kiai As’ad. 


Respon GP Ansor


Sebelumnya, Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan PP GP Ansor Luqman Hakim telah menegaskan bahwa Abu Janda bukan pengurus Ansor. 


Meskipun demikian, status Abu Janda adalah anggota Banser karena telah mengikuti Diklatsar di Magelang, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu.


“Sebelum menjadi anggota Banser, Abu Janda sudah aktif di media sosial. Namun, aktivitasnya di media sosial bersifat personal, bukan mewakili sikap resmi organisasi,” tegas Luqman. 


“Terhadap cuitan Abu Janda tentang evolusi (diarahkan ke Natalius Pigai) dan Islam arogan (kepada Tengku Zulkarnaen), dianggap sebagian orang sebagai rasisme, biarlah para ahli dan otoritas hukum yang memutuskan kebenarannya,” ujar Luqman. 


Saat ini, katanya, sudah ada pihak yang melaporkan ke aparat kepolisian. Luqman meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada polisi untuk bekerja obyektif dan profesional, sehingga semuanya akan terang benderang.


“(Dan) bisa diselesaikan kesempatan Polisi bekerja obyektif dan profesional sehingga masalah ini akan terang benderang dan bisa diselesaikan dengan baik,” tutur Luqman.


Sebagai organisasi, lanjutnya, Luqman telah memberikan perintah kepada Pengurus Ranting Kelurahan Tebet agar meminta penjelasan Abu Janda terkait cuitannya yang menimbulkan kontroversi, sekaligus memberikan nasihat kepadanya.


Sejak tahun 2017, isu mengenai akun media sosial Abu Janda yang kerap mengatasnamakan NU itu ramai diperbincangkan, yakni akun Abu Janda NU dan halaman Ustad Abu Janda Al-Boliwudi. 


Tulisan-tulisan Abu Janda NU diikuti banyak orang. Namun, banyak pula akun-akun menentang bahkan memusuhinya sehingga terjadi perdebatan di kolom-kolom komentar.


Ketika itu, Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni almarhum menyatakan bahwa akun facebook ‘Abu Janda NU’ sama sekali tidak memiliki hubungan dengan GP Ansor dan Banser. Sebab Ansor dan Banser tidak berwatak demikian.  


Kasatkornas Banser juga sudah menugaskan kader untuk melacak siapa sebenarnya yang membuat akun tersebut. Namun demikian, seluruh jajaran Banser dan Ansor diimbau tidak mudah menerima informasi dan terpancing provokasi tidak jelas sumbernya.


Kasatkornas Banser juga sudah menugaskan kader untuk melacak siapa sebenarnya yang membuat akun tersebut. Namun demikian, seluruh jajaran Banser dan Ansor diimbau tidak mudah menerima informasi dan terpancing provokasi tidak jelas sumbernya.


“Baik itu narasi yang cenderung liberal, bahkan kepada yang radikal atau yang lebih sering ngamuk-ngamuk dengan kata-kata khasnya yaitu kafir, syiah, memecah belah umat Islam dan sebagainya,” kata Alfa.


“Dengan nama akun yang tidak jelas, kita mesti berhati-hati dengan akun model Abu Janda ini. Selain tidak jelas profilnya, kita masih meraba motif dan kepentingannya apa,” ujarnya. 


Diperlukan sikap yang selektif dan tidak gampang membagikan ulang postingan dari orang-orang model seperti Abu Janda itu, yang mungkin belakangan sudah banyak jumlahnya di media sosial. 


“Sesuatu yang baik itu jelas sumber dan motifnya. Banser tidak akan membiarkan siapa pun yang akan memecah belah NKRI dengan beragam cara. Di dunia nyata dan dunia maya (internet), Banser selalu ada untuk menjaga NKRI,” pungkasnya.


Next article Next Post
Previous article Previous Post