Gaji Tak Cukup Buat Kebutuhan, Guru Honorer Ini Banting Setir Jadi Petani Sayur, Omzetnya Bisa Rp 7 Juta Sebulan

Gaji Tak Cukup Buat Kebutuhan, Guru Honorer Ini Banting Setir Jadi Petani Sayur, Omzetnya Bisa Rp 7 Juta Sebulan

Gaji Tak Cukup Buat Kebutuhan, Guru Honorer Ini Banting Setir Jadi Petani Sayur, Omzetnya Bisa Rp 7 Juta Sebulan


Gaji Tak Cukup Buat Kebutuhan, Guru Honorer Ini Banting Setir Jadi Petani Sayur, Omzetnya Bisa Rp 10 Juta Sebulan.

Adalah Eduardus Edjo yang memutuskan untukl berhenti mengajar sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pria yang memiliki gelar sarjana pendidikan itu memilih menjadi petani.

Eduardus menetap di Desa Golo Kantar, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, sejak 2009.

Ia sempat mengajar sebagai guru honorer di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Borong pada 2009-2011.

Pada 2012-2015, ia mengajar di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Borong. Selama mengajar di dua sekolah itu, ia mendapatkan honor sebesar Rp 800.000.

Keputusan penting untuk membanting setir menjadi petani dan peternak diambil Eduardus pada 2015.

Keputusan itu diambil setelah melewati pertimbangan matang. Ia merasa tak bisa memberi kontribusi yang cukup kepada keluarga selama tujuh tahun mengajar.

Sebab, honor yang diberikan sekolah tak bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kita rasa waktu kuliah dulu orangtua sangat banyak keluarkan dana. Orangtua menghabiskan banyak uang. Kadang kita makan beras, orangtua makan dedaknya. Tetapi, kita begitu jadi sarjana, ya, gaji komite, sekitar Rp 300.000, Rp 500.000, dan Rp 800.000. Kita tidak bisa menjawab kebutuhan keluarga. Dunia terbalik," tuturnya seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (5/9/2020).

Bukannya membantu orangtua, Ia justru merasa menambah beban orangtuanya.

"Kita bukannya membalas jasa orangtua, malah membebankan mereka. Seharusnya setelah jadi sarjana, penghargaan lebih besar kepada orangtua,” katanya.

Mulai menanam


Eduardus mulai menanam sayur di kebunnya yang berada di sekitar Kali Wae Laku, Desa Golo Kantar, pada 2016. Ia juga memiliki kebun di dekat rumahnya di Jati Desa Golo Kantar.

Selain menanam sayur, ia juga menanam pepaya.

Ia juga mendampingi para petani di kampungnya. Ia merasa bermanfaat bagi orang lain.

Selama ini, tak ada pendamping yang memotivasi para petani. Tak ada orang yang memberi contoh bagaimana cara bertani yang baik.

Padahal, jika petani fokus dan tekun menanam dan menjual sayur, hasilnya cukup besar, bisa melebihi honor guru komite di sekolah.

“Jika fokus, penghasilan Rp 5 juta sampai Rp 6 juta dari sayur saja sebulan. Belum dari pepaya, bisa dapat Rp 2 juta sebulan. Jadinya, penghasilan dari kerja sayur sangat cukup menghidupkan keluarga. Saya bisa berpenghasilan Rp 7 juta sebulan dari sayur,” ujarnya.

Menurut dia, para pedagang sayur di Pasar Borong selama ini mendapatkan pasokan dari Ruteng dan Bajawa.

Bahkan, para pedagang juga mendapatkan pasokan buah dari Bima.

Padahal, Manggarai Timur memiliki lahan pertanian yang subur. Sebagian besar penduduk juga berprofesi sebagai petani.

“Bagaimana agar bisa menghentikan itu, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan praktik. Pemerintah Manggarai Timur harus aktif mengajak masyarakat untuk menanam sayur. Sehingga, sumber sayur dari kampung dan desa kita sendiri, bukan dari daerah lain,” kata dia.

“Saya petani sarjana, bukan sarjana pertanian,” sambungnya.

Eduardus telah lima bulan mendampingi petani di Desa Golo Kantar.

Ia pun tetap serius bertani agar diikuti sebagian besar masyarakat.

Sejak menjadi petani sayur, Eduardus mendapatkan dukungan dari istrinya. Mereka selalu berganti peran saat bekerja.

“Saya dan istri terpanggil mengelola tanah air dan mudah melakukan pekerjaan serta cepat menghasilkan uang dengan menanam dan menjual sayur. Setiap hari kami menjual buah dan sayur di depan rumah. Uang datang sendiri di rumah, kami tidak kejar uang,” ucapnya.

Eduardus menuturkan, sebelum pandemi Covid-19, sayur selada keriting yang ditanam di kebunnya dijual ke Labuan Bajo Rp 50.000 per kilogram. Ia mengirim sayuran itu menggunakan bus.

“Selama wabah corona, selada keriting itu dijual murah di Pasar Borong. Satu ikat dijual Rp 10.000, tetapi tiga ikat dijual Rp 20.000. Rp 10.000 untuk pelanggan. Itu pun mereka jual dulu baru bayar uang ke kami. Mereka jual dengan modal percaya,” pungkasnya.
Next article Next Post
Previous article Previous Post