Demi Bayar Cicilan Motor, Bocah 11 Tahun di Jaktim Jadi Tukang Parkir setelah Ayahnya Meninggal Dunia

Demi Bayar Cicilan Motor, Bocah 11 Tahun di Jaktim Jadi Tukang Parkir setelah Ayahnya Meninggal Dunia

 

Demi Bayar Cicilan Motor, Bocah 11 Tahun di Jaktim Jadi Tukang Parkir setelah Ayahnya Meninggal Dunia


Keluh kesah menjadi seorang sopir ojek online (ojol) kerap dibagikan melalui grup Facebook. Tapi, ada unggahan yang berbeda di grup ojol Jabodetabek pada Selasa (23/11). 


Akun bernama Rachyantobojez mengunggah foto seorang bocah laki-laki dengan sejumlah tumpukan uang. Akun itu menyebut bocah di foto itu bernama Gilang Sabil Ramadhan (11) yang bekerja sebagai tukang parkir. 


“Semenjak bapak saya yang kerja sebagai gojek online meninggal, sekarang saya yang menggantikan beliau mencari nafkah buat bantu keluarga. Alhamdulillah hari ini saya sudah bayar motor bapak. minta bantu doanya ya om dan tante,” tulis akun tersebut. 


Ibu dari anak tersebut, Dewi Agusrianti (36), membenarkan foto yang ada di unggahan merupakan anak sulungnya. Ia menggunakan akun milik bapaknya yang telah meninggal. Ayah Gilang, Rachyanto, meninggal 40 hari yang lalu karena penyakit jantung.  


“Sudah ikut [jaga parkir] sama bapaknya [sebelum meninggal], ganti-gantian, kalau bapaknya [narik jadi ojol] pagi, dia [Gilang] jaga, tapi kalau ramai, keduanya jaga,” ujar Dewi, Rabu (24/11).  


Sudah lebih dari sebulan, Gilang menggantikan pekerjaan bapaknya untuk menjaga parkir yang berada di Kawasan Pondok Kelapa Raya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Pekerjaan itu merupakan pesan dari ayahnya sebelum meninggal. Ia juga tak mengeluh dengan pekerjaan tersebut. 


“Senang lanjutin Bapak, Bapak [bilang] terusin parkiran, terus jangan ditinggal, jagain mama, jagain adek-adek, kalau capek Magrib istirahat, lanjut, salat Isya istirahat, lanjut sampai jam sembilan malam,” kata Gilang. 


Meski dengan beban tersebut, Dewi mengatakan, anaknya tetap bisa membagi waktu dengan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Kini, Gilang tengah duduk di bangku kelas 5 SD. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara.  


“Kalau masuk sekolah pagi, dia pulang sekolah, istirahat, jaga parkir, pulang, ngaji, gitu. Tadi gurunya dateng juga, khawatir, Gilang ada di berita [Facebook], alhamdulilah, minta doanya,” tambah Dewi. 


Ia mengatakan, Gilang memang suka membantu keluarganya. Sebelum ayahnya meninggal, ia kerap menjual makanan risoles keliling kompleks bersama dengan adik-adiknya. Ia tak malu untuk keluar masuk toko dan kantor.  


“Dia lebih baik tangan di atas daripada di bawah, enggak mau minta, enggak mau,” ujar Dewi.  


Sementara itu, keseharian Dewi adalah menjaga warung kopi miliknya. Uang dari penghasilannya biasa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, seperti membayar listrik dan biaya konsumsi. 


“[Gilang] sehari bisa ngumpulin gocap gocap (Rp 50 ribu), Rp 30 ribu paling kecil,” tambahnya.   


Dari penghasilan itu, Gilang bisa membayar cicilan sepeda motor yang digunakan ayahnya untuk bekerja sebagai ojek online. Meski begitu, masih ada 13 kali cicilan yang harus ia bayarkan.  


“Kemarin ada pengurangan dari Rp 1 juta menjadi Rp 700 ribu, masih ada 13 bulan lagi cicilannya,” kata Dewi 


Dewi tak menyangka, kisah anaknya itu menjadi bahan perbincangan masyarakat. Bahkan banyak pihak yang telah menghubungi untuk membantu. Ia mengatakan, Gilang mengunggah foto itu untuk memberikan semangat kepada sopir ojol lainnya.  


“Cuma iseng doang ngasih tahu, buat semangat anak ojol lainnya,” pungkas Dewi.

Next article Next Post
Previous article Previous Post