Jangan Mengira Bahwa Hartamu Itu Bisa Menambah Umurmu

Jangan Mengira Bahwa Hartamu Itu Bisa Menambah Umurmu

Jangan Mengira Bahwa Hartamu Itu Bisa Menambah Umurmu!


Harta itu adalah apa yang dimiliki dari hasil jerih payah yang dilakukan seseorang. Semua orang pasti tertarik dengan namanya harta, wanita, dan kedudukan (jabatan/ kekuasaan) sangat menarik untuk diperbincangkan, bahkan bisa membuat orang lupa segala-galanya.

Orang sering melakukan apa-pun, demi memperolehnya, walupun harus menyakiti orang lain dengan cara berbuat kedhaoliman, bahkan kadang sampai menyakiti, bahkan membunuh.

Padahal, semua tahu bahwa kelak semua harta dan anak-anak itu tidak ada gunaya, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).

Orang yang hatinya bersih, bukan berarti tidak suka harta benda, dan tidak suka wanita, bukan juga tidak suka jabatan, tetapi mereka menjadikan harta itu sebagai ladang untuk meraih kebahagiaan sejati yaitu surga Allah di akhirat. Dalam bahasa Arab sering kita dengar dengan istilah “dunia itu adalah ladang akhirat”, bukan diperbudak hartanya.

Tetapi realitanya, banyak sekali yang mengadaikan agamanya untuk kepentingan duniawi, dan lupa kebahagiaan ukhrawi di akhirat nanti.

Cuma karena harta, seringkali orang bertengkar tidak saling menyapa, bahkan kadang rela menumpahkan darah sesama muslim.

Karena harta pula, seorang wanita kadang merelakan keprawanan karenda duit. Karena harta pula, seorang ibu rela melakukan perbuatan nista, begitu juga seorang ayah ada yang menjual istri dan putrinya demi memenuhi kebutuhan harta.

Karena harta pula seorang pejabat rela mengeluarkan hartanya demi mendapatkan jabatan lebih tinggi dan memuaskannya.

Karena kebanyakan harta, seorang pejabat merogoh kocek untuk wanita panggilan demi memuaskan nafsunya.

Karena harta pula, seorang istri meninggalkan suaminya bekerja di luar negeri. Karena harta pula, orang bisa bahagia, karena hara pula semua menjadi menderita, karena harta pula dunia menjadi kelam, gelap dan gulita.

Beruntung sekali orang yang dikarunia harta benda, tetapi justru menjadikan hartanya semakin dekat dengan Allah. Dan celaka bagi orang yang tidak memiliki harta, justru semakin jauh dari Tuhannya, dan celaka juga bagi orang yang punya banyak harta, tetapi dia diperbudak hartanya.

Allah mewanti-wanti kepada hamba-Nya, bahwa harta itu tidak akan mampu memberikan kebahagiaan abadi, dan juga tidak menambah usia semakin panjang.

Jangan menyangka, jika hartamu semakin bertambah banyak, kemudian menambah usiamu. Manusia sering lupa, sehingga menganggap harta itu bisa membuat dirinya hebat dan panjang usianya. Karena itulah, setiap hari mati-matian mengumpulkan harta, lupa akan akhirat. Allah berfirman yang artinya:

"...Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya" (QS : Al-Humazah 2-3)

Nabi Muhammad dan Istrinya Sayyidah Khodijah merupakan orang kaya sejati, tetapi keduanya menggunakan hartanya itu untuk berjuang di jalan Allah. Tidak memperdulikan, berapa banyak harta yang dikeluarkan untuk berjuang di jalan Allah.

Setiap harta yang dikeluarkan untuk berjuang dan berdakwah di jalan Allah itu akan mengangkat derajat seseorang lebih mulia dan tinggi di sisi Allah.

Jika kita memiliki harta benda yang cukup, juga banyak ilmu dan pengetahuan, janganlah pelit, karena pelit itu sifatnya Syetan.

Sedangkan dermawan sifatnya Rasulullah, jadilah orang yang suka berbagi ilmu, berbagi materi, berbagi pengalaman, karena berbagi itu sifat mulya Rasulullah dan dicintai Allah.

Tidak ada orang yang lebih dermawan, melebihi kedermawanan Rasulullah


Rasulullah paling suka bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan, tetapi Rasulullah mengajarkan jika berbagi itu harus ikhlas, tanpa melihat suku, ras, bahkan Nabi tidak pernah memperdulikan agamanya. Jika membutuhkan, wajib di bantu dengan catatan Ikhlas karena Allah.

Imam Al-Ghozali pernah menyampaikan bahwa Ikhlas itu ialah, meninggalkan ikhlas dengan ikhlas, yang artinya

“Janganlah meminta imbalan (balasan) kepada Allah, terhadap apa yang telah kita berikan, karena Allah sudah mengerti kadar keikhlasan setiap hamba-Nya”.

Bukan berarti meminta imbalan itu tidak boleh, tetapi sangat disayangkan jika berbagi itu kemudian berubah menjadi transaksi dagang.

Bukankah Rasulullah itu mengajarkan tentang pentingnya niat yang tulus ikhlas tidak pamrih dalam beramal. Bukankah Ikhlas, itu posisi ibadah yang paling tinggi.

Niat itulah yang akan menentukan keikhlasan seseorang di dalam beribadah dan beramal karena Allah.

Sekali lagi, jika Allah memberikan kelebihan kepada kita, hendaknya kita menjadi orang yang dermawan seperti halnya Kanjeng Nabi Muhammad.

Sikap dermawan itu menjadikan orang dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, juga dengan surga, dan jauh dari neraka.

Begitu juga sebaliknya, pelit itu mendekatkan manusia pada Neraka, Syetan, jauh dari manusia, dan jauh pula dengan Allah.

Sikap pelit itu bisa juga merusak umur manusia, dan juga bisa menghilangkan keberkahan rezeki yang Allah berikana kepada kita. Seringkali orang pelit itu bisa kaya, tetapi realitasnya orang pelit itu semakin sulit dan rumit dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu kita renungi bersama, tatkala kita dilahirkan tidak membawa apapun, begitu juga tatkala kembali kepada Allah, juga tidak membawa apa-apa. Kecuali amal ibadah kita, sedekah, gagasan yang baik nan bermanfaat bagi umat.

Semua orang yang cintai harus ditinggalkan, harta yang dikumpulkan juga harus ditinggalkan, kecuali wakaf, sedekah jariyah, atau gagasan yang manfaat bagi umat yang bisa menemai dan menjadi bekal abadi selama dalam alam barzah.

Tatkala tidak ada yang bisa memberikan syafaat (pertolongan) di hari kiamat kelak, mereka tiba-tiba mendapatkan perlindungan. Ternyata perlindungan itu merupakan penjelmaan sedekah yang dikeluarkan setiap harinya.

Rasulullah bersabda: Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia” (HR Ahmad dan Hakim)

Beruntung sekali orang yang kaya raya, kemudian Allah berikan kepadanya tetangga dan kerabat yang kurang mampu, miskin, sehingga ia dapat berbagi rezeki kepada mereka.


Next article Next Post
Previous article Previous Post