Warga Katolik Pilih Pemimpin Umat Islam, Warga: Kami Pilih Pemimpin Desa Bukan Pemimpin Agama

Warga Katolik Pilih Pemimpin Umat Islam, Warga: Kami Pilih Pemimpin Desa Bukan Pemimpin Agama

Warga Katolik Pilih Pemimpin Umat Islam, Warga: Kami Pilih Pemimpin Desa Bukan Pemimpin Agama


Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang dianggap memiliki masyarakat dengan tingkat toleransi yang tinggi.

Keramahtamahan dan tingkat toleransi masyarakat Indonesia inilah yang mampu membuat masyarakat dunia terkagum-kagum.

Hal ini terbukti dari sebuah kisah nyata yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Ahmad Jabur seorang kepala desa beragama Islam yang memimpin masyarakat dengan agama mayoritas Katolik.

Ahmad Jabur menjadi seorang kepala desa di Desa Compang Ndejing, dirinya memberanikan diri untuk maju sebagai kades lantaran didorong oleh sejumlah pemuka agama.

"Saat itu saya tidak mau. Alasan saya, saya tidak mungkin terpilih, karena saya dari pihak minoritas. Selama itu memang isu agama dan SARA di akar rumput ramai dibincangkan. Ada yang bilang mengapa mesti yang minoritas pimpin mayoritas," ujarnya, Sabtu (22/8/2020).

Apa yang menarik dari Ahmad Jabur? 


Ahmad tidak setenar Ganjar atau Anies Baswedan. Ia tidak punya akun media sosial, apalagi tim media sosial yang membelanya di facebook atau twitter.

 Ia hanya orang desa yang mau mengabdi bagi kemajuan desanya.

Namun Ahmad terpilih setelah menyisihkan tiga calon lainnya yang beragama Katolik di desa yang mayoritas Katolik.

Hal yang membuatnya yakin untuk maju adalah dukungan dari kelompok berbasis gereja (KGB). Saat itu ada tujuh kelompok doa di Dusun Purang Mese kompak mengusulkan dirinya maju sebagai calon kepala desa.

Meski dirinya adalah kaum minoritas namun masyarakat di Dusun Purang Mese Kompas mengusulkan dirinya maju sebagai calon kepala desa.

Warga berpikir bahwa Jabur cocok untuk memimpin Desa Compang Ndejing. Karena dukungan tersebut, ia pun memenuhi persyaratan untuk maju menjadi kepala desa.

"Saya jadi termotivasi untuk maju. Saya pun meminta kepada panitia untuk meminta persyaratan. Setelah itu saya lengkapi berkas dan daftar," kata Ahmad.

Ia mengaku bahwa isu SARA sangat terasa sebelum pemilihan berlangsung.

Untuk diketahui, Desa Compang Ndejing terletak di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Desa ini didiami oleh 1878 jiwa, dengan populasi umat Islam sekitar lima belas kepala keluarga.

Populasi umat Muslim di Manggarai Timur sebesar 17.123 jiwa dari total populasi 252.744 jiwa. Secara keseluruhan, umat Islam di NTT berjumlah 9,88% dari total penduduk.

Data ini penting diungkap dan disampaikan untuk mengisi narasi kehidupan keagamaan di Indonesia.

Terlebih dengan maraknya penolakan terhadap calon pejabat publik karena suku dan agama yang dianutnya.

Juga terkait maraknya isu sektarian atau sentimen suku, agama dan ras yang dijadikan alat kekuasaan politik.
Next article Next Post
Previous article Previous Post