Nekat Jadi Kurir Ganja Demi Biaya Kelahiran Anak dan Ayah yang Sakit, Pria Ini Dituntut Hukuman Mati

Nekat Jadi Kurir Ganja Demi Biaya Kelahiran Anak dan Ayah yang Sakit, Pria Ini Dituntut Hukuman Mati

author photo
Nekat Jadi Kurir Ganja Demi Biaya Kelahiran Anak dan Ayah yang Sakit, Pria Ini Dituntut Hukuman Mati


Ruang sempit itu jadi saksi haru pertemuan pertama kalinya Pandapotan Rangkuti dengan bayi perempuannya yang belum diberi nama.

Sejak lahir empat bulan lalu, Dapot tidak pernah menatap wajah putrinya tersebut.

Kerinduan mendalam itulah yang membuat air mata Dapot tak terbendung.

Perasaannya campur aduk saat itu. Antara air mata dan senyum bahagia Dapot melihat tingkah lucu dan polos bayinya.

Dia terus mencium dan memeluk sembari mengumandangkan azan serta membacakan ayat-ayat Al Qur’an.

Bayi tersebut merupakan bungsu dari empat anak hasil pernikahan Dapot dengan Nurmina Nasution.

Jari mungilnya seolah menyambut kerinduan, dia memegang erat kaus usang nan lecek itu. Selama ini, bayi malang itu belum pernah melihat wajah ayahnya.

Hingga Senin (24/8/2020) kemarin, hampir 8 bulan sudah Dapot mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Salambue, Padangsidimpuan, Sumatera Utara.

Dia merupakan terdakwa kasus ganja seberat 250 kilogram. Bersama Adi Saputra Nasution alias Boja, Dapot dituntut hukuman mati oleh Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan karena keterlibatannya menjadi kurir pada persidangan Selasa (18/8/2020) lalu.

Sore itu, Dapot dan Boja baru saja menyampaikan pembelaan pada sidang pledoi yang digelar secara virtual.

“Saya bukan orang jahat, Pak. Saya tidak tahu di mana lagi dapat uang untuk istri, dia sudah partus (mau melahirkan),” kata Dapot saat berbincang usai sidang dengan nada terbata-bata.

Di ruangan ini, Dapot memeluk erat istri dan anaknya yang datang menjenguk dari daerah asal mereka, Kecamatan Panyabungan Timur, Mandailing Natal.

Jarak yang jauh serta keterbatasan biaya perjalanan membuat dia jarang dikunjungi keluarga. Jangankan ongkos, untuk makanan sehari-hari saja mereka membutuhkan uluran.

Di tengah perbicangan rindu, tiba-tiba tangisan kembali pecah. Pandangan Dapot sontak kosong ketika mengetahui bahwa ayahnya baru saja meninggal dunia karena sakit.

Duka kian menyelimuti. Dapot tidak bisa menatap wajah sang ayah untuk yang terakhir kali akibat terkurung di balik jeruji besi.

“Tapi kami tidak bilang Abang di penjara, jadi ayah tidak tahu. Kami bilang Abang merantau, tidak bisa pulang,” kata Nurmina menenangkan Dapot.

Dapot tak berhenti mendekap keluarganya, mencoba memanfaatkan waktu kunjungan yang terbatas.

Bagi dia, keluarga adalah segalanya. Namun hal itu juga yang membuatnya ceroboh sehingga berujung di penjara.

Cerita ini bermula saat terompet Tahun Baru 2020 baru saja berlalu. Kala itu, bayinya masih dalam kandungan Nurmina.

Dia akan melahirkan dalam waktu dekat. Sedangkan ayah Dapot saat itu tengah terbaring sakit.

Sama sekali tidak mengantongi uang, Dapot gelap mata. Kesehariannya cuma bekerja sebagai sopir angkutan lepas. Penghasilannya tak menentu. Berbagai upaya sudah dilakukan. Namun urung berhasil.

Di tengah situasi itu, Dapot bertemu dengan lelaki bernama Adek. Dari sinilah kisah tragis Dapot dimulai.

Adek yang melihat kesempatan langsung melancarkan aksi. Dia menawari Dapot uang Rp 10 juta dengan satu syarat, mengantar ganja.

