INNALILLAHI, KH Hanif Muslih, Pengasuh Ponpes Futuhiyyah Mranggen Meninggal Dunia

INNALILLAHI, KH Hanif Muslih, Pengasuh Ponpes Futuhiyyah Mranggen Meninggal Dunia

 

INNALILLAHI, KH Hanif Muslih, Pengasuh Ponpes Futuhiyyah Mranggen Meninggal Dunia




Kabupaten Demak kembali kehilangan seorang tokoh agama.


Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Kyai Haji Hanif Muslih telah menghembuskan napas terakhirnya Kamis, (10/12/2020).


Putra terakhir ulama tersohor di Makkah, Syaikh Muslih al-Maraqi, yang akrab dipanggil Gus Hanif telah berpulang ke Rahmatullah pada pukul 13.50 (10/12).


Almarhum meninggal di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.


Seorang santri beliau, Syamsul menuturkan, almarhum sudah menderita sakit selama kurang lebih satu bulan.


"Keadaan parah sudah satu atau dua minggu ini," katanya.


Rencananya, almarhum akan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar Pesantren Futuhiyyah di kompleks Ponpes Futuhiyyah, Mranggen.


"Dimakamkan di Pemakaman Keluarga besar di Lingkungan PP Futuhiyyah Mranggen, insyaallah kalau tidak ada halangan nanti pukul 17.00 WIB," jelas Syamsul


"Di samping pamannya, KH Ahmad Muthohar," jelasnya.




Biografi KH Hanif Muslih


KH Hanif Muslih lahir pada bulan Desember 1955 di Mranggen, Demak. 


Beliau merupakan anak keempat dari sebelas bersaudara, dari pasangan KH. Muslih Abdurrahman dan Nyai. Hj. Marfu’ah.


Semasa hidupnya KH. Hanif Muslih belajar langsung kepada ayahnya, Syaikh Muslih Abdurrahman.


KH Muhammad Hanif Muslih ketika duduk di kelas tiga Madrasah Aliyah, ia diajak kakak iparnya, KH. Muhammad Ridwan untuk menunaikan ibadah haji, dengan naik kapal laut. 


Usai menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, beliau menerima surat dari sang ayah yang memerintahkannya untuk tetap tinggal dan menuntut ilmu di Tanah Suci. 


Namun karena waktu masa penerimaan murid baru baru saja usai, terpaksa beliau harus menunggu tahun ajaran baru berikutnya.


Selama hampir setahun itu ia menghabiskan waktu dengan bekerja sebagai sekretaris seorang syekh yang memiliki usaha pengelolaan haji di siang hari. 


Di rumah sang syekh itu pula beliau tinggal bersama beberapa kawan Indonesianya. 


Dan malam harinya, usai shalat maghrib, ia mengikuti pengajian Tafsir Ibnu Katsir di Babussalam, Masjidil Haram yang diasuh oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.


Tahun 1976 Hanif muda mendaftarkan diri di Universitas Islam Madinah dengan ijazah Madrasah Aliyah Futuhiyyah yang dikirimkan ayahnya. 


Namun sayangnya, almamaternya waktu itu belum mu’adalah (disetarakan) di Saudi. 


Karena itu ia harus mengulang sekolah lagi selama setahun di kelas tiga Madrasah Aliyyah Madinah. 


Baru pada tahun berikutnya, 1977, ia bisa masuk Universitas Islam Madinah.


Bersamaan dengan Hanif ada lima alumnus Pesantren Futuhiyyah lain yang diterima di Universitas Madinah. 


Kebetulan kelimanya juga berasal dari daerah Mranggen. 


Mereka pun lalu bersepakat akan mengambil jurusan yang berbeda-beda, agar saat kembali ke tanah air nanti akan bersama-sama memperkaya pesantren almamater dengan keilmuan yang beragam.


Dalam rembugan itu, Hanif sendiri kebagian tugas mengambil jurusan Bahasa Arab, yang terus digelutinya hingga meraih gelar Lc.


“Ternyata, setelah pulang ke tanah air, semua teman-teman saya diambil menantu oleh para kiai dari berbagai daerah. Tinggal saya saja yang masih tinggal di Mranggen,” kenang KH. Hanif sambil terkekeh.


Di Tanah suci, Gus Hanif juga sempat belajar kepada Syekh Yasin al-Fadani.


Setamat dari Universitas Islam Madinah, Gus Hanif ditugasi oleh KH Ridwan (kakak ipar, mertua KH Ali Makhsun yang sekarang menjadi wakil bupati Demak) untuk menjadi kepala (lurah) pondok Futuhiyyah. 


Pada saat pembukaan madrasah khusus santri putri di lingkungan Pesantren Futuhiyyah (MTs Futuhiyyah 2 dan MA Futuhiyyah 2), Gus Hanif ditunjuk menjadi Kepala Sekolah.


Di samping itu, ia juga mengajarkan kitab-kitab hadits seperti Jawahirul Bukhari, dan lain-lain kepada para santri di malam hari. 


Gus Hanif tercatat pernah terpilih menjadi wakil rakyat di Gedung DPR/MPR RI selama dua periode di era Gus Dur.


Beliau menikah dengan Nyai Fashihah, asal Kabupaten Kendal yang kala itu sedang nyantri di Jombang, Jawa Timur.


KH Hanif Muslih menikah pada Maret 1983 dan buah dari pernikahannya, dikaruniai empat anak.


Kami segenap redaksi Kabarmakkah.com ikut berdukacita atas wafatnya beliau, Semoga amal ibadah dan perjuangan beliau dalam berdakwah diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, Aamiin ya Robbal 'aalamiin.


اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْن


عظم الله اجركم  وأحسن الله عزاكم


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَس وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجٙةً خَيْرًا مِنْ زَوْجٙتِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثاَنَا


اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلِإسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلِإيْمَانِ


اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرٙهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

أَمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِينَ


لٙهُ الفاتِحٙة


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحمٰنِ الرَّحِيْم ۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمٰنِ الرَّحِيم ۞ مالِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليهم غَيْرِ المَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَ الضَّالِّين ۞

أمِين



Next article Next Post
Previous article Previous Post