Demi Bisa Mengabdi dan Nafkahi Anak Istri, Pria Ini Nekat Jadi Guru Honorer Sekaligus Pemulung

Demi Bisa Mengabdi dan Nafkahi Anak Istri, Pria Ini Nekat Jadi Guru Honorer Sekaligus Pemulung

Demi Bisa Mengabdi dan Nafkahi Anak Istri, Pria Ini Nekat Jadi Guru Honorer Sekaligus Pemulung



Kisah inspiratif datang dari seorang guru honorer yang juga berprofesi sebagai pemulung sampah. Bagi Dwi Haryadi, kedua pekerjaan tersebut merupakan bentuk mengabdi bagi orang sekitar.


Sejak masih duduk di bangku kuliah semester 2, Dwi tak pernah malu menjadi seorang pemulung. Semangatnya ialah rasa tulus membantu orang lain. Serta demi mencukupi kebutuhan hidup selama merantau di Malang, Jawa Timur. Sejak menerima gelar sarjana pada 2001, Dwi mengajar di SD Negeri Saptorenggo 3, Kecamatan Pakis.


Semangat Bekerja untuk Mengabdi


Setiap selesai salat Shubuh, Dwi Haryadi segera bersiap menuju tempat pembuangan sampah di dekat Velodorm Malang, Jawa Timur. Berkumpul bersama belasan tukang sampah.


Baru kemudian berkeliling ke kampung-kampung sesuai pembagian wilayah. Sekitar satu jam Dwi dan para rekan berjibaku dengan kotoran dan bau tak sedap dari sampah rumah tangga.


" Selain ngajar sih banyak sih pekerjaan saya. Contohnya mulai dari Shubuh bangun tidur, habis salat kemudian jadi tukang sampah. Ngambil sampah di kampung," kata Dwi.


Profesi sebagai pemulung sampah sudah dilakoni Dwi sejak masih kuliah di semester 2. Hal tersebut dilakukannya demi bisa melanjutkan pendidikan, serta memenuhi kebutuhan di tanah rantau.


Sejak sekitar tahun 90-an, Dwi merantau dari Probolinggo ke Kota Malang sendirian. Sosok yang tegar dan bersemangat begitu ditunjukkan oleh Dwi. Sembari mengajar bahasa Inggris di tempat lain, tak pernah malu dipandang rendah oleh orang lain.


Tetap Jadi Tukang Sampah Sampai Lulus


Alumni salah satu kampus pendidikan ini mengaku betah jadi pemulung, sehingga meneruskan profesi tersebut hingga bergelar sarjana. Sudah sekitar 23 tahun lamanya, Dwi mempertahankan profesi 'tukang sampah' disematkan padanya.


Sebagai bentuk mengabdi pada orang sekitar yang butuh dibersihkan sampahnya. Serta menghargai, proses kerja kerasnya semasa kuliah.


" Karena jadi tukang sampah ini juga saya bisa sampai lulus kuliah, jadinya saya teruskan sampai sekarang," ujar Dwi.


Langsung Mengajar Usai Menjual Sampah


Setiap pagi, seusai menjual hasil sampah daur ulang serta menjalankan tugasnya mengantar sampah dari pemukiman ke TPS, Dwi lanjut mengajar. Sejak 2001 dirinya resmi menjadi guru honorer di SD Negeri Saptorenggo 3, Pakis, Malang, Jawa Timur.


Sesuai dengan jurusannya selama kuliah, Dwi mengajar mata pelajaran bahasa Inggris. Namun sebagai seorang guru SD, dia juga dituntut untuk memahami dan mengajarkan pelajaran yang lain.


" Habis itu selesai ambil sampah di kampung. Langsung lanjut ke sekolahan, mengajar," papar Dwi.


Hebat betul Pak Dwi ini, pekerjaannya sungguh mulia. Yang satu bisa mencerdaskan bangsa, yang satu lagi bisa sambil membersihkan lingkungan. Semuanya pekerjaan mulia. Semangat terus Pak, semoga sehat selalu ya!


Next article Next Post
Previous article Previous Post