Dengan pemikiran pendek, Dapot pun menyanggupi penawaran itu. Di tempat lain, seorang lelaki yang berusia lebih muda dari Dapot juga mengalami nasib hampir sama, yakni Adi alias Boja.

Boja sudah beberapa bulan menganggur setelah diberhentikan dari tenaga honorer Pemkab Mandailing Natal.

Hilangnya sumber penghasilan membuat keluarga Boja kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Saat itu, dia memiliki satu anak berusia sembilan bulan dari pernikahan dengan Nisah Lubis.

Kondisi seperti ini juga membuat Boja bertemu dengan Adek. Setelah berbincang, Boja menyanggupi permintaan mengantar ganja.

Sejauh itu, Dapot dan Boja belum saling mengenal. Mereka baru bertemu setelah Adek memberikan satu unit truk dengan nomor polisi B 1806 TYT yang nantinya digunakan mengangkut ganja.

Setelah menyerahkan truk, Adek memberi Dapot dan Boja uang transportasi senilai Rp 250 ribu. Sedangkan upah Rp 10 juta akan diserahkan setelah tugas mereka tuntas.

Selanjutnya, Adek memerintahkan Dapot dan Boja mendatangi seorang lelaki bernama Faisal.

Dari lelaki inilah ganja itu berasal, menurut pengakuan keduanya. Mereka kemudian menjemput ganja itu dari suatu perkampungan di Mandailing Natal.

Tak lama berselang, keduanya tiba di suatu perbukitan. Dari atas itulah sejumlah karung berisi ganja dijatuhkan tepat ke dalam bak truk.

Setelah ganja siap diangkut, Faisal memerintahkan Dapot dan Boja membawanya ke Padang Sidempuan, sekitar tiga jam perjalanan dari Mandailing Natal.

Faisal kemudian meminta Dapot menghubunginya sesampai di sana. Setelah itu, dia berjanji akan memberi nomor kontak orang yang akan menjemput. Namanya Roni.

Tanpa membuang waktu, Dapot dan Boja bergegas menuju Padang Sidempuan. Setibanya di lokasi, mereka langsung menghubungi Fasial dan meminta kontak yang dijanjikan.

Namun sial bagi dua lelaki tersebut. Alih-alih Roni, yang datang justru sejumlah petugas kepolisian. Kendaraan mereka dihentikan di suatu jalan sepi perbukitan pada Rabu (8/1/2020) malam.

Dari informasi yang dikutip dari laman Indozone.id (31/8), ganja seberat 250 kilogram itu disimpan dalam sejumlah karung dan diletakkan begitu saja di bak truk tanpa penutup.

Saat ditangkap, petugas kemudian memberi tembakan ke kaki Boja. Dia disebut hendak melawan, versi polisi. Beruntung bagi Boja tidak tewas saat itu. Jika tidak, maka dia tak bakal bisa melihat wajah polos putrinya seperti di ruangan ini.

Ketika pertemuan berlangsung, istri Boja tak henti-hentinya menutup mata dan mencoba menahan tangis. Namun dia tak kuasa membendungnya.

Tidak sampai situ, Boja juga terlihat harus berupaya keras mengingatkan putrinya yang sudah mulai asing dengan wajahnya. Hal itulah yang membuat dia awalnya enggan digendong.

“Saat itu dia (Boja) bilang ada kerjaan antar beras ke Padang Sidempuan, nanti gajinya bisa beli satu karung beras. Karena saat itu memang kami kesulitan uang,” tutur Nisah mengingat perkataan suaminya sembari menangis.

Kini, Boja dan Dapot terancam hukuman mati. Keduanya memeroleh tuntutan itu dari Jaksa Penuntut Umum Gabena Pohan dan M Zul Syafran Hasibuan. Sedangkan terduga pemilik ganja, Faisal, dan perantara, Adek, tak kunjung tertangkap.

Kuasa hukum kedua terdakwa, Sahor Bangun Ritonga, berharap hati nurani majelis hakim Pengadilan Negeri Padang Sidempuan yang diketuai Lucas Sahabat Nduha terketuk dan menjatuhkan hukuman yang seadil-adilnya.

Duh, ribet juga ini kalau udah urusan sama narkotika. Mudah-mudahan kasus ini juga cepat selesai dan mendapatkan hasil yang seadil-adilnya.
Next article Next Post
Previous article Previous Post