Sepuluh Tahun Jualan Kerupuk Keliling demi Hidupi 3 Anak dan Rawat Ayah yang Sakit, Ini Kisah Nyata

Sepuluh Tahun Jualan Kerupuk Keliling demi Hidupi 3 Anak dan Rawat Ayah yang Sakit, Ini Kisah Nyata

Sepuluh Tahun Jualan Kerupuk Keliling demi Hidupi 3 Anak dan Rawat Ayah yang Sakit, Ini Kisah Nyata


Hidup ini adalah perjuangan, Semua manusia harus berusaha demi dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mungkin itulah semboyan bagi seorang ibu bernama Indri Dyah Pangestuningtyas (43), warga Rusunawa Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini.

Demi menafkahi anaknya dan merawat orang tuanya, Indri yang menjadi tulang punggung keluarga itu menjual kerupuk nasi keliling. Usaha keras itu sudah dilakukan Indri sekitar 10 tahunan.

Menurut Indri, dia harus bekerja sendiri untuk mencukupi nafkah hidupnya beserta keluarganya setelah ditinggal suaminya meninggal dunia sejak anak-anaknya masih kecil.

"Suami saya meninggal dunia sejak Tahun 2007. Dari tahun itulah saya berusaha sendiri. Sebelum berjualan kerupuk saya juga pernah berjualan minyak oles," ungkap Indri seperti dilansir dari jatimnow.com, Senin (5/10/2020).

Indri mengaku, jualan kerupuk nasi keliling sudah dimulainya sejak Tahun 2010. Dia berdagang menggunakan sepeda angin setiap hari.

"Saya jual kerupuk nasi ini ke perkantoran pemerintah. Karena pegawai tidak harus keluar kantor untuk mencari camilan. Jadi saya setiap hari menawarkan ke kantor-kantor pemerintahan," ujarnya.

Ibu tiga anak ini menambahkan, kerupuk nasi yang dijualnya itu tidak dibuatnya sendiri, melainkan kulakan. Dia hanya mengambil keuntungan dari hasil penjualan.

"Yang produksi itu temen saya. Saya sistemnya membeli dengan harga lebih murah," jelas Indri.

Sepuluh Tahun Jualan Kerupuk Keliling demi Hidupi 3 Anak dan Rawat Ayah yang Sakit, Ini Kisah Nyata


Untuk satu renteng kerupuk nasi yang dijual, Indri mematok harga Rp 20 ribu. Dalam satu rentengnya dia mendapat keuntungan sebesar Rp 2 ribu.

"Sehari saya bisa mendapatkan keuntungan Rp 50 sampai 60 ribu," bebernya.

Indri menyebut, hasil keuntungan itu dipakai untuk membayar biaya pendidikan anaknya serta membeli obat untuk orang tuanya.

"Ayah saya saat ini sakit stroke. Saya harus mencari uang untuk pengobatannya," tegasnya.

Namun selama Pandemi Covid-19 seperti saat ini, Indri mengaku penjualan kerupuknya relatif menurun. Apalagi banyak perkantoran yang menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Sebelum ada Corona, saya bisa mendapatkan keuntungan rata-rata Rp 70 sampai 80 ribu dalam sehari," tutupnya.
Next article Next Post
Previous article Previous Post