China Tuding Indonesia Jadi Biang Keladi Munculnya Klaster Baru Covid-19, WNI Disebut Jadi Pengimpor

China Tuding Indonesia Jadi Biang Keladi Munculnya Klaster Baru Covid-19, WNI Disebut Jadi Pengimpor

China Tuding Indonesia Jadi Biang Keladi Munculnya Klaster Baru Covid-19, WNI Disebut Jadi Pengimpor



China menuding Indonesia menjadi dalang munculnya klaster baru Covid-19 di Beijing.


Klaster baru Covid-19 di China mulai terlihat dalam seminggu terakhir.


Menurut laporan, setidaknya ada 16 kasus Covid-19 baru yang sebagian besar ditemukan di Distrik Shunyi.


Hal tersebut tampaknya membuat China was-was lantaran sebelumnya pada 23 Desember 2020, total terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 14 kasus lokal, satu kasus tanpa gejala, dan satu kasus impor.


Khawatir kasus Covid-19 semakin melonjak, akhirnya Beijing berlakukan kembali lockdown di 10 distrik sejak 29 Desember 2020.


Pemerintah setempat juga telah melakukan pembatalan acara besar seperti kegiatan olahraga atau pameran.


Tempat-tempat seperti bioskop, perpustakaan dan museum harus beroperasi dengan kapasitas 75 persen.


Masyarakat diminta tinggal di rumah dan diimbau tidak bepergian ke luar kota.


Sementara itu, China justru menyalahkan Indonesia karena kasus virus corona di negaranya melonjak.


Dikutip dari Global Times, Pang Xinghuo, Wakil Direktur Pusat Kota untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, mengumumkan hal itu pada konferensi pers yang digelar Rabu 30 Desember 2020.


Hasil analisis urutan genetik virus menunjukkan bahwa virus itu termasuk dalam genotipe-L dari cabang Eropa, yang memiliki kemiripan tinggi dengan strain virus yang ditemukan di Asia Tenggara pada November lalu.


"Kasus awal Covid-19, yang menyebabkan kumpulan infeksi di wilayah tersebut, diimpor dari Indonesia," ujar Pang.


Menurutnya, awal mula kasus ini dimulai dari seorang pria berusia 28 tahun yang memasuki Provinsi Fujian di China Timur pada akhir November dan kemudian melakukan perjalanan ke distrik Shunyi di Beijing.


Dilaporkan bahwa pria itu duduk di sebelah pasien yang dikonfirmasi dari Indonesia dalam penerbangan dari Indonesia ke Fujian.


Dia pergi ke Beijing pada 10 Desember setelah menyelesaikan karantina 14 hari di Fujian dan dinyatakan negatif setelah tes asam nukleat.


Dia kemudian dinyatakan positif dalam tes antibodi serum dan negatif dalam tes asam nukleat lainnya pada 26 Desember.


Sampel dari tempat tinggal dan tempat kerjanya dinyatakan positif virus corona dan pria itu dibawa ke Rumah Sakit Ditan Beijing.


Tes asam nukleatnya menjadi positif pada 28 Desember dan dia diidentifikasi sebagai silent spreader atau pasien tanpa gejala.


Pria itu kemudian menginfeksi teman sekamarnya dan kemudian menyebabkan infeksi pada pegawai supermarket dan sekelompok supir dan teman serta pekerja online yang memanggil mobil di kawasan industri Jinma melalui aktivitas kelompok.


Pang mencatat bahwa tidak ada bukti bahwa rangkaian infeksi ini terkait dengan kasus asimtomatik yang dilaporkan di distrik Xicheng Beijing dan kasus yang telah meninggalkan China menuju Korea Selatan.

Next article Next Post
Previous article Previous Post